fbpx

TETAP LESTARI, BERIKUT TRADISI KHAS BULAN SURO DI KOTA BLORA

lamporan di blora
Tradisi Lamporan di Kelurahan Kunden dilaksanakan setiap malam Jumat Legi pada bulan Suro

BLORANEWS – Bulan Suro tahun ini jatuh pada tanggal 30 Juli 2022. Menurut kepercayaan orang Jawa, Bulan Suro dianggap sebagai bulan yang sakral. Banyak sekali ritual metafisik yang dilakukan pada bulan ini. Ritual itupun dilakukan semata-mata dengan niat meminta kepada tuhan untuk dihindarkan dari segala bentuk mara bahaya.

Di Blora, berbagai ritual Bulan Suro juga tercatat masih lestari hingga kini. Apa saja itu, berikut bloranews sajikan rangkumannya.

  1. Tirakat Dhedher dan Ngrowot Sedulur Sikep

Bagi penganut laku sikep, Tirakat Dhedher dan Ngrowot merupakan ritual penting. Tirakat ini biasanya dilakukan sedulur sikep samin Karangpace Klopoduwur, Banjarejo pada bulan Suro. Bagi setiap orang dewasa ditekankan menjalani ritual ini setidaknya sekali seumur hidup. Tirakat Dhedher adalah ritual untuk tidak duduk atau menyandarkan bahu selama semalam suntuk. Laku dhedher dimulai pada saat tenggelamnya matahari sampai terbit matahari. Sedangkan laku Ngrowot adalah mengkhususkan diri untuk hanya memakan pala pendhem (umbi-umbian). Kedua laku ini dimaksudkan untuk menebus perjuangan kedua orang tua di masa kecil.

  1. Lamporan Suronan
BACA JUGA :  PUNGKASAN SURO DI BLORA : TRADISI LAMPORAN KUNDEN

Berikutnya ialah tradisi Lamporan Suronan. Tradisi ini merupakan ritual arak-arakan mengelilingi kampung diterangi obor. Iring-iringan terdiri atas pemeran Cah Angon (anak gembala) dengan Pecutnya (cemeti), Gendruwon (personifikasi dari Gendruwo/makhluk halus) dan Barongan. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh warga Kunden, Blora saat Bulan Suro.

  1. Ritual Bucu Kendit

Satu lagi ritual Bulan Suro di Blora yang masih lestari ialah ritual Bucu Kendit. Bucu Kendit merupakan ritual selametan turun temurun dari leluhur Jawa. Ritual ini dilakukan oleh warga Desa Janjang  pada malam satu suro selepas Sholat Magrib. Dimulai dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh sesepuh desa, diteruskan bancaan dan tukar ambeng (nasi makanan) sesama warga, dan ditutup dengan makan bersama-sama.

  1. Haul Waliyullah
BACA JUGA :  LEBIH DEKAT DENGAN TRADISI SEDEKAH BUMI RANDUGONG, DESA NGLENGKIR

Sepintas, mungkin ritual ini bakal dianggap biasa lantaran hampir semua daerah di Nusantara melakoninya. Namun yang membuat menarik ialah, banyak makam ulama di Blora yang di Haul-i tepat di Bulan Suro. Diantaranya, Haul Syekh Kenthiri Kawengan-Jepon, Haul Syekh Abdul Qohar Ngampelgading-Blora, Haul Syekh Abdurrohim-Blora serta Haul Syeh Abdulloh Faqih-Plumbon. Hal ini tentu menjadi ciri khas tersendiri bagi Kota Mustika.

BACA JUGA :  MANGANAN JANJANG SEDOT RIBUAN PENGUNJUNG

Redaksi.