fbpx

UNIK, DI BOYOLALI PEMUDIK YANG NEKAT PULANG KAMPUNG AKAN DIISOLASI DI RUMAH ANGKER

  • Bagikan
UNIK, DI BOYOLALI PEMUDIK YANG NEKAT PULANG KAMPUNG AKAN DIISOLASI DI RUMAH ANGKER
Desa Sidomulyo Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali.

Boyolali- Medheni, kata inilah yang muncul pertama kali dari mulut Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Pasalnya di Desa Sidomulyo Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali jika ada pemudik yang nekat pulang kampung akan diisolasi di rumah angker yang ada di sana.

 

UNIK, DI BOYOLALI PEMUDIK YANG NEKAT PULANG KAMPUNG AKAN DIISOLASI DI RUMAH ANGKER
Ganjar Pranowo di rumah karantina Desa Sidomulyo Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali.

 

Sontak hal ini membuat viral di media sosial, hingga akhirnya menarik perhatian banyak pihak. Tak terkecuali orang nomor satu di Jawa Tengah, Ganjar Pranowo disela kegiatannya mengecek penyekatan arus mudik di Salatiga.

“Katanya ada pemudik yang dikarantina? Sudah pulang to? Wah ini sih serem sekali, kalau siang bagus, tapi kalau malam medheni (menakutkan),” katanya.

Rumah karantina di Desa Sidomulyo tersebut memang menyeramkan. Bangunan kecil yang sebenarnya mushala kecil itu terletak di tengah hutan, dengan jarak lebih dari 300 meter dari pemukiman.

Dengan lokasinya yang dikelilingi rerimbunan semak dan pohon-pohon besar. Di depan bangunan itu, terdapat sendang tua yang dikelilingi pohon-pohon beringin. Cerita tentang sendang dan adanya petilasan di tempat itu, menambah mistis suasananya. Sejumlah batu-batu berukir seperti peninggalan candi membuat tempat itu dikeramatkan.

“Ini kalau malam gelap ndak. Kalau gelap, ndak bakal bisa tidur to,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sidomulyo, Moh Sawali mengaku, tempat isolasi tersebut sengaja disiapkan untuk karantina bagi pemudik yang nekat pulang tanpa membawa surat kelengkapan. Mereka yang tiba di desa, langsung dikarantina di tempat itu selama enam hari.

“Kemarin ada dua orang yang kami karantina. Kami munculkan ke media dan benar-benar menimbulkan efek jera,” bebernya.

Dirinya menambahkan, hampir setiap lebaran tak kurang 500 warganya yang mudik. Namun setelah ada larangan dan adanya karantina rumah angker, jumlah warganya yang mudik turun drastis hingga tak lebih dari 25 orang.

“Biasanya rame, ada 500 san orang. Sekarang tidak lebih dari 25. Jadi efek jeranya terasa. Disini memang tempatnya terkenal angker, wingit kalau masyarakat menyebutnya. Jadi kalau lewat saja sudah merinding,” terangnya.

Apa yang dilakukan Kepala Desa tersebut mendapatkan apresiasi dari Ganjar. Menurutnya hal tersebut bagian dari edukasi masyarakat untuk tidak mudik. Selain itu, juga bisa mengontrol masyarakat agar sehat dan tidak terjadi penyebaran virus covid-19 di desa.

“Jadi tujuannya tidak lain adalah untuk menjaga semua masyarakat agar tetap sehat. Sebenarnya saya ingin ngobrol sama yang dikarantina, pengen tahu perasannya. Tapi ternyata sudah enam hari dan pulang,” pungkasnya. (Jyk)

  • Bagikan