fbpx

BLORAPRENEUR : KISAH SUKSES PENGUSAHA KUE GAPIT DARI GEDANGDOWO

  • Bagikan
koe gapit
Foto : Sulagi Bermodalkan pengalaman di tahun 2010 memulai usaha roti gapit
koe gapit
Foto : Sulagi Bermodalkan pengalaman di tahun 2010 memulai usaha roti gapit

JEPON- Kue gapit merupakan kue tradisional yang terbuat dari bahan tepung tapioka, yang berdiameter kecil dan tebal. Kue gapit atau masyarakat menyebutnya roti gapit, memiliki tekstur renyah ketika dicicipi.

Penamaan gapit diambil dari cara pembuatannya, yaitu adonan kue yang sudah jadi digapit dengan dua lempeng besi diatas pembakaran. Hasilnya, adonan menjadi pipih dan kue pun menjadi kering ketika sudah matang.

Sulagi (27) merupakan salah satu dari pengusaha kue gapit di Blora. Usahanya ini berawal pada 2010 lalu, ketika ia bekerja di pabrik roti di Blora dan saat itu pula melihat prospeknya yang besar di Blora. Tetapi produknya tidak mencukupi permintaan dari masyarakat dan toko-toko.

“Saya dulu kerja di pabrik roti dan memasarkan produknya, ternyata di Blora banyak peminatnya. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat sendiri kue gapit dan mengundurkan diri dari pabrik” ujarnya.

Dengan bermodalkan pengalaman dan dana sebesar Rp. 3.000.000, dia memulai usaha roti gapit dirumahnya di Desa Gedangdowo RT. 03 RW. 03 Kecamatan Jepon, Blora. Alat yang digunakan diantaranya kompor, panggang pres, mixer, baskom dan bahannya antara lain tepung terigu, tepung pati, gula, margarin, santan, telur dan wijen.

Lagi, panggilan akrabnya, menyampaikan untuk dapat memproduksi roti gapit 30 Kilogram membutuhkan waktu 2 jam dalam sehari. Dalam pemasaran awalnya di distribusikan di toko-toko dan pasar di wilayah Kecamatan Jepon saja.

Saat ini dengan dibantu empat karyawan pemasarannya sudah mencapai wilayah blora kota sampai ke wilayah todanan. Dalam sehari omset bersih yang dihasilkan sekali produksi sekitar Rp. 200.000 sampai Rp. 800.000. Selain roti gapit, ia juga memproduksi eggroll dengan bahan yang hampir sama dan ditambah dengan susu dan telur.

Kendala yang dihadapi dalam usahanya adalah harga bahan yang sering naik sehingga ia harus berhitung kembali untuk memproduksi. Ia berharap dapat menambah modal untuk memperbesar produksi roti gapit dan eggroll. Untuk memperluas pemasaran ia juga melayani pesanan dirumah dengan menghubungi via handphone atau datang langsung.

Reporter          : Ismu Ngatono

Foto                 : Koleksi Facebook Sulagi

 

banner 120x500
  • Bagikan