fbpx

HAUL KI AGENG MANGGIR DIPADATI PEZIARAH LINTAS DAERAH

Haul Ki Ageng Manggir Todanan, Blora.

Todanan, BLORANEWS – Ribuan peziarah dari Blora maupun luar kota memadati lokasi Haul Mbah Abdullah Zarqoni di Dukuh Manggir, Desa Ngumbul, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora.

Haul Ke-3 Waliyullah yang identik dengan sebutan Ki Ageng Manggir itu digelar selama dua hari. Yakni sedari Sabtu (2/3/2024) hingga Minggu (3/3/2024) kemarin.

“Ini merupakan peringatan haul ketiga. Haul tahun ini yang berkunjung tidak hanya warga setempat, namun zairin-zairot ada yang datang dari Kudus, Pati, Grobogan bahkan ada yang dari Jakarta dan Pekanbaru Riau,” ucap Didik Susanto selaku Ketua Panitia, Selasa (5/3/2024).

Adapun puncak haul diisi dengan Pengajian Umum yang menghadirkan Pengasuh Ponpes Assalam-Ngampel, KH. Sochi sebagai pembicara.

Sebelum tausiyah dimulai, acara diawali dengan Manaqib pembukaan, Tahtimul Qur’an, hadroh, Tahlil Umum serta Lelang Luwur.

“Sebagai penutup kegiatan haul, malam harinya diadakan Manaqiban penutup dan hadroh dari santri Ponpes Darul Muna,” jelas Didik.

Sebagai informasi, Ki Ageng Manggir merupakan Waliyullah yang makamnya diyakini warga setempat berada di lereng Gunung Manggir.

Keyakinan itu pun bukan tanpa alasan. Berdasarkan informasi dari beberapa Kiyai, keberadaan makam tersebut benar adanya dan termasuk bagian dari fakta sejarah.

Seperti yang pernah disampaikan Alm. KH. Nasuha, Pengasuh Ponpes Darul Muna, Desa Klokah, Kecamatan Kunduran, Blora. Serta informasi dari KH. Bahrudin Habib, Pengasuh Ponpes Al-Hikmah Mantab, Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.

Tak cukup itu, keberadaan makam Ki Ageng Manggir juga sudah di tashih Habib Lutfhi bin Yahya pada 2021 lalu. Pada kesempatan itu, Habib Luthfi bercerita bahwa Ki Ageng Manggir merupakan Waliyullah yang berasal dari Mataram.

“Yang ngendikan (berbicara, red) Habib Luthfi. Beliau (Ki Ageng Manggir, red) dari Mataram, diperkirakan tinggal di lereng Manggir 300 tahun yang lalu beserta pendhereke (pengikutnya, red),” ucap Didik menegaskan.

“Nek kiwo tengen makame Mbah Zarqoni niku katah sawer, nek boten tiang kendel boten wantun manggen mriku. Sekitare niku situs-situs ojo diowah-owah. Masjide dibangun, sok nek wes dadi lagi makame sing dibangun. (Di kiri kanan makamnya Mbah Zarqoni itu banyak ular, Kalau bukan Orang berani tidak akan bertempat di situ. Sekitarnya itu situs-situs jangan diacak-acak. Masjidnya dibangun, besok kalau sudah jadi baru makamnya yang dibangun, red),” imbuh Abdul Muhid, salah satu pengurus yang ikut sowan ke kediaman Habib Luthfi. (Ipg)