MAS MARCO DARI CEPU (1890-1935) : PUTRA BLORA YANG TERBARING DI BOVEN-DIGOEL, PAPUA (BAGIAN 3)

Cepu (24.06.2016) Kritik tajam Marco terhadap lemahnya perjuangan pers pada masa pergerakan nasioal tidak hanya menjadi retorika belaka. Sepanjang tahun 1918 sampai dengan 1924 marco kerap menuliskan berbagai artikel yang membuat merah telinga pemerintah kolonial.

 

mas marco di kebumikan Boven-Digoel Papua

Boven-Digoel Papua menjadi tempat peristirahatan terakhir Marco Kartodikromo

 

Dua tahun pertama, yati tahun 1918 dan 1919 Marco menerbitkan tiga buku. Dua buku di tahun pertama adalah Student Hidjo dan Syair-syair Rempah. Tahun kedua, Marco menerbitkan novel berjudul Matahariah.

Novel Matahariah sendiri merupakan novel fiksi-historis yang menceritakan tentang Mata hari. Mata Hari adalah mata-mata dari negeri Belanda yang bertugas untuk mematai-matai situasi politik pemerintahan di negara-negara asia tenggara, termasuk Hindia-Belanda.

Pembelaan Marco kepada rakyat jelata tampak pada karyanya yang berjudul Sjairnja Sentot. Tulisan ini dibuatnya ketika dia menjadi kepala surat kabar Saroetamtomo, surat kabar yang disponsori oleh Serikat Kehutanan Wonotamtomo. Karena tulisan tersebut, sentot pun dikurung selama enam bulan.

Pada 1921, merapat dengan komunitas pers Salatiga, tidak lama kemudian Marco pun kembali dipenjara selama dua tahun. Pada 1924, Marco kembali menerbitkan dua novel dan satu drama panggung. Novel Boeah Kerojalan dan Rasa Merdeka (edisi bahasa Inggris : A Sense of Independence) dan drama panggung yang berjudul Kromo Bergerak.

Pada 1926, Marco dibuang oleh pemerintah kolonial ke Boven-Digoel, Papua atas tuduhan terlibat dalam pemberontakan PKI. Pada 18 Maret 1932, Marco pun menghembuskan nafas terakhir karena terserang penyakit malaria.

Sepanjang hidupnya, Marco menunjukkan nasionalismenya dengan selalu menggunakan bahasa melayu dalam tulisan-tulisannya. Gagasan utama dalam banyak karya marco adalah keteguhannya dalam menentang ide superioritas bangsa kulit putih dan perjuangan sosial untuk mewujudkan tatanan sosial yang ideal, masyarakat yang sama rata dan sama rata.

Editor    : AM. Fawaidy

Foto      : Ilustrasi Blora news

Sumber    : Jagat Wartawan Indonesia (Universe of Indonesian Journalist) oleh IN. Soebagjo. 1981. Gunung Agung Press : Jakarta

 

BACA JUGA :

MENGENAL MAS MARCO KARTODIKROMO DARI CEPU (1890-1935)

MAS MARCO DARI CEPU (1890-1935) : CATATAN DARI PENJARA SEORANG JURNALIS KIRI (BAGIAN 2)

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Comments are closed.