fbpx

NYANGKRUK’, BUDAYA NGOPI DI BLORA

  • Bagikan
Ilustrasi : Bloranews

Blora – Mungkin tidak banyak khalayak yang tahu, tanggal 1 Oktober selain diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila juga merupakan Hari Kopi Sedunia.

Yang menarik, selama ini budaya ‘nyangkruk’ atau nongkrong di warung kopi, khususnya di Blora sudah menjadi kebutuhan keseharian warganya. Mereka selalu terlihat asik nongkrong di warung-warung kopi seraya ngobrol ‘ngalor-ngidul’, dari anak muda hingga orang tua.

Seperti Amin Mahmud, pemuda asal Bogorejo ini suka cangkrukan di warung kopi karena memang kebiasaannya ngopi. “Enak, bisa kumpul sama teman-teman sambil ngopi,” ungkap Amin, salah satu pelanggan warung angkringan ‘Metro’ yang berada di Alun-alun Blora, Minggu (1/10/2017).

 

Ilustrasi : Bloranews

 

Menurutnya, untuk membuat fikiran menjadi segar di sela-sela kesibukan dengan ngopi sambil nongkrong dan mengobrol yang tak tentu arahnya. “Kumpul sama teman, bisa diskusi, tukar pendapat sambil ngopi dan makan gorengan,” kata pemuda 27 tahun ini.

Dari hal itu, tentu pemilik warung kopi harus memiliki pelayanan yang ekstra untuk para pelanggannya yang betah tak sekedar ngopi di warungnya. Sehingga pelanggan hingga berjam-jam dan bisa memesan lebih dari satu gelas.

Rahasianya, pemilik warung kopi dengan menyediakan wifi. “Selain ngopi, kalau ada wifi bisa browsing di internet ya kadang wifi-an, browsing, facebook-an,” tambahnya.

Keharusan itu, diakui pemilik warung kopi Metro, Amroni, dengan memasang Wifi para pelanggan bisa berselancar di dunia maya. “Kalau tidak ada wifinya pasti bisa sepi,” ujar dia.

Roni, sapaan Amroni, mengungkapkan para pelanggan setiap nyangkruk pasti dengan berbekal smartphone. Sehingga untuk melengkapi warung kopinya, dengan sejumlah fasilitas itu sudah menjadi keharusan.

Persaingan antar warung kopi tak bisa dilepaskan untuk merebut pelanggan di Blora yang sangat ketat. Sebab, ada puluhan bahkan ratusan warung kopi yang berjajar dan tersebar di Kota Sate ini.

Lebih lanjut, Roni menjelaskan budaya nyangkruk warga Blora di warung kopi ini menjadi peluang bisnis yang dilirik. “Buktinya yang buka warung kopi semakin banyak,” bebernya.

Ia mengaku dalam sehari mampu menghabiskan 1-2 kilogram bubuk kopi. “Hari biasa bisa habis dua kilogram bubuk kopi semalam, sekilonya dapat kisaran 60 gelas. Kalau malam minggu atau ada acara bisa 2 sampai 4 kali lipat,” terang pemuda yang melayani jual beli smartphone ini.

Sementara untuk harga secangkir kopi Rp 2.000, yang bisa dilihat penghasilan kotor yakni Rp 1 juta rupiah ribu per hari. “Sangat amat murah pokoknya. Hasil itu sudah termasuk kopi susu, es dan lainnya. Sehari bisa lebih dari 100 orang yang datang, apalagi kalau ada acara disini,” tutupnya.

Reporter : Ngatono (*)

  • Bagikan