TAK HANYA DBD, DIARE DAN LEPTOSPIROSIS SIAP MENYERANG DI MUSIM HUJAN

Blora- Hingga akhir Januari ini, tercatat sebanyak 75 kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Blora. Data dari Dinas Kesehatan Jateng menyebutkan, sebanyak 12 nyawa melayang akibat serangan penyakit mematikan ini.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Blora, Lilik Hernanto menghimbau warga mewaspadai serangan DBD di musim penghujan ini. Selain itu, dua penyakit lainnya, yakni diare dan leptospirosis juga berpotensi dinilai cukup berbahaya.

 

Ilustrasi Leptospirosis

Ilustrasi Leptospirosis

 

“Tercatat, hingga akhir Januari ini ada 75 kejadian DBD. Memang kalau musim hujan ‘kan banyak air tergenang. Sanitasi yang tidak sehat dapat memicu berkembangnya penyakit-penyakit seperti DBD, diare dan leptospirosis,” terang Lilik, Kamis (31/01).

Lebih lanjut, Lilik menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk mencegah berkembangnya diare dan leptospirosis. Penyebaran diare bisa dipicu dari kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS).

“Sedangkan Leptospirosis ditularkan melalui kencing tikus yang tercemar dengan kuman leptospira. Masuknya melalui kulit, biasanya kulit kaki yang tidak beralas dan ada lukanya. Untuk jumlah penderita DBD dan Leptospirosis di Blora, saya belum mengeceknya lagi,” pungkasnya.

Peta Serangan DBD di Jateng

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yulianto Prabowo menyebut jumlah kasus di Jawa Tengah hingga akhir Januari mencapai 1.204 kejadian dan telah menyebabkan 12 korban meninggal dunia.

Terdiri atas Kabupaten Sragen 200 kejadian, Grobogan 150 kejadian, Pati 87 kejadian, Jepara 78 kejadian, Blora 75 kejadian, Purbalingga 76 kejadian, Cilacap 71 kejadian dan Boyolali 51 kejadian serta kabupaten lain di bawah angka 50 kejadian.

Karena itu, pihaknya meminta agar masyarakat lebih meningkatkan kewaspadaan dan detail dalam melakukan pemberantasan sarang nyamuk yang menjadi tempat berkembang nyamuk Aedes Aegypti.

Jika menemukan gejala awal penyakit ini, warga juga diminta untuk langsung membawanya ke dokter atau rumah sakit terdekat. Pasalnya, tidak semua gejala DBD dapat dideteksi bahkan di laboratorium.

“Apalagi gejala penyakit DBD ini memang kerap mengecoh dokter dan orangtua. Bahkan tidak semua DBD itu bisa dideteksi di laboratorium, ” ucap Yulianto. (mus)

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan