fbpx

TAK TERAWAT, SPESIES LANGKA DI BLORA TERANCAM PUNAH

Burung Kasuari di Tirtonadi Blora.

Blora, BLORANEWS – Seekor burung kasuari yang ada di kawasan Taman Tirtonadi Blora tidak mendapat perawatan dengan baik. Pasalnya status satwa langka itu bukan milik Pemkab Blora melainkan milik perseorangan.

Berdasarkan tinjauan Bloranews.com, spesies langka yang berasal dari hutan tropis Australia dan Asia Tenggara itu terancam punah. Kondisinya memprihatinkan lantaran tidak mendapat perawatan yang layak, baik dari makanan, kandang hingga perawatan fisik.

Terlihat, hewan berkaki dua itu berbulu hitam, memiliki paruh tajam, berkepala biru, lehernya berwarna merah dan kuning, sementara jambulnya yang mendongak ke atas sedikit rusak.

Hewan yang dilindungi itu hidup dalam satu kandang dengan 2 ekor rusa.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kepemudaan, Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Blora Yeti Romdonah mengatakan, hewan kasuari dan 2 rusa dalam waktu dekat akan diambil Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jateng.

“Kedua hewan itu (kasuari dan rusa) adalah spesies hewan yang dilindungi. Beberapa waktu lalu ada tim dari BKSDA Jateng yang meninjau kondisi kandang hewan yang ada di Tirtonadi dan menyarankan untuk diambil,” ucapnya saat ditemui di Kantor Dinporabudpar Blora, Kamis (29/2/2024).

Pihaknya juga telah bersurat kepada Bupati Blora Arief Rohman terkait hewan yang ada di Taman Tirtonadi akan diambil oleh balai kelestarian Jawa Tengah untuk dirawat dengan layak. Dengan harapan mendapat perawatan dengan baik karena sangat memprihatinkan.

“Karena kedua hewan itu bukan aset pemkab tapi milik (mantan) Bupati Blora Djoko Nugroho yang dikasih orang. Kemudian, di Tirtonadi diberikan tempat dan secara kepemilikan bukan aset Dinporabudpar,” jelasnya.

Pemkab dalam hal ini tidak bisa merawat atau memberi makan. Sebab milik perseorangan, sehingga tidak ada alokasi anggaran untuk itu. Ketika disarankan oleh pihak BKSDA Jateng untuk dipindah itu pihaknya tidak bisa mengiyakan, sebab milik pribadi. Terkecuali dari bupati terdahulu menyerahkan secara pribadi ke Pemkab Blora.

“Dikarenakan hewan itu spesies hampir punah ya harus ada SOP dan perizinan yang lengkap. Diantaranya harus ada tim perawatan, bentuk kandang, dokter hewan khusus dan petugas hewan langka khusus burung kasuari,” jelasnya.

Yeti mengungkapkan, untuk usaha Pemkab Blora dalam mengambil alih burung kasuari menjadi aset pemkab itu cukup susah. Karena hewan itu termasuk langka dan dilindungi.

“Selama hewan kasuari dan rusa itu di Taman Tirtonadi saja dalam memberi makan saja tidak ada anggaran. Karena bukan aset daerah yang ada anggaran untuk merawat. Selama ini, anggaran untuk memberi makan hewan itu saja kami sisipkan sedikit anggaran untuk hewan bisa hidup,” tuturnya.

Ketika nanti hewan kasuari dan rusa itu sudah tidak ada, pihaknya ingin masyarakat tidak berpikiran buruk kepada Dinporabudpar. Sebab, bukan kewenangan pemkab untuk menjaga dan merawat hewan yang spesiesnya hampir punah.

“Kami belum menginformasikan ini kepada masyarakat, namun sudah mengirimkan nota dinas yang disarankan oleh BKSDA Jateng. Takutnya masyarakat menganggap hewan itu mati dan disita oleh dinas. Jadi, biar hewan itu dapat perawatan dan tempat yang layak dari BKSDA Jateng,” jelasnya. (Jam)