fbpx

ABU MUNDZIR : SAYA PERNAH DIBAI’AT KELOMPOK TERORIS !

  • Bagikan
Abu Mundzir Al Ghifari dalam forum Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Resto d’ Joglo, Selasa (17/07).

Blora – Paham radikalisme kerap kali menyasar golongan pemuda. Kurangnya pengetahuan agama, merupakan salah satu jalan berkembangnya paham yang membenarkan tindak kekerasan kepada golongan yang berbeda ini.

Mantan penganut paham terorisme dari Cepu, Abu Mundzir al Ghifari menceritakan kisahnya saat menjadi penganut paham radikal belasan tahun silam. Sejak 1992, pria ini telah terlibat dalam kelompok pelaku aksi teror, bahkan ia pernah dibai’at (disumpah setia).

Abu Mundzir Al Ghifari ( peci putih ) dalam forum Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Resto d’ Joglo, Selasa (17/07).

 

“Saya menjadi narasumber, karena sejak 1992 saya terlibat dengan kelompok-kelompok itu (teroris dan radikalis),” ungkapnya di forum Pencegahan Radikalisme dan Terorism di Resto d’ Joglo Blora, Selasa (17/07).

Tak hanya masuk sebagai penggembira, Abu Mundzir juga dibai’at menjadi anggota kelompok tersebut. Selama bergabung, Abu Mundzir mengalami cuci otak yang luar biasa. Salah satunya adalah tentang ajaran yang membenarkan tindak kekerasan.

“Dalam paham terorisme, membunuh orang kafir itu dihalalkan. Saya gagal berangkat ke Bosnia, karena dinilai belum mendalami ajaran tersebut,” lanjutnya.

Setelah meninggalkan paham ini, Abu Mundzir segera memusnahkan buku petunjuk jihad yang dimilikinya. Pria ini khawatir, buku tersebut akan dibaca anak-anaknya.

“Buku petunjuk jihad yang saya punya, sudah saya musnahkan, saya bakar. Sayatakut nanti dibaca anak-anak saya. Paham radikal, tidak hanya dari segi agama saja, banyak hal yang menjadi pemicu aksi terordan pemahaman radikal,” ujarnya.

Menutup paparannya, Abu Mundzirmenekankan bahwa Islam merupakan agama perdamaian. Ia juga mengingatkan agarmasyarakat mencegah berkembangnya paham ini dengan memperhatikan keluarga dan lingkungan terdekat.

“Awasi keluarga dan anak-anak kita dari pergaulan yang bisa menjerumuskan (menuju paham radikal –red). Jangan ngaji dari medsos tanpa didampingi guru . Jangan kita salahkan Islam, Islam itu Rahmatan Lil Alamin,” pungkasnya.

 

Reporter : Imanan

  • Bagikan