fbpx

PUNCAK PENCU : MENATAP FAJAR DARI PUNCAK TIGA KOTA

  • Bagikan

Gayam (16/01/2016) Pernahkah anda membayangkan menikmati pagi ditemani secangkir kopi panas dengan pemandangan tiga panorama kota sekaligus ? Jika ya, anda perlu berkunjung ke puncak Pencu. Terletak di utara desa Gayam Kecamatan Bogorejo Kabupaten Blora, Puncak Pencu gagah berdiri memisahkan tiga kota yang mengelilinginya, Blora, Tuban dan Rembang. Hutan Jati dengan dedaunan yang rimbun menyelimuti Puncak Pencu dengan simfoni suara beburungan liar menemani langkah anda menaklukkan salah satu puncak tertinggi di Blora ini.

Menuju ke Puncak Pencu membutuhkan waktu satu setengah jam dari alun – alun Blora. Dengan kendaraan yang dipacu dengan kecepatan sedang, waktu satu setengah jam perjalanan akan terasa pendek. Perhentian pertama anda adalah pertigaan Gayam dengan papan informasi yang menunjukkan arah pendakian Puncak Pencu. Anda dapat mencapai puncak dengan menggunakan kendaraan anda, tapi disarankan untuk memarkirkan kendaraan anda dan mendaki dengan jalan kaki. Banyak pemandangan menarik yang anda saksikan dengan menikmati langkah – langkah pendakian yang mungkin anda lewatkan jika menggunakan kendaraan.

panorama puncak pencu sore hari
Panorama puncak pencu saat matahari terbenam

Dalam pendakian, anda akan menjumpai truk – truk dengan bak yang penuh dengan batu kapur. Kekayaan alam kecamatan Bogorejo berupa batu kapur dimanfaatkan oleh masyarakat untuk dijual keluar daerah. Para pengendara truk yang ramah biasanya menawarkan tumpangan untuk para pendaki, sebuah keramahan khas Blora yang mungkin sulit anda jumpai dewasa ini. Tidak hanya masyarakat Bogorejo, berlimpahnya batu kapur di daerah ini juga menjadi berkat bagi warga tiga kota. Batu kapur merupakan bahan bakun untuk pembuatan bahan bangunan serta kapur tulis.

pencu sore hari
Suasana saat sunrise di pencu

Lintasan pendakian menuju Puncak Pencu tidak terlalu terjal, pepohonan Jati yang hijau memanjakan mata para pendaki. Rimbunnya hutan Jati melindungi anda dari sengatan matahari. Batang pohon yang kokoh menyiratkan pesan bahwa kita tidak boleh menebang pohon dengan sembarangan. Dinaungi pohon – pohon menjulang ini, terdapat banyak flora hutan yang mungkin sulit anda jumpai di Kota. Perhutani, sebagai pengelola wilayah hutan ini benar – benar menjaga kelestarian hutan ini dengan baik.

Suara burung bersahutan menyambut anda di lereng Puncak Pencu. Dengan ramah burung Kutilang, Perenjak dan Trucukan menemani langkah pendakian anda. Selain bersiul bersahut – sahutan, beburungan ini juga sesekali terbang melewati para pendaki. Satwa – satwa pemanjat seperti tupai, monyet hutan dan bajing berloncatan diantara dahan pohon. Sebuah teater yang indah dengan simfoni yang memanjakan telinga.

Menuju Puncak, terdapat banyak lokasi penambangan batu kapur. Penambangan ini dikelola dikelola oleh banyak pihak. Banyak yang dikelola warga desa Gayam, banyak juga yang dikelola oleh pengusaha tambang dari luar Kabupaten Blora. Kebutuhan hasil olahan batu kapur yang semakin tinggi membuat pemerintah harus waspada terhadap kelangsungan ekosistem di wilayah Puncak Pencu. Sejauh pelaksanaan kegiatan pertambangan tidak merusak ekosistem dan tidak melanggar hukum, keberadaan penambangan batu kapur menjadi berkah bagi para pengusaha dan warga desa Gayam.

kera pencu
Kera salah satu hewan yang masih banyak berkeliaran di puncak pencu

Sampai di Puncak Pencu, anda dapat melihat panorama tiga kota sekaligus, kabupaten Blora, Kabupaten Rembang dan Kabupaten Tuban. Di atas sana anda tidak sendirian, puluhan bahkan ratusan pendaki dari berbagai kota menikmati pemandangan itu. Para pendaki ini tidak hanya dari Blora, melainkan dari kota tetangga bahkan dari banyak provinsi di Indonesia.

Banyaknya wisatawan dan pendaki dari berbagai kota ini menjadi berkah bagi Rohmat ( 27 ) warga desa Gayam. Petugas parkir ini memperoleh penghasilan dari usaha menjaga kendaraan pengunjung. Kepada reporter Bloranews.com Rohmat bercerita bahwa setiap harinya dia mendapatkan kepercayaan untuk mengamankan kurang lebih dua ratus kendaraan roda dua. Dengan asumsi biaya parkir tiap kendaraan roda dua adalah dua ribu rupiah saja, Rohmat bisa mengantongi empat ratus ribu rupiah tiap harinya. Tentu saja, tidak semua perolehan pendapatan prakir dia nikmati, Rohmat harus berbagi dengan beberapa teman pengusaha jasa petugas parkir kendaraan.

wisatawan di puncak pencu
Jalur pendakian puncak pencu

Lain lagi dengan cerita Tamsir ( 34 ) pedagang makanan kecil ini lebih menyukai jika ada pendaki atau wisatawan yang betanya tentang Puncak Pencu tempo dulu. Kepada reporter Bloranews.com, Tamsir bercerita bahwa Puncak Pencu pada masa lalu adalah sebuah pertapaan. Para petinggi kabupaten Blora pada jaman dulu kerap mengheningkan cipta di tempat itu. Selain para petinggi Kabupaten Blora pada jaman dulu, banyak begawan atau orang suci yang melaukan semedi. Tak heran, aura keagungan dan aura keramat masih terasa di jaman modern ini.

Puncak Pencu merupakan pusaka wisata bagi masyarakat Blora. Menjaga kelestarian alam di wilayah wisata Puncak Pencu menjadi kewajiban warga, para pengunjung dan pemerintah daerah. Membawa kembali sampah – sampah plastik akan sangat membantu kelestarian dan keindahan Puncak Pencu. Bukankah jika kita mencintai alam, alam akan membalas cinta kita ?

Reporter          : Aliph Bengkong

Fotografer       : Subkhan

 

banner 120x500
  • Bagikan