fbpx

WADUK GRENENG : PENAMPUNG AIR PERTANIAN RAKYAT TIGA ZAMAN

  • Bagikan
Waduk Greneng
Papan nama Waduk Greneng

Tunjungan ( 12/03/2016 ) Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menjajah tanah air kita untuk waktu yang sangat lama. Selama masa penjajahan Pemerintah Kolonial tidak hanya mengeksploitasi rakyat tetapi juga kekayaan tambang dan hasil alam. Dari banyak literatur sejarah dapat disimpulkan bahwa masa penjajahan Pemerintah Kolonial merupakan masa – masa gelap bagi sebagian besar pribumi nusantara.

Demi kelancaran kegiatan eksploitasi, Pemerintah Kolonial membangun berbagai sarana – sarana pendukung yang dikelola oleh masyarakat pribumi sebagai pekerja kasar. Untuk kegiatan transportasi, Pemerintah Kolonial membangun stasiun – stasiun kereta api. Saat ini anda dapat menjumpai stasiun – stasiun kereta api peninggalan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda di jalur selatan Kabupaten Blora( Kecamatan Jati, Kecamatan Randublatung, Kecamatan Kedungtuban dan Kecamatan Cepu ).

Bidang lain yang dieksploitasi oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda adalah pertanian palawija rakyat. Pembangunan infrastuktur penunjang untuk eksploitasi di sektor ini adalah pembangunan saluran – saluran irigasi dan penampung – penampung air di banyak tempat di Kabupaten Blora. Salah satu peninggalan pemerintah Kolonial Hindia Belanda Waduk Greneng di desa Tunjungan Kecamatan Tunjungan. Sejak jaman pemerintah Kolonial Hindia – Belanda sampai saat ini merupakan waduk penampungan air pertanian masyarakat.

Waduk Greneng
Papan nama Waduk Greneng

 

Waduk Greneng yang terletak di desa Tujungan Kecamatan Tunjungan ini dapat ditempuh dengan mudah dari pusat kota Blora dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat. Rute paling nyaman adalah dari pusat kota Blora meluncur ke arah barat ( jalan Jendral Gatot Subroto ) sampai perempatan Maguwan, kemudian belok kanan. Setelah melaju sekitar satu setengah kilometer, anda akan sampai di pertigaan yang menuju Waduk Greneng, ambil kanan sekitar tiga ratus meter dan anda sampai di waduk peninggalan pemerintah Kolonial Hindia Belanda tersebut.

Dibangun pada tahun 1919, Waduk Greneng menjadi pilar penyangga kebutuhan air pertanian bagi masyarakat Blora yang tinggal di Kecamatan Tunjungan selama tiga zaman. Zaman pemerintah Kolonial Hindia Belanda ( 1919 – 1942 ) Zaman Pemerintahan Jepang / Dai Nippon ( 1942 – 1945 ) dan Zaman Pemerintah Republik Indonesia ( 1945 – sekarang )

luas waduk Greneng
Area waduk Greneng

 

Saat ini Waduk Greneng dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana dibawah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Di Kabupaten Blora, Waduk Greneng merupakan waduk terbesar kedua setelah Waduk Tempuran. Waduk Greneng dibangun pada area seluas 4,5 hektar dan Waduk Tempuran dibangun pada area seluas 4,6 hektar. Sekalipun merupakan waduk terbesar kedua di Kabupaten Blora tetapi pesona keindahan alam Waduk Greneng memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Blora.

Selain menjadi sandaran kebutuhan air pertanian bagi 291 hektar lahan pertanian di sekitar waduk, keberadaan penampungan air peninggalan pemerintah Kolonial Hindia Belanda ini juga menjadi sarana rekreasi dan wisata air. Bagi para penggemar aktivitas memancing, melempar joran di Waduk Greneng dapat menjadi kegiatan mingguan yang sangat menyenangkan. Tidak hanya di tanggul tepi waduk, para pemancing juga dapat melempar joran di tengah waduk dengan perahu yang disewakan untuk itu.

pertanian waduk greneng
Pertanian di sekitar waduk Greneng

 

Abdul Rokhim ( 26 ) warga desa Sukorejo biasa menikmati hari minggu dengan memancing di tanggul tepi waduk. Baginya, memancing bukan hanya soal mendapatkan ikan lebih dari itu memancing merupakan cara me – recharge staminanya setelah enam hari bekerja sebagai tukang sebuah perusahaan meubel.

“ Mancing buat saya adalah cara me – refresh setelah seminggu beraktivitas. Dengan memancing di Waduk ini saya akan bertemu orang – orang baru, kenalan baru. Mendapatkan ikan atau tidak, bukan persoalan. Ini adalah rekreasi mingguan saya “ ujar Rokhim.

Waduk Greneng setiap tahunnya selalu dilakukan perbaikan. Lampu – lampu waduk yang berjajar rapi dan papan – papan informasi memudahkan pengunjung untuk mengetahui aturan – aturan standar di waduk penginggalan pemerintah Kolonial Hindia Belanda ini.

banner 120x500
  • Bagikan