AWAS, POLITIK ORANG GILA!



Perbincangan politik (Pemilu) selalu menarik dan reaktif. Tak melulu oleh elit politik, orang kampung pun memperkarakan politik.Menggunjingkan gambar orang dan partai tertentu secara menggebu-gebu.

Padahal wajah itu, ia baru tahu. Partai yang itu, dahulu ia benci, ia caci-maki sekarang dicintai. Lawan jadi kawan, kawan bisa jadi lawan.Aneh! Kasus di Sampang (Madura) misalnya, seorang tukang gigi tewas ditembak karena beda pilihan politik (kompas.com, 24 November 2018). Nahas!

 

Perbincangan politik (Pemilu)

Rohim Habibi / Anggota Ansor PAC Kedungtuban dan Pendamping Desa Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora.

 

Polemik tentang laku politik juga dirasakan oleh tokoh muslim progressif, Ulil Abshar-Abdalla.Perasaan itu ia ungkapkan lewat akun twitternya.

“Kesimpulan saya: perbedaan pilihan politik ternyata lebih destruktif dampaknya kadang2 tinimbang perbedaan pilihan mazhab atau pandangan keagamaan. Jika politik “dikopyok” dan dicampur dg agama, weladhalah, dampak destruktifnya lebih a’udzu billah,” tulis Ulil.

Isu agama memang selalu hadir pada gelaran konstestasi politik Indonesia. Jika terus begitu, perbedaan bukan lagi rahmat tapi malapetaka.



Banyak faktor yang menyebabkan kegaduhan politik di Indonesia. Salah satunya masalah mentalitas. Mentalitas bisa menyebabkan munculnya politisi-politisi karbitan atau salon,politisi dengan syahwat besar tanpa jejak bagus.

Mereka, menghalalkan berbagai cara bermodalkan uang dan popularitas. Baginya politik bukan lagi sebagai wasilah tapi menjadi tujuan hidup. Kalah politik hidup jadi tidak terarah bahkan beberapa orang menjadi gila.

Ya, pemilu selalu memproduksi orang gila di negeri ini. Negeri yang dulu dikenal karena perilaku santun dan toleran.

Politik di negeri ini selalu begitu. Bukan hanya politisi yang rawan menjadi gila, masyarakat pun berpotensi ikutan gila. Gila karena menfaatkan momentum, aji mumpung.

Mumpung ada politisi gila yang berjanji membagi-bagikan uang sebagai kompensasi suara. Kalau tidak hari ini, kapan lagi. Ini gila, benar-benar gila.

Politik semestinya tidak demikian. Politik seharusnya menjadi sarana perbaikan dengan memilah dan memilih orang-orang yang berkompeten. Orang-orang yang memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam urusan pemerintahan. 

Bukan politisi yang suka kemrutuk apalagi politisi transaksional (profit oriented). Sebab jika menyerahkan urusan tertentu pada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktunya (kehancuran). Na’udzubillah. Wajar jika Gus Ulil resah. Begitu.

Penulis: Rohim Habibi / Anggota Ansor PAC Kedungtuban dan Pendamping Desa Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora.

 

 

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.