fbpx

LA NINA, ANTARA BERKAH DAN BENCANA

  • Bagikan
LA NINA, ANTARA BERKAH DAN BENCANA
Ilustrasi : Weathernationtv(dot)com

La Nina adalah suatu fenomena cuaca yang terjadi secara alami yang disebabkan oleh arah angin dan suhu global yang mengakibatkan meningkatnya curah hujan secara signifikan. Selain curah hujan, angin yang sangat dahsyat juga selalu menyertainya. Lama waktu fenomena ini sendiri berlangsung sekitar 4-5 bulan.

 

LA NINA, ANTARA BERKAH DAN BENCANA
Ilustrasi : Weathernationtv(dot)com

 

Dengan dampak yang mempengaruhi sebagian besar iklim dunia, terutama wilayah yang dilintasi oleh garis khatulistiwa. Proses terjadinya la nina sendiri cukup rumit dan kompleks dan bukanlah siklus tahunan, melainkan hanya terjadi beberapa tahun sekali. Terakhir kali la nina terjadi pada tahun 2010 yang mengakibatkan Indonesia mengakibatkan tidak ada musim kemarau.

Indonesia sebagai negara dengan rangkaian kepulauan yang dilintasi Garis Khatulistiwa dan diapit oleh dua benua membuat Negara ini menjadi yang paling merasakan akibat dari fenomena anomali baik La Nina maupun El Nino.

Dampak yang paling nyata adalah curah hujan yang tinggi yang biasanya disertai angin yang kencang. Bahkan di beberapa daerah pesisir la nina juga mengakibatkan badai dan meningkatkan gelombang air laut. Tingginya gelombang menyebabkan tidak adanya nelayan yang berani pergi melaut dimana merupakan sumber pencaharian bagi mereka.

Banjir Bandang yang terjadi akibat Fenomena ini juga tak kalah mengerikan. Ribuan hingga ratusan ribu rumah terendam air. Kendaraan seperti Motor, mobil dan Truk terendam dan bisa dipastikan akan rusak berat. Peralatan elektronik seperti kulkas, TV, Dispenser dll menjadi korban kerusakan akibat genangan air yang tinggi. Kerusakan Infrastruktur seperti jebolnya bendungan, runtuhnya jembatan dan terputusnya jalan menjadi kerugian nyata yang besar. Padahal semua itu memiliki peran penting dalam mobilisasi logistic demi membantu mereka yang terdampak

Banjir Besar yang menimpa Wilayah luas seperti Kalimantan Selatan yang mencakup 9 kabupaten/kota dengan jumlah total pengungsi 112.709 warga dan 27.111 rumah terendam akibat banjir ini. Dengan Korban jiwa berjumlah 21 jiwa. Belum lagi lahan pertanian yang perkebunan yang terendam air. Melihat bagaimana parahnya bencana ini bisa dikatakan jika total kerugian mencapai ratusan miliar. 

Banjir lainnya seperti yang terjadi di Kota pekalongan yang merendam 22 kelurahan dengan jumlah pengungsi mencapai ribuan jiwa. Jakarta yang merupakan Ibukota Negara pun masih saja sama meski telah mengalami selama beberapa tahun terakhir. Menjadikan Banjir sebagai Bencana Tahunan bagi wilayah ini. Kabupaten Pati juga terdampak dengan total 47 Desa tergenang. Pertanian dan Perikanan merugi besar.  

Untuk mereka yang tinggal di wilayah dataran rendah, Banjir memang menjadi bencana yang tidak dapat dielakkan. Terlebih bagi daerah yang sirkulasi airnya kurang memadai. Kerugian materiil yang sangat besar menjadi akibat mutlak. Perabotan rumah tangga, Peralatan Elektronik dan kendaraan menjadi hancur minimal rusak parah. 

Lembaga Resmi BNPB sendiri telah melaporkan bahwa dari ratusan bencana yang terjadi selama periode waktu 1 January – 20 February 2021, Banjir telah mendominasi sebanyak 275 Kejadian. 

Dampak lain yang menyertai La Nina yaitu Angin Puting beliung. Bencana ini yang telah melanda berbagai wilayah juga telah memakan banyak korban dan kerugian materiil. Kasus baru seperti angin puting beliung di Banyuwangi, Mojokerto dan Bekasi dengan total ratusan rumah menjadi korban baik ringan dan berat. Meski tidak ada memakan korban jiwa tapi beberapa orang dilaporkan terluka. 

Bencana lainnya seperti tanah longsor juga banyak terjadi akibat fenomena ini. Longsor terparah terakhir terjadi di wilayah Sumedang jawa barat. Tebing setinggi 50 M dan sepanjang 60 M ini longsor menimbun ratusan rumah dan manusia. Korban tewas sendiri dilaporkan mencapai 40 orang. Lahan yang terjal dan minimnya vegetasi berakar kuat dan saluran drainase yang kurang menjadi penyebab utama terjadinya bencana.

Selain itu Sektor Pertanian dan Perekonomian menjadi bidang yang paling terdampak dari fenomena ini. Di bidang pertanian sendiri kerugian akibat curah hujan berlebih bisa diperkirakan hingga triliunan rupiah. Berita terbaru kemarin terjadi di Pati, dimana ladang seluas 7000 an hektar lebih terendam air. Padahal saat ini sedang masa siap panen. Belum lagi 209.884 Hektare Lahan pertanian di Kalimantan Selatan juga terendam air bah. Wilayah Kudus, Brebes dan Pekalongan dengan total Ribuan hektare juga tak kalah tragisnya. 

Perekonomian bisa dikatakan lumpuh, para pedagang memilih menyelamatkan diri dan barang dagangannya sendiri sehingga kegiatan jual beli menjadi terhenti otomatis. Selain itu perputaran uang di semua kalangan juga akan terhenti paksa. Pasar yang setiap hari buka akan tutup, pertanian yang seharusnya menjadi musim panen menjadi gagal total, perikanan yang seharusnya tiba waktu jual pun hilang tak berbekas. 

Untuk wilayah blora sendiri, tepatnya di kecamatan cepu akibat curah hujan yang tinggi mengakibatkan banjir yang disebabkan meluapnya sungai ngareng. Selain itu, fenomena hujan yang mengakibatkan air sungai meluap hingga menyebabkan longsor dan banjir juga terjadi di wilayah kecamatan Banjarejo. 

Disisi lain, dengan begitu banyaknya dampak negatif fenomena La Nina ini juga tak kalah memiliki banyak dampak positif. Jika bisa dianalogikan maka Jika La Nina adalah bencana bagi manusia maka La Nina adalah berkah bagi Alam. Begitu banyaknya kegiatan dan kerusakan yang disebabkan oleh manusia menjadi terhenti akibat La Nina ini. 

Bencana seperti kebakaran dan Kebakaran hutan yang diakibatkan manusia menjadi hilang. Sehingga pepohonan dan hutan hujan memiliki waktu untuk berkembang dengan baik. Kebakaran hutan yang mengikis penyerapan lahan oleh hutan menjadi tiada, dengan begitu hutan menjadi tenang dan penyerapan air serta pasokan oksigen menjadi bertambah. 

 Disisi lain pasokan air tanah yang selalu berkurang akibat konsumsi masyarakat bisa terpulihkan  dan mengisi persediaan kembali air tanah yang berkurang (Surplus air tanah). Kapasitas air di waduk dan bendungan cenderung meningkat sehingga baik untuk Pembangkit listrik PLTA. Selain itu, bidang perikanan juga memiliki dampak positif diantaranya panen ikan lele yang biasanya hanya 2 kali sebab di musim kemarau jarang ada peternak lele yang mau memelihara sebab dirasa kurang menguntungkan, namun di musim yang dengan curah hujan yang melimpah ini bisa sampai 3 kali dengan kualitas yang lebih baik.

Sektor pertanian palawija yang membutuhkan banyak pasokan air juga diuntungkan. Dengan adanya pasokan air yang melimpah membuat daerah pertanian yang biasanya hanya melakukan 1/2  kali tanam padi mampu melakukan hingga 3 kali tanam dengan potensi keberhasilan yang tinggi. Akibatnya produksi jagung dan Palawija menjadi melimpah. Meluasnya areal tanam padi juga menjadi dampak positif  di wilayah dengan lahan kering. 

 

Tentang penulis : Ahmad Zacky Ilhamuddin adalah Mahasiswa UIN Walisongo Semarang merupakan Warga dukuh Kawisan Desa Botoreco Kecamatan Kunduran.

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com.

 

banner 120x500
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan