AIR TERJUN KEDUNGMANSUR, RIWAYATMU KINI




Banjarejo- Di dalam hutan wilayah BKPH Temanjang KPH Randublatung terdapat sebuah air terjun yang dulunya sempat digadang-gadang jadi tempat wisata. Usai terjadi tragedi anak tenggelam beberapa tahun lalu, tempat ini menjadi terbengkalai dan bernuansa angker.

Air terjun itu bernama Kedungmansur, berlokasi di Desa Jatisari Kecamatan Banjarejo Kabupaten Blora. Sekitar setengah jam perjalanan dari Kota Blora dengan menggunakan sepeda motor,  atau kurang lebih 20 kilometer.

Menurut warga setempat, tempat ini  dulunya cukup diminati pengunjung. Lokasinya yang berdekatan dengan Wisma Temanjang, sebuah komplek agrowisata milik perseorangan, membuat pengunjung betah berlama-lama menikmati panorama alam.

 

Air terjun itu bernama Kedungmansur,

Air Terjun Kedungmansur di Desa Jatisari Kecamatan Banjarejo Kabupaten Blora

 

“Dulu banyak yang datang untuk bermain air atau sekedar berwisata. Sayangnya, sejak ada kejadian anak tenggelam, tempat ini jadi makin sepi,” ujar Ngarijo (60), pengelola Wisma Temanjang kepada Bloranews.com, Senin (11/02).

Ngarijo menambahkan, sebenarnya kawasan wisata air terjun Kedungmansur sangat potensial dikembangkan. Pasalnya, daya tarik lokasi ini bukan hanya dari air terjun setinggi belasan meter, tetapi juga dengan adanya sendang di kawasan Wisma Temanjang.

“Wisma Temanjang ini miliknya Pak Mindar. Beliau asli kelahiran sini (Desa Jatisari, red) yang meraih sukses di luar kota, sekarang tinggal di Gresik. Sebenarnya, tempat ini bisa sangat bagus jika dikelola, soalnya ada sendangnya juga,” imbuh Ngarijo.

Harapan Ngarijo sangat kontras dengan kondisi saat ini. Kawasan air terjun Kedungmansur terbengkalai dengan banyak tetumbuhan liar, yang menguatkan kesan tak terawat. Meskipun, akses jalan menuju tempat ini cukup nyaman dilintasi kendaraan.

“Ya kalau ada yang mau mengelolanya, gapapa,  saya ikut senang. Saya juga sudah merasa tidak sanggup bila disuruh mengelola. Yang penting, keamanan dijaga supaya kejadian yang lalu tak terulang lagi,” pungkasnya.

Meski kini dikenal angker oleh pengunjung di luar desa, warga setempat masih berharap ada langkah penyelamatan kawasan wisata ini. Mereka masih berharap, air terjun ini dapat menjadi kebanggaan bagi masyarakat Desa Jatisari.

“Walau kata orang luar tempat itu angker, tapi masyarakat sini biasa saja. Sebenarnya, lokasinya sangat indah tapi tak terawat. Semoga, ke depan ada pengelola yang bersedia mengurusi dan bisa menjadi kebanggaan desa,” komentar Sutari (35), warga setempat. (zn)

 

 

 

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.