fbpx

AKSES JALAN MENANTANG HINGGA DIGIGIT ULAR, RELAWAN TAK PATAH ARANG

  • Bagikan
Aksi sosial relawan Karib dan Kelas Inspirasi Blora (KIB) di Dukuh Alasmalang Desa Pengkoljagong Kecamatan Jati, Minggu (29/07).

Jati – Melaksanakan bakti sosial di desa terpencil merupakan pengalaman tak terlupakan. Hal ini dirasakan puluhan relawan Komunitas  Anti Riba (Karib) dan Kelas Inspirasi Blora (KIB) saat berkunjung ke Dukuh Alasmalang Desa Pengkoljagong Kecamatan Jati.

Perjalanan menuju ke lokasi bakti sosial menjadi tantangan tersendiri. Betapa tidak, Dukuh Alasmalang Desa Pengkoljagong terletak di tengah belantara dengan kondisi jalan yang bergelombang.

“Perjalanan dari blora memakan waktu 3 jam. Tiga jam yang penuh sensasi karena kami harus menerobos jalan setapak di tengah hutan yang tak beraspal. Walhasil,  naik truknya berasa naik kapal di tengah deburan ombak lautan,” ujar Koordinator Karib, Siswanto, Minggu (29/07).

 

 

Aksi sosial relawan Karib dan Kelas Inspirasi Blora (KIB) di Dukuh Alasmalang Desa Pengkoljagong Kecamatan Jati, Minggu (29/07).

 

Dalam kegiatan dua hari itu (28-29/07), para relawan berbagi keceriaan dengan anak-anak SD Negeri 2 Temuireng, mendirikan Taman Baca bersama warga setempat, menyalurkan bantuan untuk guru Non PNS, membuka layanan pemeriksaan kesehatan gratis, dan banyak kegiatan lainnya.

Di tengah pelaksanaan aksi sosial tersebut, salah satu relawan digigit ular saat menyampaikan motivasi kepada anak-anak. Kelas motivasi dilaksanakan malam hari, di lapangan SD setempat. Kontan, hal ini cukup membuat panik para relawan dan warga.

“Salah satu relawan kami digigit ular,  walhasil kami sedikit heboh karena di dusun itu tidak ada tenaga kesehatan. Setelah diberi pertolongan pertama, segera kami larikan ke puskesmas terdekat yang jaraknya tidak dekat,” lanjutnya.

Relawan yang tergigit ular ini dilarikan dengan sepeda motor dan melintasi pematang sawah yang gelap. Satu-satunya sumber cahaya adalah nyala lampu sepeda motor tersebut.

“Jadi bayangkan bagaimana repotnya ibu hamil yang akan melahirkan di dusun ini, atau orang yang sakit yang butuh pertolongan segera. Dulu, sampai harus ditandu berkilo kilo saat jalan tidak bisa dilalui kendaraan di musim penghujan,” tambahnya.

Relawan tersebut, terpaksa harus menginap satu malam di puskesmas lantaran injeksi obat “anti bisa” hanya dapat dilakukan melalui selang infus.

Kegiatan ditutup dengan makan bersama antara relawan dan warga. Lelah yang mendera para relawan selama dua hari tersebut, seolah terbayar lunas dengan wajah ceria anak-anak dan senyum tulus penduduk desa.

“Alhamdulillah makanan yang kami sajikan disambut dengan suka cita dan kesyukuran.  Doa yang tak henti mengalir dan ucapan terimakasih yang tulus dihaturkan kepada para relawan hari itu.  Benar benar dua hari yang melalahkan. Lelah yang lillah.. Lelah yang fillah,” pungkas Siswanto.

 

Reporter : Ika Mahmudah

  • Bagikan