fbpx

GEDONG AGENG : PETILASAN SANG ADIPATI DI IBU KOTA JIPANG PANOLAN

Papan Situs Gedung Ageng

Jipang ( 11/12/2016 ) Jika anda mengunjungi Cepu, sempatkan berkunjung ke Petilasan Gedong Ageng Jipang. Di tempat ini terdapat petilasan seorang tokoh fenomenal, Arya Penangsang. Tokoh keturunan Kesultanan Demak ini memerintah Kadipaten Jipang Panolan pada pertengahan abad XVI. Kebesaran namanya membuat tim sepak bola Kabupaten Blora memilih nama Laskar Aryo Penangsang sebagai julukan resmi kesebelasan. Sikap dan kepribadian sang adipati yang tegas dan tanpa kompromi tampaknya menginspirasi kesebelasan asli Blora ini.

Makam Kedung Ageng
Makam Gedong Ageng Tampak Depan

Gedong Ageng Jipang, terletak di desa Jipang Kecamatan Cepu Kabupaten Blora. Sekitar delapan kilometer arah selatan Kecamatan Cepu. Di petilasan ini terdapat dua bangunan utama dan sebuah area petilasan. Sebuah pendopo dengan tajuk “ Surya Kencana Hadiningrat “ tampak kokoh didampingi sebuah rungan multifungsi. Ruangan di sebelah pendopo, pada hari – hari normal digunakan sebagai kelas Pendidikan Diniyah oleh warga desa Jipang. Kompleks petilasan Gedong Ageng semakin tampak berwibawa dengan sebuah Gapura dan dikelilingi tembok batu bata.

Batu bata makam gedong ageng
Tembok mengelilingi Gedong ageng

Sang Adipati Arya Pengangsang, atau dalam aksara jawa tertulis Harya Penangsang adalah cucu Panembahan Jin Bun. Oleh masayarakat jawa, Panembahan Jin Bun biasa dieja Panembahan Jimbun, nama lain Raden Patah Sultan Pertama Kesultanan Demak. Sang Adipati Jipang ini merupakan putra dari Raden Kikin, yang memiliki julukan Pangeran Sekar. Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa Raden Patah atau Panembahan Jin Bun sendiri memiliki tiga putra, putra pertama adalah Adipati Yunus ( Pati Unus ) yang gugur pada tahun 1521 M di Selat Malaka dalam pertempuran melawan Armada Portugis, pada saat itu Kesultanan Demak berpihak pada Kesultanan Samudra Pasai dalam melawan monopoli perdagangan yang dilakukan oleh Armada Portugis di Selat Malaka dan sekitarnya.

musholla gedong agung
Musholla di area Gedong ageng

Putra kedua adalah Raden Kikin, memiliki julukan Pangeran Sekar dan merupakan ayah dari Sang Adipati Arya Penangsang. Pangeran Sekar dibunuh oleh Raden Mukmin ( keponakan Pangeran Sekar, Putra Raden Trenggono ) menggunakan Keris Kyai Setan Kober. Keris Kyai Setan Kober merupakan Pusaka Sunan Kudus ( Raden Ja’far Shadiq ) yang dicuri oleh Raden Mukmin untuk melaksanakan pembunuhan itu. Untuk mengenang kematian Pangeran Sekar yang telah dibunuh di sungai, secara anumerta beliau ( Pangeran Sekar ) oleh pengikutnya diberi gelar Pangeran Sekar Seda Ing Lepen ( Bunga yang gugur di sungai ).

Gapura kedung ageng
Gapura Gudong ageng

Putra ketiga adalah Raden Trenggana, selanjutnya bernama Sultan Trenggana. Menjadi raja ketiga dari Kesultanan Demak setelah gugurnya Pangeran Sekar. Dibawah kepemimpinannya Kesultanan Demak berhasil melebarkan pengaruhnya di seluruh Pulau Jawa. Pada tahun 1527 Pelabuhan Sunda Kelapa berhasil direbut dari Armada Portugis dan Kerajaan Pajajaran di tanah Sunda berhasil ditaklukkan. Dalam waktu yang tidak terlampau lama beberapa kerajaan di Pulau Jawa bertekuk lutut pada Kesultanan Demak. Merebut Pelabuhan Tuban pada 1527, Surabaya dan Pasuruan pada 1527, Madiun pada 1529, Malang pada 1545 serta menancapkan panji kekuasaan di Kerajaan Hindu terakhir di tanah Jawa, Blambangan pada 1545. Pada beberapa penaklukan terakhir ini dilakukan oleh putra Sultan Trenggana, Raden Prawoto.

Untuk melakukan penaklukan di kerajaan – kerajaan di Pulau Jawa, Sultan Trenggana memiliki dua panglima perang. Pertama adalah Fatahillah, seorang pemuda asal Kesultanan Pasai yeng kemudian diangkat sebagai menantu Sultan Trenggana. Kedua adalah Maulana Hasanuddin, Putra Sunan Gunung Jati ( Syarif Hidayatullah ) . Oleh Sultan Trenggana, Maulana Hasanuddin diperintahkan untuk menaklukkan Kerajaan Banten Girang. Pada akhirnya para keturunan Maulana Hasanuddin menjadikan Banten sebagai kerajaan mandiri.

Papan Situs Gedung Ageng
Papan Situs Gedung Ageng

Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa Arya Penangsang merupakan salah satu pewaris tahta Kesultanan Demak jika Pangeran Sekar tidak dibunuh. Namun tidak ada satu manusiapun yang dapat menolak dari garis takdir Tuhan yang telah ditetapkan. Arya Penangsang harus puas dengan menjadi Adipati Jipang. Jabatan ini merupakan warisan dari Kakek Aryo Penangsang  yang merupakan Adipati Jipang sebelum Arya Penangsang.

Sebagai salah satu petilasan Arya Penangsang, Petilasan Gedong Ageng sangat dihormati oleh warga desa Jipang, bahkan masyarakat kabupaten Blora. Di tempat ini terdapat makam beberapa kerabat Kadipaten Jipang. Diantaranya adalah Makam Raden Bagus Sosrokusumo, makam Raden Bagus Sumantri, Raden Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo.

Petilasan Gedong Ageng mengingatkan kita, bahwa pada masa lalu Kabupaten Blora pernah hidup dan memerintah seorang dengan kepribadian yang luar biasa, tegas dan tanpa kompromi. Memiliki keyakinan tentang kebenaran yang kuat dan berusaha menegakkannya, sekalipun kematian adalah harga yang harus dibayarkan.

Reporter          : Ajir

Fotografer        : Az Zulfa

Verified by MonsterInsights