fbpx

HARGA MINYAK GORENG MENINGKAT DI MUSIM RUWAHAN

Memasuki Bulan Sya’ban merupakan kabar baik bagi mayoritas masyarakat Jawa tak terkecuali Blora. Bulan Sya’ban dalam istilah Jawa adalah Bulan Ruwah. Pada bulan ini banyak masyarakat mengadakan khajat ruwahan untuk mendoakan leluhur yang sudah meninggal dunia.
Penjual minyak goreng di Jalan Pemuda Blora.

Ngawen – Memasuki Bulan Sya’ban merupakan kabar baik bagi mayoritas masyarakat Jawa tak terkecuali Blora. Bulan Sya’ban dalam istilah Jawa adalah Bulan Ruwah. Pada bulan ini banyak masyarakat mengadakan khajat ruwahan untuk mendoakan leluhur yang sudah meninggal dunia.

Untuk mengadakan acara selameten ruwahan di mana kebutuhan domestic sembako meningkat, bertepatan dengan keputusan Mentri Perdagangan yang menghilangkan HET minyak goreng membuat harga minyak melambung tinggi.

Rasa kecewa dialami warga asal Kedungsatriyan, Kecamatan Ngawen, Diana Malika Fauziah mengatakan, musim ruwahan ini kebutuhan minyak goreng banyak sedangkan harga di pasaran tidak stabil.

BACA JUGA :  HET TAK BERLAKU DI MASYARAKAT, MINYAK GORENG SUBSIDI DIJUAL NON SUBSIDI

“Dampaknya cukup merugikan ya, bung. Apalagi ini musim ruwahan dan sebentar lagi bulan puasa Ramadhan, kebutuhan minyak goreng untuk domestik lebih banyak. Minyak goreng yang kita pakai dengan harga yang tidak stabil maka semakin tidak stabil pula finansial para emak-emak yang suka menggoreng,” keluhnya, Minggu (20/3).

Sebagai konsumen, ia merasa kecewa dengan adanya harga minyak goreng yang kerap berubah karena HET dicabut oleh pemerintah. Dia menyayangkan, Indonesia adalah penghasil kelapa sawit terbesar namun tidak bisa menstabilkan harga minyak.

BACA JUGA :  HARGA MINYAK GORENG DI BLORA MASIH TINGGI

“Jelas kecewa dong. Beberapa media menyebutkan sejak 2006 Indonesia mendapat peringkat number one penghasil sawit terbanyak. Masak untuk masalah minyak saja tidak bisa mengupayakan stabilnya ketersediaan dan harga yang lebih rendah,” katanya.

Harga minyak di Pasar Ngawen masih melambung tinggi, satu liter Rp23 ribu, dua liter Rp46 ribu. Sedangkan curah per liter Rp19 ribu bahkan tembus angka Rp21 ribu. Malika mengharap minyak goreng tidak langka dan tidak mahal.

BACA JUGA :  MINYAK GORENG DI JATENG LANGKA DAN MAHAL

“Yang jelas hargaminyak dikembalikan seperti dulu kala saja, stabil dan mudah didapat. Masyarakat sudah sengsara dengan adanya covid-19 jangan ditambah-tambahi dengan naiknya harga sembako pula,” tandasnya. (Jam).