KUOTA PUPUK BERSUBSIDI DI BLORA DIKURANGI

  • Bagikan
TANDUR, BERKAH BAGI BURUH TANI KALA MUSIM TANAM TIBA
Rombongan petani sedang Tandur(tanam padi) di sawah

Blora – Sejumlah petani di Kabupaten Blora mengeluh kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Pasalnua, jatah kuota pupuk bersubsidi di Blora 2021 mengalami pengurangan.

 

TANDUR, BERKAH BAGI BURUH TANI KALA MUSIM TANAM TIBA
Petani di Kabupaten Blora.

 

Alokasi pupuk bersubsidi di Blora, misalnya jenis Urea mengalami penurunan sebanyak 14.773 ton. Pada tahun 2021 di Blora hanya mendapat jatah 46.711 ton, padahal di tahun 2020 mencapai 56.450 ton.

Ketua DPRD Kabupaten Blora, M. Dasum membenarkan adanya pengurangan kuota pupuk bersubsidi bagi para petani. Pihaknya sudah mengajukan lagi ke pemerintah agar kuota pupuk jangan dikurangi.

“Memang benar, terjadi pengurangan kuota pupuk. Ini yang menjadi kesulitan petani. Saya akan cek lagi datanya. Kita ajukan lagi ke pemerintah agar kuotanya jangan dikurangi,” ucap Dasum.

Terpisah, H. Sukiban salah satu distributor pupuk di Banjarejo Kabupaten Blora menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada kelangkaan pupuk. Namun kendala yang dihadapi para petani yang berhak mendapatkan pupuk bersubsidi lantaran kartu tani yang belum jadi. Padahal, seluruh Kios Pupuk Lengkap (KPL) sudah mengajukan ke distributor berdasarkan data di E-Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (E-RDKK).

“Kelangkaan pupuk itu tidak ada. Tapi kalau kesulitan, itu yang dirasakan petani. Karena di wilayah kami, KPL sudah menebus semua jatah pupuk bagi petani,” ungkap Sukiban.

Dirinya menambahkan, di Banjarejo ada kurang lebih 1.600 kartu tani yang belum jadi sehingga menyulitkan para petani. Meskipun para petani ini sudah dimudahkan dengan melakukan pengisian form untuk pengambilan pupuk.

“Yang sulit itu kartu taninya. Banyak yang belum memiliki kartu tani. Meskipun, sekarang ini mereka dipermudah dengan mengisi form, tetapi para petani juga harus minta tanda tangan dulu ke ketua kelompok tani KPL dan petani itu sendiri. Itu yang menjadikan petani kesulitan mendapatkan pupuk,” terang Sukiban.

Tak hanya pupuk bersubsidi jenis Urea saja yang mengalami penurunan, untuk pupuk SP36 menurun menjadi 7.001 ton dibandingkan tahun 2020 alokasinya sebanyak 9.654 ton.

Selanjutnya, untuk pupuk Phonska alokasi subsidi turun menjadi 32.848 ton dibanding tahun 2020 sebanyak 39.168 ton. Kemudian untuk pupuk subsidi organik granul turun menjadi 8.351 ton dari 17.900 ton di tahun 2020.

Sedangkan pupuk subsidi jenis ZA menjadi satu-satunya yang mengalami kenaikan, yakni sebanyak 21.986 ton dari 10.600 ton pada 2020. (Jay)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan