fbpx

MENAKAR KESIAPAN MENUJU NEW NORMAL

  • Bagikan
Santoso Budi Susetyo, SSos
Santoso Budi Susetyo, SSos

Lebaran kali ini terasa berbeda. Tidak semeriah yang sudah- sudah. Banyak yang hilang minimal berkurang. Takbir keliling, shalat id di tanah lapang juga saling berkunjung untuk bersalaman. Oh  iya..juga bunyi petasan. 

 

Santoso Budi Susetyo, SSos
Santoso Budi Susetyo, S.Sos

 

Jauh hari kondisi seperti ini sebenarnya sudah diprediksi.  Karena sejak Covid-19 ini menjangkiti banyak hal sudah dibatasi. Perubahan signifikan dirasakan pada semua sisi dan yang paling berat adalah melambatnya laju ekonomi.

Beberapa kepala daerah merespon dengan mengeluarkan kebijakan lokal untuk menghadapi juga mengantisipas meningkatnya kasus dari wabah ini.

Belum lama ini pemerintah mewacanakan akan menerapkan yang disebut dengan Normal Baru atau disebut juga New Normal yang merupakan langkah pemerintah untuk mengatasi Covid-19 ini pada aspek sosial, ekonomi dan kesehatan. Dengan berbagai pertimbangan pemerintah akan menggerakkan dan mendorong kembali kegiatan vital yang selama ini secara signifikan terhambat bahkan berhenti akibat pandemi ini. Tentu saja dengan tetap mengacu pada protokol kesehatan yang sudah ditetapkan WHO.

Terlepas pro kontra penerapan New Normal ini, mari kita lihat dari sisi perubahan perilaku dan kebiasaan masyarakat kita sejak pandemi ini terjadi.

“Sepi” nya lebaran seperti  yang saya sebutkan mengawali tulisan ini sesungguhnya merupakan indikasi bahwa secara umum ada kesadaran bahwa kebiasaan harus berubah menyesuaikan standar masa pandemi. Padahal euforia dalam perayaan biasanya merupakan hal yang bisa dimaklumi.

Sebelumnya pun sudah banyak orang menunda atau membatalkan acara yang berpotensi menjadi sarana penyebaran wabah, padahal bisa jadi tidak sedikit  biaya yang sudah dikeluarkan untuk persiapan.

Kita melihat banyak orang lalu lalang di luar rumah mengenakan masker di wajah menjadi busana tambahan meski bisa jadi mengganggu kenyamanan serta penampilan. 

Menjaga  jarak dalam sebuah pertemuan yang mengurangi keakraban dan kehangatan menjadi hal yang sudah dimengerti.

Pola hidup bersih menjadi gerakan massif atas inisiatif sendiri. Sekarang banyak yang menyediakan tempat cuci tangan di fasilitas umum juga di rumah.

Aktivitas tempat hiburan atau warung untuk sekedar nongkrong dan ngopi menjadi berkurang  dan sepi.

Sekolah diliburkan. Tatap muka dalam pembelajaran diganti  dengan pemberian tugas serta pertemuan dalam jaringan.

Rapat-rapat diselenggarakan lewat aplikasi yang sangat mungkin mengurangi keseriusan. 

Pun perkara yang cukup esensial bagi orang beriman yakni tata cara peribadatan juga ditunaikan tidak seperti lazimnya, yang dalam kajian fiqh memang dibolehkan. 

Yang harus disyukuri sekaligus membanggakan adalah aksi kepedulian sosial yang muncul atas inisiatif warga masyarakat. Membantu dan  berbagi sebagai empati kepada saudara juga tetangga.

Catatan pentingnya mereka menjalani banyak perubahan ini sembari merasakan  beratnya tekanan krisis ekonomi sebagai dampak pandemi. 

Sepertinya sebagian besar sudah masyarakat menyadari bahwa wabah ini merupakan musuh bersama yang harus diperangi dengan cara merubah kebiasaan serta mengikuti protokol kesehatan. Juga relatif patuh terhadap seruan dan ajakan dari pemerintah.

Bahwa masih ada yang abai dan kurang peka dengan keadaan bukan berarti tidak bisa diperbaiki dan dibenahi. Menjadi  tugas bersama untuk mengedukasi serta mengajak sekitar dengan cara yang bijak dan benar. Agar hati-hati dan tidak menyepelekan dengan kemungkinan yang membahayakan. Boleh jadi sikap itu muncul karena memang berada di wilayah yang tidak ada kasus wabah atau asupan informasi kurang memadai serta tidak akurat yang menjadikan lemahnya kewaspadaan.

Kesemua hal di atas menjadi modal utama bagi pemerintah jika memberlakukan Normal Baru .

Tugas pemerintah harus mampu merumuskan kebijakan yang jelas  dengan memperhatikan skala prioritas juga aspek proposionalitas.

Menegakkan disiplin dengan aturan yang tegas  bagi siapapun. Beragam kondisi yang dialami masing-masing wilayah menjadi tantangan pemerintah  untuk bisa mengakomodir sesuai kebutuhan di lapangan. 

Pemerintah harus siap dan bisa menerima setiap kritik dan masukkan sebagai bahan evaluasi pelaksanaan Normal Baru ini .  

Memuaskan semua orang adalah bukan hal yang mudah namun sudah kewajiban pemerintah adalah menjamin dan mewujudkan keamanan, ketertiban dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Dalam kondisi seperti ini sebagai penyeimbang, ada ungkapan yang bisa dijadikan pegangan  sebagai masyarakat yaitu “Menyalakan lilin lebih baik daripada mengutuk kegelapan”.

Semoga Wabah segera berlalu. Aamiin.

 

Tentang Penulis : Santoso Budi Susetyo, S.Sos Adalah anggota DPRD Blora dari PKS.

Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

 

banner 120x500
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

error: Konten dilindungi!!