MENEGUHKAN BUDAYA DAN ETIKA RASA

Musim kemarau saat ini, yang kudengar hanya kekeringan dimana-mana. Air bersih susah hingga masyarakat mencari dimanapun tempat dan kemanapun yang ada setetas air meskipun ada diujung senja dan rekahan tanah. Kekeringan ternyata tidak hanya aku lihat kasat mata, seperti waduk-waduk kering kerontang, jagung bahkan rumput sudah tidak lagi berwarna hijau, benar-benar kering.

Kekeringan air lantaran kekeringan yang berkepanjangan memang memprihatinkan, Keprihatinan akan semakin sempurna bagi kita semua manakala para pemimpin, masyarakat mengalami Kekeringan Rasa dan budaya.

 

Sugie Rusyono

Sugie Rusyono

 

Generasi sekarang boleh saya katakan mulai kekeringan rasa dan budaya. Kenapa  begitu, kebaikan dan keindahan itu hanya bisa dijalankan dan berlangsung bila dilakukan atau dijalankan oleh masyarakat yang mempunyai kesadaran dan kebesaran jiwa, yang selalu menjunjung tinggi etika keindahan dan berkebudayaan.

Diksi-diksi saat demo Mahasiswa yang menarasikan kata-kata jorok, saru, tabu…begitu mudah terpampang dan diumbar pada ruang publik. Sementara yang membawa diksi itu adalah mahasiswa perempuan.   Apa itu yang dinamakan kebebasan, tetapi jauh meninggalkan nilai-nilai budaya kita.  Kemudian menjadi viral dan banyak akun-akun media sosial yang mengeshare foto-foto itu. Ada yang bilang asyik dan menarik, ada juga yang bilang sudah benar itu kenapa takut menyampaikan hal-hal yang tabu.

Di dunia lain,  diksi yang sama dan keras tanpa kelembutan juga hadir melalui dunia maya. Warganet bisa cukup bisa menguras emosi, dengan kata-kata yang tanda bertepi. Semua tidak ada yang salah, masing-masing merasa menjadi yang paling benar dan paling menang. Itulah realita yang kita hadapi saat ini.

Sebagai orang yang hidup dalam kultur jawa sungguh prihatin.  Sejatinya kultur berbudaya dan mempertimbangkan rasa, inilah yang lama meyemai dalam sendi-sendi harmoni masyarakat.  Hal-hal yang saru dan tidak beretika menjadi tabu untuk diungkapkan apalagi disampaikan dalam media dan ruang publik. Dengan dalih apapun, itu tidaklah menunjukkan kedewasaan berbudaya dan bertika, kalau hal-hal semacam itu diamini oleh khalayak akan menjadi preseden buruk.  Atas dasar narasi-narasi kebebasan dan keterbukaan tentu bukan dalih yang tepat menjadi pembenar.

Sekali lagi, Kekeringan rasa dan budaya itulah yang saat ini mengejala dalam masyarakat. Bukan hanya kaum proletar tetapi juga borjuis dan pemimpin.  Olah rasa dan jiwa amat dirindukan,  alat modern atu mesin yang idealnya dikendalikan manusia, kini menjadi terbalik. Manusia sekarang yang dikendalikan oleh mesin itu sendiri.

Bangunan narasi hoaks, ujaran kebencian kini lebih mudah terpapar dalam media sosial. Kita bukan menjadi warga di dunia nyata, tetapi sudah jadi warganet, yang  tidak ada kata salah, semuanya selalu benar, saling serang terhadap komunitas yang tidak sejalan. Rasa saling mencurigai dan memusuhi sesama manusia, kelompok lebih nampak dan jelas dalam panggung kehidupaan kekinian.

Homo Homoni lupus tampaknya tepat untuk membingkai situasi saat ini. Manusia adalah serigala bagi sesamanya, teori dari Thomas Hobbes itu rasanya sangat relevan, rasa memusuhi dan  mencurigai sesama manusia, saling menikam dan mempertahankan diri dengan cara apapun.  Era kini media sosial dan warganet menjadi saluran ampuh untuk saling menikam dan mempertentangkan eksistensi mereka. Tidak peduli dengan etika dan normal yang penting bagaimana selalu bisa membuat hegemony bagi warganet.

Ungkapan jawa kita kenal Hamemayu hayuning bawana merupakan pengejawantahan dari menjaga harmoni kehidupan dunia. Dalam  kebudayaan Jawa sebenarnya secara nyata mampu menciptakan perilaku masyarakatnya lebih bermoral dan mempunyai kesantunan yang tinggi, sehingga rasa hormat terhadap sesama menjadi sebuah tingkat kepatuhan utama. Dalam interaksi sosial, masyarakat adat yang sudah berabad-abad mempunyai tatanan tradisi lokal, mampu berperan dalam sebuah keselarasan kehidupan.   Nilai-nilai budaya dan rasa telah ditinggalkan manusia, maka seyogyanya kita semua jangan ikut kekeringan rasa dan budaya.  Jika kita meneguhkan rasa dan budaya dengan baik tentu akan membawa kedamaian dan keberkahan.  ….Anda boleh tidak setuju…!

Tentang penulis: Sugie Rusyono merupakan pegiat literasi di Blora

*Opini di atas adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Bloranews.com

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan