Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

SINERGISITAS SELESAIKAN DAMPAK KEMARAU

Air merupakan kebutuhan vital bagi kehidupan manusia. Baik dalam rangka memenuhi asupan kecukupan air pada tubuh, ataupun untuk menunjang kebutuhan manusia lainnya. Bukan hanya manusia yang membutuhkan air, makhluk hidup lain pun juga sangat membutuhkannya.

 

Oleh: Mohammad Iqbal Shukri

Oleh: Mohammad Iqbal Shukri

 

Kita semua sudah mafhum jika Indonesia memiliki dua musim, yakni musim hujan dan musim kemarau. Nah kini beberapa wilayah Indonesia sedang memasuki musim kemarau, khususnya di Jawa Tengah.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, sebanyak 30 daerah di Jawa Tengah alami kekeringan, dengan 6 kabupaten di antaranya mengalami kekeringan paling parah. Yakni Kabupaten Purbalingga, Wonogiri, Banyumas, Grobogan, Sragen, dan Blora, sebagai mana dikutip dari Tribunjateng.com (9 September 2019).

Akhirnya untuk memenuhi kebutuhan air dalam sehari-hari tak sedikit masyarakat yang rela menempuh jarak berpuluh-puluh kilometer untuk mendapatkan sumber air. Ya, air adalah sumber kehidupan.

Dalam hal ini pemerintah juga tidak menutup mata dengan apa yang dialami rakyatnya saat musim kemarau. Pemerintah gencar mengirimkan air bersih ke beberapa daerah yang terkena dampak kekeringan.

Dibuktikan dengan disediakannya pos anggaran untuk droping air bersih tahun ini senilai Rp 320 juta atau 1 ribu tangki untuk seluruh wilayah di Jawa Tengah. Namun bukankah dampak dari krisis air bersih tidak hanya berdampak pada satu sisi saja?

Penulis merangkum beberapa dampak yang ditimbulkan dari krisis air. Pertama masyarakat desa yang mayoritas berprofesi sebagai petani akan menuai sebuah ancaman yakni gagal panen. Atau jika tidak menginginkan hal itu terjadi, para petani harus mau menambah biaya lagi dalam hal membeli air untuk menjaga tanaman-tanamannya. Sehingga petani berpikir dua kali dalam melanjutkan pengelolaan tanamannya.

Kedua melonjaknya kebutuhan pokok sehari-hari. Menurunnya hasil panen menimbulkan pasokan bahan baku menjadikan melonjaknya harga bahan pokok di pasaran menjadi mahal.

Ketiga kesehatan, krisis air bersih berdampak pada pola kebersihan masyarakat. Bagaimana tidak, dalam keadaan musim kemarau seperti saat ini kebutuhan air bersih sangat minim. Akhirnya masyarakat harus bisa mengatur dengan air yang ada, mereka harus pintar membagi kebutuhan air untuk mandi, minum,mencuci dan pemenuhan kebutuhan lainnya. Hingga kesehatan pun di nomor dua kan.

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan