fbpx

RITUAL JAMASAN JIPANG USUNG TEMA EKONOMI KREATIF

Paguyuban Tosan Aji Kuntul Ngantuk yang merupakan kumpulan pemuda pegiat pusaka di Blora menggelar ritual jamasan Bulan Suro di Desa Kentong, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora pada Minggu, (31/7/2022).
Ritual Jamasan di Desa Kentong, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora.

Cepu, BLORANEWS – Paguyuban Tosan Aji Kuntul Ngantuk yang merupakan kumpulan pemuda pegiat pusaka di Blora menggelar ritual jamasan Bulan Suro di Desa Kentong, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora pada Minggu, (31/7/2022).

Untuk perhelatan tahun ini, kegiatan dirangkai dengan sarasehan yang mengusung tema ekonomi Kreatif. Adapun pembicara sarasehan ialah Dr. Sukarjo Waluyo (Dosen Universitas Diponegoro) serta Agung G Wisnu (Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi SNKI).

Ketua Kuntul Ngantuk, Habibi menjelaskan, proses jamasan pada hakikatnya ialah proses pembersihan jiwa. Karena dalam jamasan tidak hanya menyoal pembersihan pusaka, namun ada pula proses tirakatan semacam refleksi diri. Dari refleksi ini, pemilik pusaka akan diantarkan menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya.

BACA JUGA :  HATI-HATI GANJAR SAAT DIBERI KERIS BUTO IJO DARI TOKOH BUDAYA

“Orang Jawa kaya dengan pasemon, orang Jawa memiliki kode-kode rahasia, leluhur kita selalu menyelipkan pesan dalam setiap ajarannya. Termasuk dalam pusaka, banyak filosofi yang bisa digali dari setiap bentuk sebuah keris. jika kita tanggap ing wacono, jika mampu membaca pesan-pesan dalam ajaran bertosan aji, kita akan mendapati nilai-nilai adiluhung dari leluhur kita,” ucap Habibi.

Sementara itu, Ketua Panitia Hariyadikus menegaskan, Kegiatan digelar bersama Kraton Jipang, Lesbumi Padangan Bojonegoro, Lakpesdam Cepu, PBN korwil Blora dengan tujuan utamnya ialah pelestarian budaya. 

BACA JUGA :  LESTARIKAN BUDAYA, KUNTUL NGANTUK BLORA HADIRI KONGRES SNKI III

“Kegiatan ini adalah upaya pelestarian kebudayaan dimana Jipang adalah salah satu wilayah yang memiliki historis penting dalam penyebaran Islam di Jawa,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Dr. Sukarjo Waluyo saat mengisi sarasehan. Menurutnya, pelestarian budaya sangatlah penting, mengingat budaya itu bisa saling mengadopsi. Jadi, lanjutnya, jangan sampai Jipang ini diklaim oleh kabupaten lain.

“Ada banyak contoh, seperti tari Soreng, jelas pasukan Soreng adalah pasukan Jipang, tapi diadopsi oleh pemkab Magelang, tari Soreng sempat menjadi juara nasional tari nusantara, bahkan akhirnya diundang oleh Presiden Jokowi Istana Negara,” jelasnya.

BACA JUGA :  SAMBUT TAHUN BARU HIJRIYAH, LESBUMI NU GELAR JAMASAN PUSAKA

Turut menegaskan, Agung G Wisnu selaku pembicara juga menekankan pentingnya pelestarian budaya. Lebih lanjut Ia meminta agar para stakeholder dan pegiat budaya mendaftarkan HAKI (Hak atas kekayaan Intelektual).

“Jangan sampai seperti orang Bali, karena ada patung dewa kuno didaftarkan HAKI-nya oleh orang luar negeri, kemudian seluruh karya patung tersebut harus membayar royalti ke pemilik HAKI, bahkan pembuat patung banyak yang dituntut dan harus membayar sejumlah uang banyak kepada pemilik HAKI,” terangnya. (Hab).