fbpx
OPINI  

SAMIN SUROSENTIKO: ORANG RANTAI DARI JAWA

Ilustrasi : Samin surosentiko

Situs Peninggalan Mbah Suro, Sedulur Sikep dan Orang Rantai

Penambangan di lubang Suro ini merupakan titik awal penambangan terbuka di kota Sawahlunto. Lubang tambang pertama di Sawahlunto yang dibangun pada 1896 oleh orang rantai yang dipimpin seorang mandor bernama Suro.

Menurut prediksi kami itulah nama panggilan dari Samin Surosentiko. Bekas terowongan penambangan batubara yang beroperasi pada 1898 tersebut ditutup oleh Belanda pada 1932 karena tingginya rembesan air dari Sungai Lunto. Menurut kabar, pembukaan Lubang Suro ini dilakukan sejak tahun 1891 sedangkan proses pembangunannya dilakukan pada tahun 1898.

Terowongan bekas penambangan batubara Sawahlunto sebagian kini sudah dipugar dan dijadikan museum tambang batu bara dengan sebutan “Lubang Tambang Mbah Suro”. Pengunjung bisa masuk ke dalamnya dan merasakan suasana bekas lorong penambangan batu bara.

Panjang terowongan ini ratusan meter, tapi saat ini baru 186 meter yang dipugar, dibersihkan, dan diberi blower udara untuk menambah udara serta dilengkapi kamera pengintai (CCTV) yang dipantau petugas di gedung Info Box.

Lebar lubang tambang ini 2 meter dengan ketinggian 2 meter. Dulu lorong ini digunakan untuk mengangkut batu bara dari penambangan di bawah Kota Sawahlunto. Dinding lorong terlihat hitam berkilat karena masih mengandung batu bara kualitas super, yaitu 6.000 hingga 7.000 kalori.

Sebelum tahun 1930, Belanda menutup lubang ini karena dekatnya lubang tambang dengan Sungai Lunto, yang mengakibatkan derasnya rembesan air yang membawa dampak buruk bagi lingkungan dan tambang itu sendiri. Artinya, lubang yang sudah digali dengan susah payah dan sangat dalam tersebut akhirnya ditutup karena dirembesi air yang berasal dari resapan Batang Lunto.

Akibatnya pada tahun 1932 penambangan di Lubang Suro ini terpaksa dihentikan. Pada sejumlah titik di Lubang Suro tersebut terpaksa ditutup kembali demi menghindari bahaya yang lebih besar. Penutupan lubang ini dilakukan dengan dinding beton.

Walau sudah sempat ditutup, namun setelah kemerdekaan Lobang Tambang Mbah Suro kembali dibuka sebagian untuk melakukan penyelidikan. Namun, kondisi yang sama di tahun 1932 kembali ditemui. Artinya, penambangan tetap tak bisa dilakukan karena tertutup oleh rembesan air Batang Lunto.

Ketika lubang tambang ini dibuka, butuh waktu 22 hari untuk menyedot air dalam terowongan dengan menggunakan 2 buah pompa air. Dengan 13 orang pekerja, akhirnya Lubang Suro ini dipugar selama 5 bulan.

Lubang ini merupakan lorong di bawah tanah yang terletak di bawah perkampungan penduduk yang memiliki lorong-lorong yang panjang. Lorong ini diawali dari Kelurahan Tanah Lapang hingga ke kantor DPRD. Lorong Lubang Mbah Suro ini mencapai 1,5 km berbentuk mengular dengan kemiringan hampir 20 derajat. Lorong ini bahkan bisa tembus hingga pusat pembangkit listrik tenaga uap, yang kini menjadi Masjid Raya, yang berjarak 900 meter.

Namun baru dipugar 186 meter dengan kedalaman 15 meter dari permukaan tanah. Selama pemugaran tersebut, ditemukan banyak kerangka manusia, termasuk paha manusia, dan peninggalan Belanda berupa botol minuman beralkohol.

Menurut juru kunci sekaligus pemandu “Lubang Mbah Soero”, Wilizon, yang biasa disapa Pak Win, terowongan itu diresmikan pada 28 April 2008, dan diberi nama “Wisata Lubang Tambang Mbah Soero”.

Nama “Mbah Soero” sendiri diambil dari nama mandor pertambangan masa penjajahan Belanda bernama Suro yang sangat disegani oleh para buruh dan warga sekitar. Namun rasanya kepanjangan “Suro” sendiri bukan seperti yang Pak Win katakan yaitu “Surono”, namun “Surosentiko”, lengkapnya Samin Surosentiko.

Dalam perjalanannya sebagian pihak menyebut tambang terbuka pertama kali ini dengan nama “Lubang Segar”, karena lubang ini berada di wilayah Lembah Segar. Namun, dari beberapa nama yang paling populer di hati masyarakat Sawahlunto adalah Lobang Tambang Mbah Soero.