fbpx

SOSOK PEMULUNG BERGELAR DOKTOR

Seorang pemulung, Soesilo Toer memiliki gelar doktor lulusan Plekhanov Institute Moskow, Rusia. Sejak kecil Sus (sapaan akrab Soesilo Toer) sudah jadi pemulung, lebih tepatnya saat masih duduk di sekolah dasar.
Soesilo Toer.

Blora – Seorang pemulung, Soesilo Toer memiliki gelar doktor lulusan Plekhanov Institute Moskow, Rusia. Sejak kecil Sus (sapaan akrab) sudah jadi pemulung, lebih tepatnya saat masih duduk di sekolah dasar.

Sus merupakan adik dari sastrawan dunia yang pernah dimiliki Blora yaitu Pramoedya Ananta Toer. Sus kini tinggal di rumah masa kecil Pram atau rumah orang tuanya yang beralamat di jalan Pramoedya A Toer (Eks Jl. Sumbawa) nomor 40, Kelurahan Jetis, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora.

Merek rokok juga pernah dipungut sus untuk dijual, kala dulu merek rokok terpisah oleh bungkusnya, tidak jadi satu. Cerita menarik pada masa kecil banyak disampaikan oleh Soesilo dalam pengalamannya memulung.

“Suatu kali saya cari bungkus rokok dengan teman saya, tau-tau ada orang yang membuang sesuatu, saya piker putung rokok kok tidak menyala. Saya bilang dompet itu. Kita lari rebutan, eh ternyata beneran dompet isinya duit. Itulah yang membuat saya ingin mulung,” terangnya.

Dari hasil uang itu mereka gunakan untuk makan lontong tahu di pasar. Menurut Sus, Blora dulu juga terkenal dengan lontong tahu. Pengalaman yang disampaikan dalam memulung juga tidak hanya Blora dan sekitannya namun juga lintas negara.

Memulung sampai Rusia. Masa perkuliahannya, di Rusia banyak orang kaya dan orang miskin, orang-orang kaya saling menunjukkan keglamorannya, jaket robek sedikit buang, kaos robek atau rusak sedikit buang. Hal itu dimanfaatkan Sus, tanpa rasa malu ia memungut jaket bekas, jika kotor di cuci, ketika robek dijahit sendiri. Kemudian dipakai.

BACA JUGA :  SISTEM ZONASI AKAN DITERAPKAN DI SELURUH INDONESIA MULAI TAHUN DEPAN

“Saya pakai, taman-teman Indonesia pada nanya, loh kok punya baju prancis dari mana? Boleh ndak saya beli, ya saya jual,” jelasnya saat ditemui Bloranews.com di rumahnya yang terdapat tumpukan buku-buku perpustakaan Pataba (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa).

Sus berangkat ke Rusia umur 25 pada tahun 1962 dan pulang ke Indonesia tahun 1973. Dia menghasikan masa kuliah sesambil mulung selama 11 tahun. Ia juga pernah pergi ke kutub untuk bekerja. Kerap pula di sekitar tempat tinggal di Rusia melihat-lihat area barangkali ada sesuatu yang bisa dipulung.

Sesekali waktu musim dingin, Sus pernah melihat kertas tergeletak di area tempat tinggalnya, dari kamarnya lantai empat ia turun mengambil kertas, tarnyata kertas tersebut berupa cek senilai 100 rubel. Hasilnya untuk membeli kebutuhan.

Alasan kenapa memulung ia mengambil spirit dari seorang filsuf yaitu Socrates hendak minum racun ditunggu oleh keluarga dan para muridnya, “Jangan tangisi aku, karena kematian itu kenikmatan abadi,” bagi seorang pemulung Blora bergelar doktor ini menganggap memulung adalah kenikmatan abadi.

Selain seorang pemulung, Sus banyak menelurkan karya dalam bentuk buku. Ia menyampaikan sesuatu melalui karya buku. Bahkan memakai teori guru harus lebih pintar dari muridnya. Kakaknya, Pram sebagai salah satu yang membuatnya menjadi penulis, meski tidak melegenda seperti karya Pram, namun secara kuantitas, Sus mengaku bukunya lebih banyak.

BACA JUGA :  DIKNAS AKAN LAKUKAN BDR SEBELUM LIBURAN SEKOLAH

“Pram menulis umur 15, saya menulis umur 13. Naskah pram sekarang sudah kalah dengan saya. Kalau guru kalah dengan murid, bangsa ini akan berkembang. Kalau tidak bisa mengalahkan guru berarti kan mundur,” ujarnya, Rabu (17/02).

Blora Kota Sastra Dunia. Susila Toer salah satu dari sepuluh saudara di keluarga Mastoer. Dua saudara meninggal dunia. Dari delapan saudara tersebut, enam menjadi penulis. “Cuma di sini satu keluarga enam saudara penulis semua,” begitu kata Sus sangat bangga, “Makanya Blora itu kota sastra dunia, Blora mafia sastra dunia”.

Ada salah satu pendapat yang mengatakan karya Pram diterjemahkan lebih dari 42 bahasa dan sering masuk dalam nominasi nobel. Saudara lainnya, Koesalah Soebagya Toer, menurut Sus adalah penerjemah terbaik Bahasa Rusia sedunia, Koesalah pernah mendapat penghargaan dari Presiden Rusia, Putin. Sementara naskah-naskah Soesilo juga banyak yang belum diterbitkan jadi buku, rencananya akan dicetak berkala.

Buku Pram pernah ditawar oleh luar negeri untuk difilmkan, namun Pram menolak, ia ingin buku Bumi Manusia dibuat oleh bangsanya sendiri, “Pram nasionalismenya tinggi. Duniaku bukan jabatan, duniaku bukan pangkat, duniaku bumi manusia dengan persoalannya. Jadi pram itu bukan mata duitan,” kata Soesila juga menyuplik kata-kata kakaknya.

BACA JUGA :  BANDARA NGLORAM JUGA DIRANCANG SEBAGAI TEMPAT EDUKASI

“Saya menolak buku dijadikan film, takut merusak ini (sambil menunjuk kepalanya). Kalau orang yang tidak pernah membaca buku bumi manusia ya bilagnya hebat. Saya tidak mau, takut pandangan saya dengan buku aslinya”.

Tepat hari, Kaims 17 Februari 2022 merupakan tanggal kelahirannya. Pada usianya ke 85 ini tidak menyurutkan untuk tetap berkarya dan ia juga menjadi seorang pustakawan di Perpustakaan Pataba Blora.

Program Bupati Blora satu desa dua sarjana dan satu da’i. Menyoroti hal ini, Sus menilai bertambahnya sarjana akan menjadikan pengangguran. Ia berpendapat, minimum penganggur perguruan tinggi ada 3,5 juta. Kesehatan diperbaiki, umur jadi panjang, kerjaan tidak ada, itulah yang disayangkan oleh seorang pemulung, lulus perguruan tinggi minimum Rp50 juta habis,jadi penganggur.

“Saya mikir, jadi sarjana itu untuk apa? Gelar saya saja empat tidak diakui oleh pemerintah,” ungkapnya.

Satu dari sekian harapannya, nama Pram diabadikan dalam bentuk nama jalan yang menuju rumah masa kecil Pram.

Kepada anak muda, Sus berpesan, hidup harus berani, kalah menang lain lagi. “Sekolah itu hanya membuat jadi pintar, pendidikan keluarga jadi cerdas, pendidikan pribadi itu jadi revolusioner,” tandasnya. (Jam).