BAHAYA ‘ARAH LANGKAH’ BAGI JIWA YANG SEDANG MERADANG

Jika kita berbicara tentang budaya, hal pertama yang muncul adalah cara hidup dan adat istiadat. Menurut masyarakat awam, cara hidup itu adalah bagaimana perilaku manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial dalam mempertahankan eksistensi kehidupan di lingkungan tempat tinggalnya.

Dalam sangkut paut budaya, kita diibaratkan sebagai komunitas lokal yang sedang membangun kehidupan. Lokalitas adalalah sebuah wilayah dimana tempat masyarakatnya secara mandiri dan arbitrer bertindak sebagai pelaku dan pendukung kebudayaan tersebut.

 

Novel Arah Langkah

Novel Arah Langkah

 

Meskipun di era modern ini sebuah kehidupan tidak akan lepas dari yang namanya kebudayaan. Apa yang menarik disini adalah sesuatu yang lokal, yang dekat, tidak pernah diperkenalkan lewat kelas (kelas disini berarti merepresentasikan ruang-ruang lain yang lebih luas), kecuali sesekali ada ajakan bahwa melestarikan budaya bangsa itu baik, selebihnya membiarkan berjalan alamiah.

Lalu, bahaya di sebelah mananya? Bagi kalian yang memiliki cita-cita untuk bisa menapakkan kaki disetiap segi dari negeri yang bernama Indonesia. Novel Arah Langkah ini akan semakin membangun dan membangkitkan cita-cita itu, yang kadang ingin diwujudkan tapi terkadang ingin dikubur dalam-dalam saja saking ketinggian berekspektasi.

Novel setebal 304 halaman yang setiap bab diakhiri dengan potret-potret petualangan berkelana ini ditulis oleh Fiersa Besari atau sering dipanggil “Bung”. Bung Fiersa adalah pria kelahiran Bandung yang semula mengawali kariernya sebagai musisi lambat laun juga menggemari dunia tulis menulis. Di novel ini Fiersa menceritakan tentang dirinya sendiri yang berbicara bagaimana ‘patah hati’ bisa membuat seorang Fiersa Besari berkeliling Indonesia. Gila bukan? Ini sih harus berterima kasih banget sama yang bikin patah hati. Selama dalam perjalanannya mengelilingi Indonesia itu, ia menemukan banyak kebudayaan dari berbagai macam daerah.

Novel ini bercerita untuk dua kejadian, saat ini dan masa yang sudah terjadi. Menceritakan pengalaman buruk bahkan menyenangkan, lalu kembali ke arena berkelana. Bulan April 2013, berawal dengan niat dan tujuan yang berbeda karena hati yang saling terluka, tiga pengelana ini yaitu Bung, Prem, dan Baduy memulai sebuah perjalanan menyusuri daerah-daerah di Indonesia yang mereka mulai dari pulau paling barat In donesia yaitu Sumatera. Lewat cara yang seru tapi menantang, mereka tak hanya menyaksikan langsung keindahan negeri ini, namun mereka juga harus menghadapi pertarungan dengan kegelisahan yang dibawa masing-masing.

Pertemuan Bung dengan Prem, seorang gadis tomboy dan menggemari petualangan yang juga memiliki keinginan yang sama yaitu keliling Indonesia, membawa mereka pada petualangan yang banyak mengubah hidup.

“Aku pernah bertanya pada Prem seperti apa rasanya berada di puncak gunung. Ia hanya menyuruhku untuk merasakannya sendiri. Ternyata, seperti inilah rasanya. Di ketinggian, aku merasa kecil. Aku merasa tidak menaklukan gunung, justru gununglah yang menaklukan kesombonganku” halaman 183.

Hubungannya sama lokalitas di dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari ini mengandung berbagai macam kebudayaan Nusantara. Dari penelitian sebelumnya atau penelitian terdahulu dengan menggunakan teori yang sama yaitu teori kebudayaan yang dikaji oleh Roger M Keesing dari jurnal antropologi yang berjudul “Teori-teori Budaya”. Pada jurnal tersebut menjelaskan bahwa menerima budaya sebagai subsistem ideasional oleh satu sistem yang luar biasa kompleksnya (biologis, sosial, dan simbolik), dan menurunkan model abstrak pada keputusan-keputusan yang konkrit dari kehidupan sosial manusia, seharusnya memberi kemungkinan untuk memberi dilaektika menghasilkan pengertian yang lebih dalam. 

Seperti contoh pada halaman 159-160 yaitu, “Esoknya, kami bertiga kembali datang ke daerah Makale. Ada prosesi lanjutan. Tedong-tedong  yang kemarin diadu, hari ini disembelih. Puluhan kepala tedong tergeletak tak bernyawa, sementara daging-dagingnya dibagikan. Keluarga yang ditinggalkan percaya bahwa semakin banyak kerbau yang disembelih, maka semakin cepat roh yang telah meninggal tiba di Puya (akhirat dalam kepercayaan Tana Toraja)”. Kutipan ini menceritakan bahwa setiap daerah memiliki keyakinan atau kepercayaan dan adat istiadat masing-masing yang berbeda-beda. Kebudayaan setiap daerah pun beragam. Hal yang masih menekankan untuk menganut adat istiadat di setiap daerah adalah sebuah peninggalan dari leluhur yang mana dapat dikatakan sebagai penerus.

Contoh lain di novel yang terdapat pada halaman 51 yaitu, “Yang membuat desa ini menarik selain rumah tradisionalnya adalah Fahombo: susunan batu-batu membentuk persegi panjang setinggi dua meter. Fahombo berfungsi untuk dilompati oleh  para lelaki Nias; sebuah tradisi yang dijaga oleh warga Bawomataluo.” Kutipan ini  menunjukkan bahwa warga di desa Bawomataluo, Nias, sangat menjaga erat tradisi kesenian Fahombo.

Arah Langkah akan menjadi pengantar yang cocok. Anya dengan kata, gambaran akan berkelana serta seluk beluk keindahan, duka cita, dan kebudayaan dapat terlukis dengan sempurna. Membangkitkan keinginan yang kadang ingin diwujudkan, tapi dikubur dalam-dalam karena terlalu tinggi.

Dari Arah Langkah kita belajar bahwa langkah pertama akan menentukan langkah kita berikutnya. Dan jika langkah itu ingin dimudahkan, gunakanlah cara berkomunikasi yang baik dengan setiap orang yang kita temui bahkan yang tidak pernah kita temui dalam konteks nyata. Karena satu pertemuan akan menyebabkan pertemuan lain yang akan memberi kita pengalaman dan kisah yang lain.

Novel ini sangat berkesan bagiku karena dari kisah nyata yang dialami Bung Fiersa ini saya dapat belajar bahwa masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan untuk menghilangkan rasa galau, ya emang ga gampang, tapi hidup mesti dilanjutkan walau kita mesti pula membangun kembali mood dan sebagainya agar yang telah berlalu tidak terulang lagi. Aku berharap bisa seperti Bung Fiersa yang tegar dan kuat menghadapi kenyataan yang bisa melemahkan, karena “Jika kau tak dapatkan apa yang kau impikan bukan berarti kau telah usai.” Jadilah alasan terbaik untuk siapapun agar tidak dijadikan alasan terburuk yang tak bisa dilupakan walaupun termaafkan. Antara masa lalu dan masa depan memang saling berhubungan maka jadilah masa lalu yang baik agar tidak membuat rumit keadaan.

Tentang penulis: Nur Hidayah Alifiani adalah Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang

 

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan