fbpx
OPINI  

HUTANG DAN GAYA HIDUP FLEXING

Pixabay.

Blora, BLORANEWS – Budaya negatif dalam dunia sosialita yang perlu kita hindari dan berdampak buruk pada kehidupan pribadi kita salah satunya adalah hutang. Apalagi ketika kita terjebak hutang untuk gaya hidup flexing. Awalnya memang dengan gaya hidup flexing kita berasumsi bisa termotivasi untuk kerja keras dalam meraih kesuksesan. Namun faktanya banyak diantara kita terlalu memaksakan diri untuk mengikuti gaya hidup mewah yang sebenarnya tidak sepadan dengan pendapatan yang diperoleh.

Fenomena flexing seperti saat ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah bahkan terkadang tanpa disadari kita yang awalnya menolak gaya hidup flexing malah terjebak di wilayah ini. Seperti contohnya banyak anak muda yang tergiur hutang pinjol untuk memenuhi hasrat pamer kemewahan di depan publik. Tanpa disadari mereka yang sudah terlilit hutang akan berusaha cari hutang lagi demi membayar hutang.

Ada lagi yang baru-baru ini viral di nitizen, satu keluarga bunuh diri karena terlilit hutang. Suami, istri dan 1 anak melakukan aksi bunuh diri. Tinggal 1 anak yang bertahan tidak ikut bunuh diri.

Berkaca pada kejadian tersebut, kita bisa mengambil pelajaran bahwa hutang bisa membawa petaka, apalagi bagi orang yang belum siap mental.

Gaya hidup flexing memang menjadi impian sebagian orang. Hidup bergelimang harta, fasilitas hidup mewah dan semuanya itu tidak serta merta tanpa proses. Bahkan orang yang berproses lama dan kerja keraspun terkadang masih belum bisa menikmati hasil maksimal, apalagi bagi kita yang terbiasa hidup malas. Tentu ini menjadi bahan renungan untuk kita yang selama ini selalu berhutang untuk mengikuti gaya hidup sosialita.

Tentang penulis: Siti Lestari adalah mantan ketua PC PMII Kabupaten Blora yang saat ini aktif mengelola Lembaga Pendampingan dan Pemberdayaan (Perempuan) Kinasih. 

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com.