fbpx

KESONGO : BELAJAR DARI KEPATUHAN JAKA LINGLUNG

  • Bagikan
Kesongo
Oro-oro kesongo merupakan tempat terbunuhnya sembilan anak desa oleh Jaka Linglung

Jati (25.06.2016) Bagi masyarakat Blora selatan, Oro-oro (lapangan) Kesongo dipercaya sebagai salah satu tempat bersejarah. Dalam tradisi tutur yang ada, dipercaya bahwa Oro-oro Kesongo merupakan tempat Ajisaka menghukum puteranya, Jaka Linglung karena telah memakan sembilan penggembala kambing.

 

Kesongo
Oro-oro kesongo merupakan tempat terbunuhnya sembilan anak desa oleh Jaka Linglung

Oro-oro Kesongo terletak di area perhutani KPH Randublatung, Kabupaten Blora. Secara administratif, sebagian besar lokasi Oro-oro Kesongo berlokasi di kecamatan Gabus Kabupaten Grobogan.

Oro-Oro Kesongo yang terletak di petak 141 RPH Padas BKPH Trembes ini terbagi atas tiga bagian yaitu kawasan padang rumput, kawasan rawa dan kawasan semburan lumpur. Secara keseluruhan, luas Oro-oro Kesongo kurang lebih seratus hektar.

Nama Kesongo berasal dari kisah sembilan penggembala kambing yang dimakan oleh ular raksasa yang merupakan putra dari Ajisaka, ular raksasa ini bernama Jaka Linglung. Dalam versi lain, masyarakat sekitar menyebut “Kesongo” dengan “Pesongo” yang merupakan singkatan dari apese wong songo (nasib sial sembilan penggembala kambing).

Jaka Linglung merupakan putra Ajisaka yang berwujud ular raksasa. Pada mulanya, Ajisaka enggan mengakui Jaka Linglung sebagai puteranya. Keengganan ini disampaikan Ajisaka secara halus dengan memberikan syarat kepada Jaka Linglung untuk menumpas Bajul Putih (siluman buaya putih) yang menebar teror di pantai selatan.

Jaka Linglung pun berusaha memenuhi syarat yang diberikan oleh Ajisaka dengan memburu Bajul Putih yang merupakan penjelmaan dari Dewata Cengkar, seorang Raja Kanibal yang telah dikalahkan oleh Ajisaka. Dalam pertempuran itu, Jaka Linglung berhasil membunuh Bajul Putih dan membawa kepalanya kepada Ajisaka.

Namun, Ajisaka memberi syarat kedua bagi Jaka Linglung untuk diakui sebagai putera Ajisaka. Syarat tersebut adalah Jaka Linglung harus bertapa dan tidak boleh makan ataupun minum kecuali makanan itu telah ada di dalam mulutnya. Lagi-lagi Jaka Linglung berusaha memenuhi syarat yang diberikan oleh sang ayah.

Jaka Linglung pun bertapa dengan membuka lebar-lebar mulutnya sehingga menyerupai sebuah goa ditengah lapangan. Puluhan tahun kemudian, wujud ular Jaka Linglung pun telah dipenuhi dengan semak-semak dan tumbuhan merambat. Sehingga, banyak yang mengira mulut Jaka Linglung adalah sebuah Goa.

Pada suatu hari, terjadilah hujan lebat yang disertai badai.  Sepuluh anak desa penggembala kambing berusaha mencari tempat berteduh, mereka melihat sebuah goa tidak jauh dari tempat mereka menggembala kambing. Salah satu anak dari sepuluh penggembala kambing tersebut berpenyakit kudis, kawan-kawannya menolaknya untuk ikut berteduh di goa tersebut.

Teringat oleh syarat Ajisaka, Jaka Linglung seketika menutup mulutnya sesaat setelah sembilan anak desa tersebut masuk ke dalam goa yang adalah mulut Jaka Linglung. Seorang anak berpenyakit kudis tersebut pun berlari dan mengabarkan kepada penduduk desa tentang peristiwa yang dialami sembilan temannya.

Sebagai peringatan atas peristiwa yang terjadi pada sembilan penggembala kambing tersebut, tempat itu diberi nama Pesongo (Kesongo).

Editor    : TP. Purnomo

Foto       : Ilustrasi Blora news

Sumber : Berbagai sumber

banner 120x500
  • Bagikan