fbpx

KPOP SEBAGAI MEDIA DIPLOMASI

  • Bagikan
KPOP SEBAGAI MEDIA DIPLOMASI
BTS dianggap sebagai boyband K-Pop paling berpengaruh dan menjadi aset negara bagi Korea Selatan.

Di kawasan Asia, Korea Selatan berhasil menunjukkan eksistensinya sebagai negara dengan perekonomian yang paling makmur, hal ini membuat Korea Selatan menduduki posisi ke-13 sebagai negara dengan perekonomian terkuat di dunia. Terdapat berbagai daya tarik yang disuguhkan Korea Selatan kepada masyarakat internasional, antara lain makanan khasnya, tempat pariwisata, hingga kebudayaannya yang mampu menjadi sorotan berbagai negara di dunia.

 

KPOP SEBAGAI MEDIA DIPLOMASI
BTS dianggap sebagai boyband K-Pop paling berpengaruh dan menjadi aset negara bagi Korea Selatan.

 

Penyebaran budaya yang kini menjadi perhatian dunia antara lain sebuah fenomena yang diciptakan Korea Selatan melalui Korean Wave yang lebih umum dikenal dengan istilah Korean Pop atau K-Pop. Budaya K-Pop mampu bersaing dengan budaya Barat melalui tren busananya, dramanya, maupun lewat aliran musiknya. Maraknya K-Pop di kancah internasional, membuat Korea Selatan menjadikannya sebagai alat diplomasi soft power untuk mempromosikan kebudayaan negaranya. 

Keberhasilan Korea Selatan dalam menunjukkan eksistensinya sebagai negara maju di dunia melalui kebudayaan, ditandai dengan semakin meningkatnya penikmat musik K-Pop yang tersebar hampir di seluruh dunia yang terdiri dari berbagai kalangan. Hal ini juga membuktikan Korea Selatan berhasil mencapai kepentingan nasionalnya melalui diplomasi publik. Kesuksesan hallyu tidak terlepas dari kerjasama yang tercipta antara pemerintah Korea Selatan dengan aktor non pemerintah lainnya seperti seorang pengusaha, media, ataupun selebritis yang turut mempromosikan kebudayaan Korea.

Pengaruh lain yang ditimbulkan K-Pop bagi perekonomian Korea Selatan adalah dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke negara tersebut.Dimana pada awalnya hanya terdapat kurang lebih 15.35 juta wisatawan di tahun 2018 menjadi 17.5 juta wisatawan pada tahun 2019, namun pada tahun 2020 ini jumlah wisatawan di Korea menurun drastis akibat dampak yang ditimbulkan oleh pandemi covid-19. Alasan mengapa wisatawan tertarik berkunjung ke Korea Selatan karena terdapat banyak tempat pariwisata yang dijadikan sebagai latar pengambilan gambar dalam pembuatan musik video K-Pop ataupun syuting drama. Dan mengapa angka wisatawan di Korea terus meningkat, hal ini disebabkan seiring berkembangnya kepopuleran hallyu di kancah internasional.

Fenomena Korean Wave melalui K-Pop dampaknya akan dengan mudah dijumpai di kalangan remaja di Indonesia, namun kini bukan hanya remaja saja yang tengah merasakan euforia K-Pop, bahkan anak-anak sampai orang dewasa pun terkena pengaruhnya. Selain hal itu, euforia K-Pop yang sangat kuat di Indonesia, membuat ratusan remaja yang tersebar hampir di setiap kota berkumpul untuk membentuk sebuah komunitas yang dibentuk sebagai sarana bertukar informasi seputar kebudayaan Korea Selatan. Bahkan tak jarang penggemar K-Pop dari berbagai negara yang turut mempelajari bahasa dan tulisan Korea untuk mempermudah mereka dalam menghafal lagu ataupun berkomunikasi dengan penggemar lainnya. 

Bukan suatu rahasia umum lagi hallyu menjadi tren bagi generasi milenial di dunia, tak terkecuali Indonesia. Bahkan Indonesia disebut sebagai negara dengan penyumbang pengaruh terbesar dalam kesuksesan K-Pop setelah negara Korea sendiri. Hal ini membuktikan, minat K-Pop yang tinggi bagi kalangan remaja di Indonesia. Terkait hal itu, tentu saja banyak industri hiburan di Korea memberikan apresiasinya kepada penggemar Indonesia.

Pemicu utama terjadinya hallyu K-Pop pertama kali berasal dari drama Korea bertajuk Winter Sonata, Boys Before Flower, Full House, yang fenomenal pada waktu itu. Serta munculnya beberapa musisi Korea seperti Super Junior, TVXQ, SNSD, Shinee, BOA, Bigbang, 2NE1 yang turut membuat K-Pop semakin dikenal dunia untuk pertama kalinya. Situasi ini turut mempromosikan bahasa dan kebudayaan Korea ke kancah global. Popularitas drama Korea dan musik K-Pop, menjadi faktor utama melejitnya minat masyarakat internasional terhadap bahasa negeri Gingseng tersebut. 

Saat ini, BTS dianggap sebagai boyband K-Pop paling berpengaruh dan menjadi aset negara bagi Korea Selatan. Bagaimana tidak, berkat BTS ekonomi Korea Selatan meningkat hingga menyentuh angka RP 21,1 Miliar. Hal ini terjadi setelah BTS memecahkan rekor, trending di YouTube dan puncaki Billboard Hot 100, berkat perilisan lagu terbarunya “Dynamite”. Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan, Park Yang Woo menganggap bahwa raihan yang dicapai oleh BTS menjadikan mereka sebagai kebanggaan budaya Korea Selatan. 

BTS juga merupakan alasan bagi banyak wisatawan asing yang ingin berkunjung ke Korea Selatan. Selain berpengaruh pada bidang pariwisata, dampak dari ketenaran yang telah dicapai BTS juga berpengaruh terhadap roda transaksi ekspor Korea Selatan, seperti pakaian, kosmetik, dan bahan makanan yang berkaitan dengan BTS. Maka tak khayal jika BTS disebut sebagai ‘Ikon Ekonomi’ anyar Korea Selatan. Selain hal itu pemerintah Korea Selatan juga dikenal sudah lama memberikan perhatian khusus terhadap industri musik mereka. Hal ini terbukti, sekitar tahun 1990-an, ketika sebagian besar wilayah Asia mengalami krisis keuangan, Korea Selatan justru sebaliknya,dengan membentuk Kementerian Kebudayaan dengan departemen khusus K-Pop, yang menghabiskan dana jutaan dolar demi membangun citra negaranya lewat perkembangan musik.

Setelah Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Korea Selatan ke-9 Roh Moo Hyun menandatangani Joint Declaration on Strategic Partnership yang dilakukan pada tanggal 4 Desember 2006 di Jakarta, hubungan yang terjalin antara Indonesia dengan Korea Selatan mengalami peningkatan yang signifikan. Penandatanganan Deklarasi ini berfungsi guna mempromosikan persahabatan dan kerjasama yang terjalin antara kedua negara pada abad 21 terkhusus dalam tiga pilar kerjasama di bidang ekonomi, keamanan, sosial budaya, dan politik. 

Mesranya hubungan dagang yang tercipta antara Indonesia dengan Korea Selatan, tak lepas dari dampak popularitas K-Pop maupun drama bagi sebagian besar kalangan muda di Indonesia . Terbukti dengan beberapa selebritis K-Pop yang telah menggelar konser, meet and great, showcase yang tiketnya laris manis terjual. Dalam beberapa kesempatan acara bisnis di Indonesia, Korea Selatan mengajukan artisnya untuk mempromosikan bisnis dan budaya negara mereka. Kepopuleran hallyu di dunia berperan sangat penting bagi perbaikan kualitas Korea Selatan, entah itu dalam bidang ekonomi maupun posisi negaranya dalam cakupan regional maupun internasional.

Sebagai salah satu bentuk apresiasi popularitas Korean Wave di Indonesia, Kedutaan Besar Republik Korea Selatan di Indonesia menyelenggarakan serangkaian kegiatan pameran kebudayaan Korea, bertajuk “Korea-Indonesia Week”, yang sudah diselenggarakan sejak tahun 2009. Hal ini diselenggarakan dengan tujuan lain untuk memperkuat hubungan bilateral di bidang kebudayaan antara Indonesia dengan Korea Selatan, atas respon positif yang diberikan masyarakat Indonesia terhadap kebudayaan Korea. Selain hal itu, di Jakarta terdapat Pusat Kebudayaan Korea yang dibangun oleh Pemerintah Korea Selatan guna membantu masyarakat Indonesia mengetahui informasi tentang kebudayaan Korea Selatan.

Tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap popularitas K-Pop juga memberi keuntungan bagi beberapa perusahaan di Indonesia, misalkan saja saat ini banyak situs jual beli online yang menggunakan selebritis Korea sebagai Brand Ambassador mereka guna menarik konsumen. Tentu saja hal ini mempererat mitra kerja Indonesia dengan Korea dalam bidang perekonomian. Bukan hanya itu saja, banyak perusahaan Korea yang menanamkan sahamnya di Indonesia antara lain brand elektronik dari Korea yang sangat terkenal yaitu Samsung dan juga LG, bukan hanya itu beberapa brand kecantikan asal Korea pun turut meramaikan pasar Indonesia dan hal ini tentu saja banyak mendapatkan keuntungan yang signifikan untuk kedua negara, karena memacu keuntungan perekonomian yang saling menguntungkan.

Namun diluar hal itu, masuknya budaya hallyu ke Indonesia juga membawa dampak positif dan negatif. Dampak positif mewabahnya demam K-Pop bagi masyarakat Indonesia antara lain, memicu minat masyarakat untuk mempelajari bahasa asing, sehingga mempermudah mereka mencari pekerjaan yang berbasis keahlian bahasa asing. Sedangkan dampak negatif yang ditimbulkan adalah lunturnya sikap nasionalis dan kebudayaan Indonesia. Hal tersebut dikarenakan hampir sebagian besar gaya hidup di Indonesia mulai meniru kebudayaan Korea. Untuk menghindari hal tersebut masyarakat dihimbau agar dapat memfilter kebudayaan Korea yang masuk, sehingga tidak melunturkan nilai nasionalisme Indonesia.

Menanggapi hal ini, menurut saya pribadi, menyukai K-Pop tentu merupakan suatu hal yang wajar karena hal itu lazim dan tidak ada larangan hukum yang mengikat. Namun, sebagai pemuda penerus bangsa, harapan Indonesia di masa depan, kita tidak boleh menghilangkan rasa nasionalisme kita, diatas rasa suka kita terhadap budaya Korea. Dan kita sebagai generasi penerus bangsa, tentu saja masa depan Indonesia ada ditangan kita. Hal ini menuntut kita kedepannya agar bisa menyamai posisi yang diraih Korea Selatan pada saat ini, dimana kita tidak lagi hanya sebagai penikmat namun juga pemikat. Pemuda saat ini, bukan sepenuhnya tentang bagaimana dia menyukai budaya Korea, namun bagaimana dia bisa bisa belajar dari kesuksesan yang dicapai Korea, dalam mengendalikan perekonomian negaranya melalui musiknya yang mendunia.

 

Tentang penulis : Daniatussalma Talitha Alifa adalah Mahasiswa UII Semester 1 Jurusan Hubungan Internasional.

Alamat: Jl. Agil Kusumadya 1/7 Blora.

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com.

banner 120x500
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan