fbpx

KURANG AIR, HASIL PANEN PETANI TAK MAKSIMAL

  • Bagikan

Ngawen- Susman (49) Petani di Desa Sambongrejo harus mengalami nasib pahit setelah padi yang ditanam kekurangan air.

Biasanya, pada musim tanam pertama menghasilkan 18 sak atau sekitar 7 kwintal gabah basah, untuk panen kedua bisa mendapatkan 12 sak.

Menurutnya, Musim kering kali  ini mengakibatkan, padi yang ditanam di sawah seluas 110m2 ini kekurangan air, akibatnya hasil panen tak maksimal dan banyak padi yang tak berisi (gabuk_jawa).

“Kekurangan air tidak maksimal, sebetulnya sudah umur,” jelasnya ditemui di Sawah.

Setelah panen, dirinya berencana menanam kacang sempat atau kacang gronong, mengingat harga jual pada tahun lalu sangat bagus.

Tidak sendirian, puluhan hektar sawah yang berada di dataran agak tinggi (genengan_jawa) mengalami nasib serupa, karena persawahan tersebut hanya mengandalkan tadah hujan.

Nasib berbeda dengan petani yang berada di dekat embung, dimana petani dapat memanfaatkan air dari embung untuk mengairi sawah.

Sementara itu, sejumlah Embung di Kabupaten Blora mulai mengering, salah satunya embung Bruk yang berada di Desa Sambongrejo Kecamatan Ngawen, tampak dasar embung sudah mulai ditumbuhi rumput yang menghijau.

Embung yang berada di perbatasan Desa Ngrambitan Kecamatan Japah dengan Desa Sambongrejo Kecamatan Ngawen tersebut sama sekali tak tampak air mengalir. Embung tersebut merupakan salah satu embung yang ada di Kabupaten Blora yang mengandalkan tadah hujan.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Wilayah I Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Blora Surat mengungkapkan, jumlah keseluruhan embung di kabupaten Blora ada sekitar 60 buah.

“Jumlah embung ada sekitar 60 an embung sebagian besar memang embung tadah hujan, ada beberapa embung yang memang sudah mulai mengalami kekeringan karena airnya memang dipakai petani untuk mencukupi kebutuhan air irigasi tanaman di Masa Tanam (MT) 2 tahun ini, akibat beberapa bulan yang lalu memang tidak ada hujan sekitar kurang lebih 1 bulan, diantaranya embung yang sudah mengalami kekeringan adalah embung bruk dan embung sendangmulyo,”Jelasnya.

Meskipun demikian lanjutnya, sampai saat ini ada sejumlah embung yang belum mengalami kekeringan meskipun debit airnya berkurang.

“Tidak semua embung yang mengalami kekeringan, sampai saat ini masih ada embung yang belum mengalami kekeringan seperti embung Plered, embung Klopoduwur, embung Jurangjero, embung Rowo, dan embung kemiri masih ada airnya meskipun kapasitas airnya sudah menyusut karena dimanfaatkan para petani untuk kebutuhan air irigasi tanaman padi pada Masa Tanam (MT) 2 ini.”lanjutnya.

Sedangkan untuk tahun ini (2021) tidak ada pembangunan embung baru, pemerintah hanya akan melakukan rehabilitasi di sejumlah embung.

“Tahun ini pembangunan embung baru belum ada, hanya pekerjaan rehabilitasi embung sumurboto kec. Jepon dan embung tutup kec.tunjungan yg dibiayai dari dana Banprov Pemprov Jateng, apabila tdk kena refocusing akan dilaksanakan pada tahun ini, sampai saat ini kami masih menunggu proses verifikasi dari Pemprov Jateng utk kepastian jadi tidaknya kegiatan tersebut.” Pungkasnya. (Dj)

  • Bagikan