fbpx

MEMAHAMI KARAKTER WAYANG SEBAGAI FILOSOFI HIDUP

Pertunjukan wayang kulit.
Pertunjukan wayang kulit.

Blora, BLORANEWS – Masyarakat Jawa sangat kental dengan kesenian wayang. Selain menjadi sebuah pertunjukan, wayang banyak memberikan pemahaman tentang filosofi kehidupan. Karakternya tak lepas dari kehidupan nyata.

“Dalam dunia pewayangan ada makna filosofinya masing-masing. Kita bisa memahami watak dan karakter manusia dari wayang. Wayang itu sebagai tontonan dan tuntunan,” kata Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kabupaten Blora, Sukarno saat ditemui belum lama ini.

Ia menjelaskan, wajah wayang berwarna pink bersuara keras, temperamental. Jika wayang berwarna pink dan hidungnya sedikit mendongak itu lebih temperamental, bersumbu pendek, gampang tersulut dan sensitif.

BACA JUGA :  PERTUNJUKAN WAYANG KULIT MALAM PUNCAK SHE JIT

“Kalau wajahnya dingkluk (tunduk) tapi raksasa, tangannya mengepal, itu suaranya besar. Tapi kalau dingkluknya satria yang giginya tidak tampak dan tangannya seolah memberi sesuatu, suaranya pasti lirih. Jadi semua punya karakter, semua simbol manusia,” terangnya.

Dunia pewayangan ada yang menjadi bupati, patih, ada kerajaan. Kemudian rakyat yang biasanya wayang ditata di sebelah kanan kiri saat pertunjukan berlangsung, tidak untuk dimainkan. Kelir (background) putih melambangkan dunia, lampu artinya matahari.

BACA JUGA :  BLORA MILIKI RATUSAN DALANG

“Wayang setelah selesai dimainkan, masuk ke kotak. Artinya semua manusia yang hidup akan masuk kotak (meninggal), masuk tanah. Di sana mulut tidak bicara, yang bicara tangan dan kakinya. Lalu untuk gedebog (pohon pisang) itu tanah, sebagai tempat pemujaan kita. Itu filosofi wayang,” ucapnya.

Sukarno menilai, dunia luar sangat tertarik dengan wayang. Wayang tidak hanya sekadar tontonan dan hiburan melainkan sebagai tuntunan hidup. Wayang juga merupakan sebagai sarana edukasi kepada masyarakat. Menurutnya, semua harus berpartisipasi dalam pelaksanaan dan pembangunan.

BACA JUGA :  22 DALANG TAMPIL, PAGELARAN WAYANG SAMPAI SUBUH

“Kalau tontonan untuk dilihat, kalua tuntunan itu filosofi. Wayang menjadi jembatan antara pemerintah dengan rakyat. Wayang bisa masuk di goro-goro, pengajian. Gamelannya bisa diaransemen ke semua genre music, mulai keroncong, langgam, dangsut bahkan rock bisa,” pungkasnya. (jam)