fbpx
OPINI  

MEMBUMIKAN GORENGAN

Memasuki Bulan Sya’ban merupakan kabar baik bagi mayoritas masyarakat Jawa tak terkecuali Blora. Bulan Sya’ban dalam istilah Jawa adalah Bulan Ruwah. Pada bulan ini banyak masyarakat mengadakan khajat ruwahan untuk mendoakan leluhur yang sudah meninggal dunia.
Penjual minyak goreng di Jalan Pemuda Blora.

Menjelang bulan Ramadhan, kota Blora diguncang dengan kenaikan harga minyak goreng akibat dicabutnya HET (Harga Eceran Tertinggi) oleh pemerintah sejak, Rabu (16/3/2022) lalu menyusul adanya kelangkaan minyak goreng yang terjadi belakangan ini.

Namun langkah tersebut justru membuat harga minyak goreng melangit. Bahkan di beberapa wilayah, harganya hampir menembus Rp. 30.000 per liter. Ibarat lingkaran setan, mahal dan langkanya minyak goreng tersebut berimbas pada yang lain, antara lain kenaikan harga makanan sejuta umat, yaitu gorengan.

Pedagang gorengan dalam menghadapi masalah minyak goreng harus memutar otak agar bisa tetap berdagang. Ada yang mengurangi size gorengan dengan harga yang tetap, ada juga yang menambah harga dengan ukuran gorengan yang sama sebelumnya. Harga gorengan yang sebelumnya Rp. 500 per biji hingga Rp. 2.000 per 3 biji, kini menjadi Rp. 2.500 per 3 biji.

BACA JUGA :  MINYAK LANGKA, KELUH PELAKU UMKM TAK BISA PRODUKSI KRIPIK TEMPE

Sangat mengherankan bagaimana hal ini terjadi dengan status Indonesia yang merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Secara logis tidak seharusnya kita mengalami bencana kelangkaan minyak goreng seperti ini.

Diyakini terdapat pihak-pihak yang sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan. Oknum-oknum kapitalistik, yang hanya memikirkan keuntungan pribadinya semata tanpa memperdulikan kepentingan orang banyak.

BACA JUGA :  WARGA SAMBONG RELA ANTRE BERJAM JAM DEMI 1 LITER MINYAK GORENG

Mohon ditindak dengan tegas apabila oknum-oknum ini ditemukan. Beri hukuman yang berat dan menjerakan supaya peristiwa ini tidak terulang. Jangan dianggap enteng karena ini menyangkut kebutuhan pokok masyarakat.

Semoga tidak terbukti bahwa hukum memang hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Besar harapan harga minyak goreng bisa kembali normal dan beban masyarakat bisa berkurang, karena menjelang Ramadhan biasanya harga-harga bahan yang lain juga akan merangkak naik.

BACA JUGA :  EKSPOR MINYAK GORENG DILARANG, BEGINI TANGGAPAN GANJAR

Semoga kondisi membaik saat memasuki bulan Ramadhan, agar masyarakat bisa fokus beribadah tanpa dipusingkan dengan naiknya harga-harga. Minimal, harga gorengan kembali membumi.

Tentang penulis, Arimbi merupakan seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Kelurahan Bangkle, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora.

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com