fbpx

MUKTI ALI DARI CEPU (1923 – 2004):SANG TOKOH TIGA KOTA (BAGIAN 3)

  • Bagikan
Mukti ali tokoh tiga kota
Mukti Ali membangun paradigma pemikirannya di berbagai kota di tanah air dan luar negeri
Mukti ali tokoh tiga kota
Mukti Ali membangun paradigma pemikirannya di berbagai kota di tanah air dan luar negeri

Cepu (11.06.2016) Mukti Ali dari Cepu merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam khazanah pemikiran islam di tanah air. Perjalanan pemikirannya bermula dari menjadi santri dengan pola pemikiran tradisionalis, menjadi mahasiswa yang kritis kemudian menjadi pengambil kebijakan Departemen Agama RI yang berwawasan modernis.

Cepu, Kabupaten Blora menjadi titik tolak perjalanan pemikiran Mukti Ali. Di kota ini setidaknya dalam enam belas tahun kehidupannya mukti ali mengalami kehidupan sebagai santri tradisionalis. Pola pikir tradisionalis ini mengantarkan Mukti Ali dekat bahkan menjadi anggota partai politik berhaluan islam – tradisionalis saat itu, Masyumi. Bahkan pada tahun 1946, saat usianya 23 tahun Mukti Ali menjadi anggota Dewan Wakil Rakyat (sekarang DPRD) Kabupaten Blora dari partai Masyumi.

Jogjakarta, menjadian perhentian selanjutnya dari Bapak Perbandingan Agama ini. Menjadi mahasiswa fakultas studi agama STI pada tahun 1946 tahun yang sama dengan aktivitasnya sebagai anggota Dewan Wakil Rakyat di Blora. Di Jogjakarta, Mukti Ali tidak hanya belajar melainkan juga turut berjuang untuk mempertahankan kedaulatan tanah air pada agresi militer belanda tahun 1949.

Di Jogajakarta pula, Mukti Ali menginisiasi berdirinya kelompok pemikir modernis yang bernama Limited Group pada 1967-1972. Limited Group merupakan diskusi terbatas yang pada awalnya hanya diikuti oleh empat tokoh pemikir tanah air, Mukti Ali sendiri, Djohan Effendi (cendekiawan muslim, mensesneg presiden Gus Dur) , Muhammad Dawam Rahardjo (tokoh ekonomi Indonesia) dan Ahmad Wahib (tokoh pembaharu islam Indonesia). Di kemudian hari, Limited Group diikuti para mahasiswa Jogjakarta dan sekitarnya.

Jakarta, menjadi tempat perhentian sang cendekiawan asal Blora ini. Mukti Ali mulai berkiprah di ibu kota pada tahun 1960, satu tahun setelah menikah dengan Siti As’adah. Di Jakarta, Mukti Ali mengajar di IAIN dan mempopulerkan kajian perbandingan agama. Popularitas kajian ini membuat para pengambil kebijakan di IAIN membuka jurusan perbandingan agama beberapa tahun kemudian.

Pada 1971, Mukti Ali diangkat menjadi Menteri Agama RI pada Kabinet pembangunan II. Limited Group di Jogjakarta diserahkannya kepada para cendekiawan – cendekiawan lainnya, sementara Mukti Ali harus fokus membenahi Departemen Agama yang saat itu sarat dengan kepentingan politik dan praktek kolusi yang menggurita.

Tugas sebagai menteri dijalaninya sampai tahun 1978. Sepanjang kiprahnya sebagai Menteri Agama, Mukti Ali berhasil menginisiasi berdirinya Majelis Ulama Indonesia, Melahirkan UU no 1 tahun 1994 tentang Perkawinan, SKB Tiga Menteri no 037/U/1975 tentang pengelolaan Madrasah, dan SKB bersama Menteri Pertanian no 034/A/1972 tentang pembinaan pesantren dalam bidang pertanian dan peternakan.

Kota–kota di luar negeri yang pernah menjadi tempat persinggahan sang Cendekiawan asli kota mustika ini antara lain, Jedah (Arab Saudi), Karachi (pakistan) dan Montreal (Kanada) [.]

 

Sumber    : Ali Munhanif / Prof. Mukti Ali, Rimbun Natamarga

Editor    : M. A. Mahrus

Foto      : Bloranews

Baca Juga :

  • Bagikan