fbpx

PANDEMI MAKIN MIRIS

  • Bagikan
PANDEMI MAKIN MIRIS
Mawar sastrajawa.

Hampir dua tahun kita berada di bawah kungkungan wabah covid-19 dan sejauh ini belum diketahui secara pasti kapan akhir dari penderitaan ini. Pemerintah bersikeras mengupayakan bagaimana mengatasi situasi kasar ini begitupun masyarakat berdoa agar lekas selesai. Polisi, Tentara, Satpol PP berada di garis terdepan penegakan hukum. Tenaga kesehatan kerja cepat menangani pasien. Pemerintah selalu memberi himbauan kepada masyarakat patuh protokol kesehatan. Media massa terus saja mengabarkan informasi berapa banyak kematian sebab corona, kesembuhannya, berapa banyak yang terkena penyakitnya.

Berbagai upaya terbaik dilakukan masih belum menyelesaikan penyakit kecil yang melanda dunia. Kucuran dana besar-besaran dikeluarkan oleh pemerintah untuk wabah ini sampai bantuan sosial diberikan kepada masyarakat. Perihal ini dampaknya bukan hanya persoalan kesehatan saja namun juga persoalan ekonomi dan mental psikologis. PHK sulit dihindarkan, beribadah di tempat pemujaan hampir dilarang, tanpa ada aktivitas mengundang masa, toa masjid hamper tiap hari mengumumkan kematian saudara kita, mobil jenazah tak henti mengusung mayat ke kuburan.

Sejak awal covid-19 terjadi sudah banyak kontroversi beredar dengan dalih penyakit ini adalah permainan dari orang-orang elit dan penguasa atau apalah, cekcok antara satgas dan orang pencari nafkah kerap terjadi yang memicu baku hantam. Tidak terkecuali kasus di wilayah Kabupaten Blora secara geografis terletak paling ujung timur jawa tengah, aku mengira di beberapa daerah mengalami kasus yang tak jauh berbeda. 

Selama dua tahun lebih ini masih ada juga masyarakat yang tidak percaya kemudian mempertanyakan kebenaran tentang ada atau tidaknya pandemi ini karena melihat kecurangan dari pihak atasan, merasa tidak mendapatkan pelayanan sebagaimana mestinya. Padahal pemerintah sering melakukan sosialisasi tapi masih saja kepercayaan pudar. Sebagian dari mereka menganggap corona adalah mitos. Entahlah aku sendiri masih agak kesulitan menemukan tingkat akurasinya ketika mendapat informasi hanya sepenggal-penggal.

Kasus covid -19 dari hari ke hari mengalami peningkatan dan penurunan, cluster-cluster baru banyak bermunculan, varian baru menambah ketakutan orang-orang. Beberapa minggu terakhir aku mendengar kabar dari berita, grup whatsapp, sampai obrolan warung tentang rumah sakit penuh pasien yang membuat pihak rumah sakit kewalahan, orang yang kritis diambang kekhawatiran hilang nyawa menyoal masih berputar-putar mencari rumah sakit yang masih kosong, ibu hamil pecah ketubannya di atas mobil telat penanganan nyawa taruhannya. Termasuk stok oksigen langka, bahkan ada rumor mengatakan adanya penimbunan obat vaksin. Apalagi masyarakat yang sakit dan takut ketika didiagnosis sebagai penderita penyakit corona karena dalam kurang lebih dua bulan terakhir banyak masyarakat mengalami penyakit flu, batuk panas, pilek, hilang penciuman dan indera perasa namun banyak juga mereka yang enggan untuk berkonsultasi dengan dokter karena takut diagnosa covid.

Situasi semakin rumit saat masyarakat ketakutan disuntik vaksin dikarenakan banyak orang mati setelah divaksin padahal ada kemungkinan imunitas dalam tubuhnya lemah. Pemerintah sendiri berpikir bagaimana dapat menjelaskan kepada rakyat agar vaksinasi berjalan lancar dan pandemi segera berakhir. Pandangan personalku seolah-olah orang yang terkena corona merasa dikucilkan dari lingkungan sekalipun ada program jogo tonggo, saat meninggal karena corona tidak boleh ada takziah jika ada harus ketat prokes. Di sinilah mental kita diuji. Keadaan semakin keruh ketika adanya anggota DPRD Kabupaten Blora melakukan kunker di jombang mendapat kritikan banyak pihak, di Blora masyarakat bingung kehilangan pekerjaan karena Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) khususnya pedagang yang berjualan di area lapangan kridosono, alun-alun dan sepanjang jalan pemuda, disini mencari nafkah dilarang dan dibubarkan tapi malah anggota dewan keasikan kunjungan.

Semakin hari situasi semakin rumit dengan adanya aparat menegakkan hukum atas instruksi pemerintah dan warga juga banyak berkeluh atas sulitnya bekerja yang dibatasi, mereka bingung bagaimana caranya protes hanya mampu sedikit meluapkannya dengan aparat setempat. Tidak akan mendapat uang jika dilarang dan merasa aparat enak mendapat gaji setiap bulan. Belum lagi masyarakat tiap hari dijejali informasi yang tidak penting, memainkan salah satu produk dengan alasan menambah stamina tubuh. Timbul pertanyaan ada apa dibalik semua ini?

Aku tidak bisa mengatakan bahwa korban hanyalah salah satu pihak dan menguntungkan pihak tertentu tapi secara pandangan subjektif semua terdampak dan semua korban, entah dari pihak tenaga kesehatan, pemerintah, ASN, penegak hukum, wartawan dan tentunya masyarakat secara luas. Sekolahan apalagi, jauh harapan bangsa untuk cerdas. Saat malam hari Kota Blora seperti kota mati karena tidak ada kehidupan lampu pun dipadamkan. Dari awal memang bukan jalur strategis seperti pantura atau tol, hari-hari biasa sudah sepi apalagi ditambah PPKM, Polisi memblokade jalan masuk kota. Di dalamnya terdapat alun-alun, Pendopo Bupati, kantor sekretariat daerah atau kantor bupati, pertokoan. Jika di tutup semua tidak tahu apa yang sedang terjadi di sana karena kita disibukkan dengan persoalan pandemi, melakukan KKN dan transaksi tertentu pun kita tidak tahu. Jangan sampai wabah corona dimanfaatkan sebagai lahan bisnis sepihak, penderitaan dimainkan untuk memperkaya diri amatlah picik.

Ajakan tidak berkerumun dan tidur saja dirumah kerap dilontarkan saat operasi sambil menyemprotkan air berkandungan desinfektan. Hari terus berlalu corona belum mereda, bicara harus berdasarkan data, apa benar seperti itu? Data saja bisa dibuat sendiri dan sangat mudah dimanipulasi tidak berdasarkan fakta. Pada opini ini aku ingin bertanya apakah bisa kita mengatasi wabah ini tanpa berkiblat dimanapun? Lakukan observasi penelitian barangkali menemukan solusi tersendiri dan bisa ditawarkan ke daerah tetangga. Tapi apakah mungkin terjadi. Opini hanyalah opini yang beredar bebas di kalangan masyarakat, hanya jadi angin lalu belaka. Dari besar ada yang lebih besar, terang-terangan tidak percaya mesti berhadapan dengan berbagai ancaman.

Dilemma sekali Negeri ini. Akan terjadi apalagi jika penyekatan diperpanjang? Orang kecil seperti aku hanya bisa mengharapkan kebijakan yang bijak. Semua pilihan memang ada konsekuensinya, cobalah berpikir secara sehat. Akhir cerita sudah mulai ada kesadaran masyarakat, aku menemui banyak warga melakukan ‘dede atau memanaskan tubuh di bawah terik sinar matahari.

Semoga pandemi secepatnya selesai, bisa melaksanakan aktivitas seperti sebelum adanya wabah. Tetap mematuhi protokol kesehatan dengan sering cuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, jauhi kerumunan, kurangi mobilisasi dan berinteraksi langsung. Semoga selalu diberi kesehatan, sudah banyak tetangga kita, saudara kita, keluarga kita meninggal akibat covid-19. Atau mungkin kita sendiri pernah mengalami penyakit yang terindikasi corona. Jaga imunitas tubuh dan tidak lupa selalu berdoa kepada Allah SWT. Blora (16/07/2021).

Tentang penulis: Mawar Sastrajawa merupakan nama pena Achmad Niam Jamil, adalah mahasiswa Tarbiyah STAI Al Muhammad Cepu.

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

banner 120x500
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan