Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

PANGGUNG BARONGAN

Pentas Barongan dahulu mungkin telah berubah dan barangkali tidak semeriah saat ini. Sudah tentu suguhan di atas panggung yang sempit tidak lagi mensyaratkan klakohan Barongan yang suka berlari mengejar, dan pentul-nya yang suka gandrung emak-emak yang nonton. 

 

Ilustrasi barongan

Ilustrasi

 

Decak sound system telah banyak mengurangi, bahkan menghabisi sepenuhnya, kewajiban untuk menyuguhkan suara-suara nathak, suara khas dari gigitan Gembongwijoyo ini. Alunan sederhana komposisi gamelan, ketuk kendhang kempul, sungguh cukup untuk menghipnotis warga, untuk segera berkumpul, mendekat dan melingkar, tua dan muda.

Sebuah pentas jalanan ini membuat tanah lapang yang semula sepi, menjadi mendadak ramai, dikerumuni orang-orang penuh penasaran, juga anak-anak yang bimbang antara takut dan berani. Gendruwon yang membawa pedang berbahan kayu jati, berbaju kadut goni, semula bengong tak banyak gerak, tiba-tiba tergopoh menuntaskan adegan perang-perangan ini. Gerombolan seniman pinggiran, segera berkemas untuk pergi, dan datang lagi di lain hari.

Orang Blora banyak lupa kejadian masa itu, tetapi mengingat pasti, keramaian Barongan yang pernah terjadi. Itu tak jadi soal, mungkin saat itu dia adalah salah satu dari anak yang mangkel sekaligus suka, juga kesel jika harus berlari dikejar-kejar Barongan. Atau bahkan tom-tomen jika Barongan akan menjadi jahat dan muncul dalam mimpinya di malam hari. Itu tak terbukti, nyatanya esok hari iapun lupa dan segera berlari mengejar tontonan Barongan lagi.

Barongan tidak sehalus lakon Bimasuci untuk diterjemahkan. Bagi yang tua dan penikmat filosofi, tentu tidak akan dengan mudah mengurai maksud Barongan. Kronologi panjang tentang apa yang dilampahi orang-orang Blora, sudah semestinya dapat dijadikan patokan. Chandra Kirana pernah menjadi lakon saat itu sampai saat kemudian, tetapi bukan harus berarti putri jelita yang lari dari keraton, yang wajib dicari bahkan dilamar sang Pangeran. Banyu Urip, air kehidupan, bukan semata sendang sintru, mata air, atau sumur yang harus dikunjungi sebagai pelepas dahaga.

Seniman Barongan membawa semangat bagaimana untuk hidup dan bagaimana bertahan, menemukan perlindungan saat gelap, dan dimana mencari suaka. Hidupnya yang di jalanan tak berarti harus dikonotasikan menjadi orang jalang. Kerasnya suara dan kuatnya karakter tokoh yang dimainkan, tak sepantasnya untuk ndarani, bahwa mereka tidak mempunyai hati.

Justru karena gerombolan seniman ini, dia suatu ketika, mengantarkan keselamatan para Satria lelana, beberapa pangeran muda, di rimba hutan Blora. Kita tidak akan pernah tahu wajah-wajah yang disembunyikan topeng. Itulah salah satu alasan, mengapa semua topeng harus lucu, untuk menghibur rakyat yang lelah dengan keributan Istana. Dulu di zaman transisi, kelompok seniman ini juga pernah menyertai, menyatukan para santri Wali dengan cantrik Empu atau Resi.

Tentu tidak akan bisa sebuah seni dimaksudkan untuk menyangkal laju kreasi, bahkan seni Barongan adalah produk kreasi itu sendiri. Tetapi bagaimana Barongan Blora tetap mempunyai Jati Diri.

Tentang penulis: Totok Supriyanto merupakan pegiat Komunitas Bumi Budaya

 

*Opini di atas adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi Bloranews.com

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan