fbpx

BARONGAN DAN PARA PENGEMBARA

  • Bagikan
BARONGAN DAN PARA PENGEMBARA
Barongan Klasik Blora, Karya Prof. Muksin

Tentang bagaimana awal pertunjukan tari-tarian topeng Jawa, sampai penampilan Barongan Blora itu sendiri, adalah dari sekelompok seniman jalanan yang berkelana bebas (wong ambebarang). Bahwa pertunjukan ini awalnya menjadi tontonan untuk komunitas kecil perdesaan, dimana para pemain berjalan sambIl berkeliling dari satu desa ke desa yang lainnya. 

Para seniman yang selalu berpindah-pindah tempat ini, bisa jadi merupakan bagian dari kelompok besar para pengembara, gelandangan, atau berandalan, yang tampaknya pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa masa lalu. Sehingga, dan tidak bisa dipungkiri, bahwa mereka juga mempengaruhi penyebaran juga penyatuan budaya, seni juga sastra Jawa, dan bahkan nilai-nilai yang terkadung di dalamnya. 

Selain para anggota sendiri, kelompok ini terdiri dari orang-orang luar yang ikut bergabung, seperti pedagang, para santri, pelayan yang sedang mencari tuan tempatnya bekerja, seorang murid yang menjalankan perintah ilmu-ilmu suci Gurunya, atau, seorang murid Mpu, pengrajin logam dan senjata. Dan para pelarian perang, sampai terkadang bangsawan yang mengembara (satria lelana). Mereka ikut bergabung dengan kelompok kesenian Topeng dalam jangka waktu yang lama. Sehingga, menjadi sulit dibedakan seorang penjahat, orang buangan, atau seorang pengembara, antara kelompok berandal atau kelompok pasukan kerajaan di antara mereka.

Berbagai situasi dalam fakta sejarah Blora, akan dapat dipahami, ketika menganggap keberadaan kelompok pengembara dan “pelarian” perang ini, telah melintas dan menyebar di seluruh wilayah hutan Blora. Mereka tidak terikat dengan kewilayahan, tidak hidup dalam konteks desa dan gender, dapat dengan mudah menolak otoritas pemilik tanah atau bahkan otoritas seorang Bupati. Dengan kata lain, mereka hanya patuh karena kesadarannya sendiri. 

Adalah perang besar yang terkenal dalam sejarah Jawa yang melibatkan wilayah Blora sebagai lintasan dan palagan perangnya, adalah perang yang dikepalai oleh Trunojoyo, atau dikenal dengan peristiwa jatuhnya Plered Mataram. 50.000 pasukan Mataram yang bergerak dari Selatan Jawa dengan mengambil jalur Bengawan Solo saat menuju Tuban, dipimpin oleh Pangeran Anom (Amangkurat II), dengan tragis dikalahkan oleh 9.000 pasukan gabungan Trunojoyo. Perang itu terjadi di timur Tuban (Gegodog) di tahun 1676, puluhan ribu pasukan Mataram yang kalah, lari mencari hidup menyusup menuju penjuru hutan pegunungan Kendeng Blora, sebagian besar mengambil jalannya sendiri menuju Karta. Trunojoyo yang bermarkas di Kediri berhasil melumpuhkan dan merebut Plered (Mataram) dari Amangkurat I di tahun 1677.

Kemudian, geger China yang berujung sebuah perang kolosal, dari Batavia menuju Jawa Tengah pada tahun 1740 – 1741, penyebab jatuhnya Kertasura, peristiwa ini dapat dipahami sepenuhnya ketika menganggap bahwa pengembara dan “brandalan” tersebar di seluruh Jawa, selain fakta bahwa telah bermunculan orang-orang Indo-Cina dalam jumlah banyak, setelah sebelumnya orang dari Madura, Bali dan Sumatra. 

Kemenangan Raden Said (Alap-alap Sambernyawa) di hutan Blora tahun 1756 M, dengan terbunuhnya Komandan Kompeni Van Der Pol, menjadikan gambaran yang cukup jelas tentang bagaimana para berandalan hutan dan sisa-sisa prajurit Mangkunegara berkumpul dari ambebarang, sehingga berhasil mengalahkan ribuan pasukan musuhnya.

Seratus tahun kemudian pada perang Jawa, salah satu komandan utama Diponegoro, Sosrodilogo dari Jipang, pada tahun 1827 berhasil mengalahkan pasukan Kolonel Nahuys di hutan Cabean dan menguasai seluruh daerah Blora dan Bojonegoro. Kemenangan itu pastinya tidak hanya didukung oleh para santri yang melawan Belanda, tetapi juga didukung oleh para berandalan yang hidup di sepanjang bengawan, juga di dalam hutan-hutan Blora.

Kemudian tentang para pengembara, dapat disebutkan tentang legenda para Sunan (Wali), penyebar agama Islam di Jawa paling pertama, dari legenda Sunan Bonang di Menden (Blora Selatan) sampai legenda Sunan Pojok (Alun-alun), juga Sunan Ampel (Blora Utara) murid Sunan Kalijaga. Menurut legenda yang beredar, beberapa tokoh tersebut muncul dari sebuah pengembaraan atau berkelana, dan baru setelah itu memiliki tempat tinggal tetap untuk memastikan pengaruhya.

Tentang penulis: Totok Supriyanto adalah pemerhati sejarah dan budaya.

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

banner 120x500
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan