PENGEMBANGAN POTENSI BATIK BLORA

Motif-motif batik Blora cukup variatif meskipun masih cenderung sederhana dan ikonik. Perlu dilakukan pengembangan motif dengan mengedepankan nilai-nilai filosofis karena batik tidak sekadar tekstil yang fungsional, batik adalah industri berbasis budaya.

Batik Blora cenderung berwarna cerah menyala, tidak seperti batik-batik pada umumnya di Jogja-Solo. Warna-warna pada batik Blora tidak memiliki makna karena warna batik dibuat sesuai dengan keinginan pengrajin dan sesuai dengan pesanan pelanggan. Pewarna yang digunakan adalah pewarna-pewarna sintetis, yaitu pewarnaan yang terbuat dari bahan-bahan kimia berupa remazol (Masykuroh, 2015).

Pemanfaatan bahan pewarna sintetis pada kain pembuatan batik saat ini memang banyak digunakan karena proses pengerjaan lebih mudah dan tidak memakan waktu lama, serta warna yang dihasilkan lebih cerah dan bervariasi. Namun, dengan pemakaian bahan pewarna sintetis ini juga menimbulkan efek samping yang dapat mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan (Purwanto, 2018). Hal ini menjadi salah satu kekurangan batik Blora karena pewarnaan pada batik menjadi salah satu unsur penting dalam menciptakan karya seni batik yang indah. Gambaran situasi ini membuktikan jika batik Blora sebagai sebuah pusaka perlu dikelola dengan matang dalam pengembangannya. Pengembangan batik blora setidaknya harus memegang prinsip tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals). Kenapa?

Pertama, penulis menilai bahwa kemunculan batik di tiap-tiap daerah termasuk di Blora akibat dari euforia masyarakat terhadap pengakuan oleh dunia (UNESCO) bisa saja menimbulkan masalah baru jika proses pengembangannya tidak diperhatikan. Tiga elemen penting yang dimiliki batik sebagai warisan budaya tak benda yang diakui oleh dunia antara lain batik sebagai keterampilan tradisional, batik sebagai tradisi lisan dan sebuah ekspresi masyarakat, serta batik sebagai ritual atau kebiasaan yang menyusun kehidupan berkomunitas. Ketiga elemen dasar tersebut harus dipegang teguh oleh siapapun yang ingin mengembangkan batik dan penulis menilai bahwa batik Blora dalam pengembangannya saat ini kurang mengedepankan esensi tersebut.

 

Proses pewarnaan batik dengan pewarna alam di Galeri Batik Jawa (Dokumentasi pribadi, 8 Oktober 2019)

Proses pewarnaan batik dengan pewarna alam di Galeri Batik Jawa (Dokumentasi pribadi, 8 Oktober 2019)

 

Kedua, industri batik yang bermunculan tanpa memiliki apresiasi terhadap batik sebagai sebuah produk kebudayaan adalah ancaman nyata terhadap keberlangsungan batik itu sendiri. Banyak industri batik yang mengejar nilai ekonomisnya saja tanpa peduli dengan nilai-nilai lainnya, seperti pada kasus industri batik printing dan batik sablon. Industri seperti ini dapat menurunkan kualitas dan merusak pasar batik tradisional.

Ketiga, pengetahuan masyarakat tentang simbolisme pola dan motif batik mulai terkikis. Kreatifitas masyarakat dalam menciptakan motif batik berdasarkan pengalaman kebudayaan harus terus dirangsang agar dapat menciptakan motif batik yang otentik dan memiliki nilai eksklusif. Pada beberapa kasus, pembatik di Blora memproduksi ulang batik bermotif ganja yang dipesan oleh seorang konsumen dengan alasan ternyata banyak peminatnya. Lalu, ada pula yang membuat batik bermotif gigi pesanan seorang dokter gigi. Motif batik yang diproduksi atas dasar pesanan konsumen memang lebih cepat menghasilkan uang namun tidak menjamin keberlangsungan permintaan di masa depan. Pembatik di Blora harus memiliki pola dan motif yang otentik sebagai sebuah produk yang eksklusif.

Keempat, pengembangan batik di Blora harus berprinsip pada tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals). Batik Blora yang dominan menggunakan pewarna sintetis dapat merusak lingkungan dan dapat berdampak negatif bagi kesehatan. Batik yang diwarnai menggunakan pewarna kimia akan sangat mencemari lingkungan karena pewarna yang sudah tidak lagi konsentrat (mineral berharga yang dipisahkan dari biji setelah melalui pengolahan tertentu) yang dibuang akan menjadi limbah yang mencemari lingkungan sekitar, terutama pada air tanah dan air sungai. Kain yang menggunakan pewarna sintetis juga pernah teruji mengandung bahan kimia yang bersifat karsinogenik yang dapat menimbulkan penyakit kanker, terutama kanker kulit (Purwanto, 2018). Oleh karena itu penting sekali untuk memberikan edukasi dan kampanye kepada produsen batik agar beralih ke pewarna alam yang terbukti memiliki banyak sekali manfaat untuk mencapai masa depan yang lebih baik bagi semua generasi.

Sekiranya perlu dipertimbangkan terkait upaya pengembangan batik Blora di atas, beberapa saran dari penulis antara lain sebagai berikut. Perlu adanya pendataan dan pengarsipan terkait motif dan (jaringan) pelaku industri batik di Blora sebagai fondasi pengembangan batik berbasis riset. Mengadakan lokakarya teknik membatik, desain pola/motif batik, dan pewarnaan batik menggunakan pewarna alam sebagai upaya edukasi dan pelatihan. Sosialisasi perlindungan hak atas kekayaan intelektual juga berguna bagi para desainer pola/motif batik untuk melindungi ciptaaan mereka. Sedangkan upaya promosi dapat dikembangkan dengan memberikan lokakarya teknik pemasaran bagi para pengusaha dan mempromosikan potensi batik Blora di ruang-ruang publik bagi masyarakat umum. Sehingga dapat membentuk apresiasi dan ekosistem yang lebih sehat untuk keberlangsungan Batik Blora.

Tentang penulis: Vicky Ferdian Saputra merupakan mahasiswa Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta

*Opini di atas adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Bloranews.com 

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Comments are closed.