fbpx

PERADABAN BARU DAN POTENSI KEPUNAHAN MANUSIA

  • Bagikan
PERADABAN BARU DAN POTENSI KEPUNAHAN MANUSIA
Mohammad Sodikhin Kasravi.

Manusia hari ini hidup di zaman yang dianggap sebagai puncak sejarah  peradaban. Disrupsi teknologi dan indrustrialisasi membawa manusia pada pola kehidupan yang serba instan, canggih dan mutakhir. Hingga banyak yang menganggap narasi besar ini adalah ujung dari kemajuan peradaban.

Namun ketika kita lucuti lebih dalam dan mencoba menggali perspektif lain dari berbagai keunggulan yang diberikan, kita akan menemukan titik dimana kemajuan ini mengandung potensi negatif yang sangat mengerikan. Potensi itu berupa kehancuran semesta dan kepunahan manusia. Suatu kondisi yang terlampau angker dan dihindari tentunya.

Francis Fukuyama dalam karyanya _The Great Disruption_ mencoba membongkar dampak negatif dari peradaban yang hari ini sering kita sebut dengan _Disruption Era_. Dengan artikulasi yang lugas, Pemikir Amerika tersebut menyampaikan bahwa era disrupsi/disrupsi teknologi telah menggiring manusia pada naluri individual yang tinggi dan menafikan kerja kolektif kolegial. Dimana persaingan dianggap lebih penting daripada kerjasama (individualisme berada diatas komunalisme).

Situasi diatas akan berimplikasi pada kerenggangan sosial, distorsi moral dan tingkat kriminalitas yang tinggi. Untuk membuktikan, kita bisa menilik kondisi sosial yang hari ini terjadi. Dimana manusia lebih bahagia bermedia sosial daripada bercengkrama dengan sesama, menempatkan harta dan jabatan diatas moral dan kemanusiaan, serta kejahatan dan kekerasan yang mulai menyeruak dan menjadi suatu hal yang wajar untuk dilakukan. Hingga pada akhirnya manusia akan terjabak pada lingkaran persaingan, peperangan dan kebinasaan.

Selain disrupsi teknologi yang berpotensi membawa kehancura bagi manusia, banyak juga hal lain yang bisa mendekatkan manusia dengan kebinasaannya. Seperti industrialisasi yang menyebabkan global warming, obat-obatan kimia yang bisa merusak lingkungan dan menyebabkan krisis ekologi, serta makanan instan yang lambat laun akan mengganggu kesehatan manusia.

Jadi, semua kemegahan yang kita elu-elukan ternyata menyembunyikan dampak negatif yang mencekam. Dan mungkin saja slogan yang sering kita gemakan untuk menyambut kembegahan ini telah beralih kalimat. Yang mulanya “Beradaptasi Atau Mati”, berubah menjadi “Beradaptasi Dan Mati”.

Tentang Penulis :  Mohammad Sodikhin Kasravi adalah kader PMII cabang Blora.

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

  • Bagikan