fbpx

TAKTIK POLITIK MACHIAVELLI DAN KRITIK GERAKAN MAHASISWA

  • Bagikan
TAKTIK POLITIK MACHIAVELLI DAN KRITIK GERAKAN MAHASISWA
Mohammad Sodikhin Kasravi.

Berbicara tentang Sang Realis; Niccolo Machiavelli (1469-1527), setidaknya akan muncul dua persepsi dalam mendeskripsikan jejak intelektualnya. Pertama, sebagai perintis modernitas yang menjebol pola-pola legitimasi kekuasaan tradisional (filsafat skolastik). Kedua, sebagai perancang taktik politik kekuasaan. Untuk yang terakhir disebutkan, orang-orang soleh akan menilai gagasan Machiavelli sebagai praktik busuk kekuasaan, karena dirasa menyimpang dari moralitas dan kemanusiaan.

 

TAKTIK POLITIK MACHIAVELLI DAN KRITIK GERAKAN MAHASISWA
Mohammad Sodikhin Kasravi.

 

Gagasan politik Machiavelli terangkum dalam buku Il Principe (Sang Pangeran, terbit 1532), Buku yang membuat namanya menjadi sangat termasyhur. Dalam buku tersebut Machiavelli menuangkan gagasannya tentang tips menjadi pemimpin, diantaranya mencakup konsep moralitas palsu, karakter diktator sang pemimpin, pragmatisme, dominasi arena kekuasaan, dan seterusnya yang hampir semuanya bernada dehumanis dan dismoralitas.

Kemudian apa relevansinya dengan gerakan mahasiswa?

Sudah menjadi rahasia umum kalau pemikiran Machiavelli diam-diam menjadi praktik politik di banyak negara, tak terkecuali di negara Indonesia. Hampir semua pemimpin di ruang birokrasi secara terselubung merealisir pemikiran Machiavelli. Dan seharusnya posisi mahasiswa yang katanya idealis adalah sebagai kritikus penguasa yang menerapkan praktik politik tersebut. Bukan malah berlindung di ruang birokrasi & menjadi aktualisatornya. Namun naasnya, kalimat kedualah yang sering terjadi.

Sebagai contoh, mahasiswa yang tergabung dalam organisasi tertentu (baik intra maupun ekstra). Mereka yang menjadi pemimpin akan cenderung menyingkirkan secara struktural orang-orang yang potensial menjadi saingannya, dan merekrut orang-orang yang patuh serta mau mengabdi kepadanya. Dalam bahasa lain, mereka hanya akan memasang orang-orang yang bisa dijadikan alat kekuasaan dan membuang orang-orang yang dianggapnya sebagai benalu. Itu merupakan “konsep dominasi arena kekuasaan Machiavellian” yang seharusnya tidak dipraktikkan oleh mahasiswa.

Kemudian dilain sisi, banyak sekali mahasiswa yang bergerak dalam kemunafikan. Seolah-olah retorikanya revolusioner, namun gerakannya reformis. Doktrinasinya anti penindasan, namun praksisnya menjadi mafia kecil. Orasinya membela kaum mustadh’afin, namun apatis ketika diajak advokasi petani. Dan yang paling parah, banyak di antara mahasiswa yang hari ini bermesraan dengan pemerintah untuk melanggengkan status quo dan meneruskan tradisi penindasan terhadap rakyat.

Jadi, pada persoalan ini tugas pokok mahasiswa adalah sebagai controller dan kritikus penguasa yang hari ini masih menerapkan praktik politik Machiavelli. Sejatinya, kelalaian terhadap tugas tersebut merupakan bentuk pengingkaran terhadap fitrah mahasiswa.

 

Tentang penulis : Mohammad Sodikhin Kasravi. Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Blora, saat ini sedang konsen pada kaderisasi.

 

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com : 

  • Bagikan