Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

TIKUNGAN SENTONO

Dari hulunya di Wonogiri dan Ponorogo, aliran itu tak henti berkelok,  menyusur celah pegunungan, area pertanian, kampung, kota dan hutan. Hingga di satu tikungan tepat di selatan Blora, sungai terbesar dan terpanjang di Jawa itu menyapa Sentono yang lama terdiam. Yah… Sentono sudah terlalu lama membisu dengan keangkerannya, tak hirau dengan hiruk pikuk dunia luar dan hanya sesekali menjadi suaka bagi orang-orang yang butuh tempat pelarian.

 

festival Sentono

festival Sentono

 

Dan entah karena bisikan siapa, sekelompok anak muda mengoyak keheningan itu dengan ontran-ontran. Mereka cancut taliwondo opyak-opyak diri dan sekelilingnya, memantik api menjadi gemebyar hingga menyihir ribuan penduduk untuk datang. Mereka membawa barang baru, yakni apa yang mereka sebut Festival Sentono; festival gotong royong disaat gotong royong sudah menjadi barang langka.

Semerbakpun memikat Jipang Ulu, kampung seberang yang masih saudara, sungguhpun lama tak saling sapa. Jipang Ulu menyuguhkan Festival Perahunya, menambah semarak gawe dua kampung di tepian Bengawan Solo itu.

Itulah bukti keberanian muda, yang mungkin tersengat dengan celathu Pramudya Ananta Toer; “Anak muda tanpa keberanian adalah ternak, karena faalnya dalam hidup hanyalah beternak semata.”

*****

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan