fbpx
OPINI  

TIDAK BERHIJAB LANTARAN TAKUT BEDA

Blora, BLORANEWS – Mode busana di Indonesia memang dari jaman ke jaman mengalami perkembangan yang signifikan. Tak ubahnya selera makanan, selera berpakaianpun mengalami perubahan drastis. Saat ini pasar lebih responsif pada baju gombrong, hijab besar bahkan bercadar, meskipun mereka yang memakai busana tersebut bukan dari golongan islam kanan. Di kita tidak lagi mempedulikan dogma islam kanan atau kiri, namun lebih pada suka atau tidak suka.

Hampir semua orang ( perempuan) dalam kesehariannya saat ini memakai jilbab. Jilbab bagi kita tidak lagi menjadi sesuatu yang patut dibanggakan. Dulu orang yang memakai jilbab identik dengan suasana pesantren, tokoh agama dan yang paling penting terdapat nuansa religi bagi pemakainya.
Memang sebelum berkembang mode jilbab seperti sekarang ini, orang yang sudah memutuskan memakai jilbab bisa di artikan dalam keseharian dia berangkat dari keluarga relijius.

Begitu juga dalam perkembangan politik. Label partai islam hari ini hanya bisa merubah penampilan kader perempuan yang awalnya tidak berjilbab menjadi berjilbab. Tendensi mereka ketika terpaksa memakai jilbab biar sama dengan yang lain, bukan karena idiologi yang ditanamkan oleh partai islam pada kadernya. Busana muslim menjadi trend mode yang minati masyarat.

Lantas mengapa perempuan yang tidak berjilbab merasa beda dengan yang lain? Hakekatnya berjilbab atau tidak itu pilihan. Yang menjadi persoalan adalah ketika orang yang tidak berjilbab mendapat perlakuan beda. Selera memakai jilbab atau tidak memakai itu kembali ke masing-masing individu. Jangan sampai seseorang menjadi terpaksa memakai jilbab karena takut dianggap beda.

Yang lebih ekstrim lagi, kader ormas islam memakai jilbab bukan karena mereka takut surga neraka tapi lebih pada pantas dan tidaknya mereka memilih busana. Ajaran islam yang mereka pakai legetimasi dalam berorganisasi tidak cukup untuk bisa merubah gaya hidup islam yang saat ini di tandai dengan jilbab menjadi islam ala nusantara yang apa adanya.

Tentang penulis: Siti Lestari adalah mantan ketua PC PMII Kabupaten Blora yang saat ini aktif mengelola Lembaga Pendampingan dan Pemberdayaan (Perempuan) Kinasih. 

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com.