fbpx

CAMPUR BAWUR DI BULAN SURO, TOLAK BALAK DAN MERAWAT KEARIFAN LOKAL

  • Bagikan
Tradisi Campur Bawur menyambut Bulan Suro di Desa Temulus Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora
Tradisi Campur Bawur menyambut Bulan Suro di Desa Temulus Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora

Randublatung- Bulan Suro merupakan bulan permulaan dalam kalender jawa. Di bulan ini, berbagai tradisi rakyat yang kental dengan nuansa mistis digelar. Salah satunya, tradisi ‘campur bawur’ yang berlangsung di Desa Temulus Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora.

 

Tradisi Campur Bawur menyambut Bulan Suro di Desa Temulus Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora
Tradisi Campur Bawur menyambut Bulan Suro di Desa Temulus Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora

 

Campur bawur merupakan acara adat dimana warga berkumpul dan membawa berbagai jajanan pasar seperti nagasari, apem, gemblong dan lain sebagainya. Mereka juga membawa rowotan seperti ubi jalar rebus maupun kacang tanah yang direbus.

“Secara turun-temurun, tradisi campur bawur dipercaya menjadi sarana tolak balak dan digelar tepat di hari pertama Bulan Suro,” terang tokoh adat sekaligus Modin Temulus, Zainuri, Minggu (01/09).

Campur bawur dimulai dengan berkumpulnya warga desa dengan berbagai makanan yang mereka bawa dari rumah. Dilanjutkan dengan membaca doa yang dipimpin oleh Modin Zainuri. Tepat setelah itu, warga pun saling berebut jajanan yang telah didoakan.

“Ini wujud gotong royong. Jajan yang kita bawa, akan dirasakan orang lain. Demikian pula sebaliknya, kita juga merasakan jajanan olahan dari orang lain. Semua membaur, inilah kenapa tradisi ini bernama campur bawur,” imbuh Zainuri panjang lebar.

Disamping itu, menurut Zainuri, melalui tradisi campur bawur, warga desa diingatkan secara tidak langsung pentingnya menjaga kerukunan dan kebersamaan. Sehingga, segala problematika yang ada di desa dapat teratasi dengan adanya solidaritas antar warga. (irc)

  • Bagikan