fbpx

DARI MESIR SAMPAI KE JAWA

  • Bagikan
DARI MESIR SAMPAI KE JAWA
Piramida.

Di Mesir, kota Mamluk yang telah pindah ke Islam kemudian mendirikan kerajaan sendiri. Untuk memberikan kesan legitimasi, otoritas sekuler dan spiritual dipisah dan mendedikasikan urusan itu kepada keturunan Abbassiyah, yang memang memiliki basis kekuatan terbesar di sana. Sekitar tahun 1200, salah satu dari khalifah yang bermasalah, meminta bantuan penguasa Mongolia Jengis-Khan, jauh di Asia Tengah untuk membantu memberontak. Adalah Hulagu Khan, keturunan Jengis-Khan yang merebut Baghdad, menghancurkan dan mengakhiri kekuasaan Abbassiyah sekaligus sebagai era keruntuhan Masa Keemasan Islam (1258).

Tetapi sebelum kekhalifahan Abbassiyah berakhir, kaum muslim telah sempat menyebar di Asia Selatan dan beberapa sudah mendiami Nusantara. Sekitar sebelum tahun 1000, seorang penguasa Turki dari Persia, Ghazna menaklukkan Balochistan, Afghanistan dan wilayah Indus. Mahmud mendirikan pusat ilmu pengetahuan Islam di Samarkand. Pada akhir abad ke-12 kekaisaran ini runtuh lagi, karena Sultan lainnya, Mu’izz Addin Muhammad yang berdarah Persia, berhasil menaklukkan seluruh India Utara dan akhirnya juga Gudjarat (1196). Penaklukan kota Gujarat dapat dianggap sebagai titik awal untuk Islamisasi kepulauan Nusantara dan Malaka.

Gujarat adalah wilayah pesisir di Teluk Cambay yang mudah dijangkau oleh jalur navigasi, berlokasi di utara Bombay. Ketika jalur perdagangan maritim semakin berkuasa, kapal-kapal dari Arab, Persia, India, Malaya, dan bahkan orang-orang Yunani berlabuh sekaligus berniaga di pelabuhan ini. Gujarat adalah titik peristirahatan dalam rute laut terjauh dari dunia Barat dan dari Asia Timur. Sebagian penduduk Gujarat sudah mulai memeluk Islam dan bahkan menyebar sampai ke pulau Jawa, penganut agama Islam secara sporadis telah datang, baik secara permanen atau sementara. Ini dibuktikan dengan batu nisan Lèran di Manyar, Gresik. Dengan sendirinya, sebuah pusat peradaban Islam kuno sudah ada di Lèran, sebelum masjid pertama Gresik. Seorang wanita dimakamkan dengan batu nisan bertulis nama Arab; bertahun Hijrah, sepadan tahun 1082 M, atau 1102 M. Perbedaan tahun ini dapat dipahami semenjak terjadi kerusakan pada prasasti dan pembacaanya menjadi tidak jelas lagi.

Setelah penaklukan Gujarat pada tahun 1196, jumlah penganut Islam meningkat. Jika saat pertama mereka datang ke Nusantara sebagai seorang Hindu, maka sekarang lebih seperti sebagai orang Muslim. Jatuhnya Baghdad pada tahun 1258, berdampak pada jalur perdangangan maritim, para pedagang dari Barat tidak bisa lagi melalui Tigris dan Teluk Persia, melainkan berlayar melalui Laut Merah. Sehingga secara tidak langsung mempromosikan perdagangan jalur lalu lintas Gujarat. Di Sumatra pada akhir abad ke-13 sudah ada negeri-negeri dengan Pangeran seorang muslim: Perlak (dari tahun 1292), Samudra Pasai (Aceh), dimana Sultan pertamanya meninggal pada 1297. Seorang utusan yang dikirim pada tahun 1281 oleh Kerajaan Malayu ke Cina adalah seorang Muslim.

Tetapi semua itu tidak berjalan mulus di Jawa. Para Pangeran Hindu di Majapahit dan kerajaan-kerajaan bawahannya, masih berkuasa di dataran Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan juga Pajajaran di Jawa Barat. Pada abad ke 14 dan 15, jumlah orang pendatang Islam di Pantai Utara Jawa terus bertambah, diantaranya pedagang dari Gujarat, Malaka dan Sumatra, dengan beberapa orang Persia, diantaranya orang-orang asli India dan Gujarat. Sebaliknya, banyak awak kapal dan pedagang Jawa yang menetap di kota dagang Malaka pun menjadi seorang muslim. Bandar niaga terbesar dan tersibuk di Jawa pada saat itu adalah Tuban dan Gresik, tempat-tempat perdagangan perdagangan terpenting produk rempah di

Nusantara. Banyak orang Cina yang kemudian menjadi makmur dan beberapa di antaranya masuk menjadi Islam. Namun, orang Jawa pedalaman, anak wanua (para petani) dan tuan tanah, tetaplah orang Hindu, demikian pula pemimpin mereka.

Para pendatang Muslim di kota-kota pelabuhan jarang membawa seorang wanita. Sehingga mereka menikahi wanita pribumi, dan istri-istri mereka, atau setidaknya anak-anak mereka, juga menjadi masuk Islam. Dari makam seorang wanita tak dikenal di Gresik, dengan batu bertulis dan tahun yang masih tersisa hingga hari ini, sampai makam Malik Ibrahim, yang bisa jadi seorang Persia, dapat dijadikan petunjuk adanya orang penting di masa itu juga masa sebelumnya yang pasti bermukim di Leran. Sebuah nama yang mirip dengan Lwaram, atau Ngloram, yang sebelumnya telah diperkenalkan di Jawa 1007 M.

Makam kuno lain dengan jenis yang sama juga dapat ditemukan di dekat makam Malik Ibrahim di “Gapura Wétan”. Gerbang dibangun dalam gaya Hindu-Jawa, tetapi tanpa patung-patung pagan. Batu marmer panjang di makam dengan tulisan Arab dan bertahun (1419 M) itu pasti didatangkan dari luar Nusantara. Sedangkan tiga abad lebih tua, Batu Lèran, di makam seorang wanita sederhana, harus menerima prasasti yang agak cacat. Menandakan telah marak orang kaya di antara pedagang asing di kota-kota pesisir itu. Tak bisa dipungkiri bahwa kekayaan juga memberi kekuatan kasta dan prestise di dunia Timur. Sebagaimana para wanita kelas atas, atau se-kasta dengan putri-putri kaya dari bupati pesisir Majapahit ini, sedemikian itu pula wanita Jawa yang bergengsi pada waktu itu melakukan pernikahannya. Disebutkan bahwa seorang wanita Islam, seorang putri dari Campa, menikahi Kertawijaya, raja Majapahit (1447-1451), dan bahwa setelah kematiannya pada tahun 1448, dia dimakamkan menurut ritus Islam.

Sebanding dengan munculnya keluarga Islam dan hilangnya pengaruh Hindu, semakin banyak pula Bupati pesisir dan para saudagar pendatang yang kemudian menjadi terbebas dari kedaulatan kerajaan Majapahit. Mereka tampaknya bergabung, bersamaan dengan runtuhnya kerajaan karena ketidakberdayaan diplomasi istana.

Bahwa dalam literatur Jawa, dan sebagian besar, menceritakan awal kehidupan orang-orang Islam di Jawa sebagai “kehidupan orang suci”. Adalah sebuah Hagiologi, bagaimanapun itu bukanlah catatan atau buku sejarah, tetapi hanya cerita yang ditulis pada waktu tertentu dari apa yang orang katakan. Orang-orang suci ini kemudian disebut Waliullah, yaitu utusan Tuhan yang tepercaya, dan dikisahkan sebagai seorang pendakwah sekaligus penyebar agama Islam di Jawa. Namun ajaibnya, kisah kehidupan orang-orang suci ini tidak berkonsep perubahan yang lamban, dan disajikan seolah-olah penduduk negeri Jawa dahulu adalah orang-orang Hindu yang kemudian secara segera menjadi mayoritas Islam. Bahwasanya, sebagian besar orang Jawa telah berpindah ke Islam secara individu, tanpa perang dan bahkan tanpa disadari, tetapi proses ini berlangsung selama berabad-abad. Terkesan para pujangga sepertinya tidak lalu menjadi khawatir tentang kebenaran kronologis. Apa yang sebenarnya terjadi, dia sendiri juga tidak mengalami. Sebuah esensi nilai historis dari hagiologi akan dapat ditemukan, ketika membandingkan naskah-naskah Jawa ini dengan semisal; kesaksian orang Portugis yang sezaman dan apa yang ditulisnya tentang Jawa waktu itu. Tetapi tulisan-tulisan itu memang selalu menarik dan mungkin dibuat khusus untuk orang Jawa yang selalu terkesima akan cerita romansa, sesuai dengan kebutuhan populis saat itu.

Dari Berbagai sumber.

Tentang penulis : Totok Supriyanto adalah pemerhati sejarah dan budaya.

 

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

  • Bagikan