HAJI, RITUAL DAN SPIRITUAL

Bulan Dzulhijjah bagi umat muslim biasa mengenalnya dengan Bulan Haji (Musim haji). Sebab pada bulan ini mayoritas umat muslim di dunia melaksanakan Rukun Islam yang kelima yakni Ibadah Haji.

Di Indonesia sendiri yang masyarakatnya beragama Islam tak ayal jika keinginan untuk menunaikan Ibadah Haji sangat besar. Dibuktikan dengan jumlah pendaftar haji dengan kuota yang disediakan pemerintah terjadi ketimpangan. Al hasil terjadi antrean beberapa tahun lamanya, untuk bisa melaksanakan Ibadah Haji.

 

Ilustrasi

Ilustrasi

 

Dalam 2019 ini misalnya,  terjadi penambahan kuota yang diberikan oleh pemerintah Arab Saudi kepada Indonesia sebesar 10.000. Semula kuota awal yang didapat Indonesia hanya 221.000 Jemaah, hingga akhirnya terjadi penambahan kuota menjadi 231.000 Jemaah, dikutip dari kompas.com (15/4/2019).

Membludaknya umat muslim yang mendaftar Ibadah Haji, menjadikan pula motivasi umat muslim lainnya untuk ikut mendaftar. Disebabkan pula dengan sebuahmindset kalkulasi masa tunggu awal mendaftar hingga usia pada hari keberangkatan. Sebab, selain Ibadah Haji dilakukan atas dasar mampu secara financial tetapi juga dalam hal fisik dan keilmuan.

Dari catatan Kementerian Agama (Kemenag), waktu tunggu paling cepat adalah 11 tahun di Maluku, Sulawesi Utara, dan Gorontalo. Sedangkan yang paling lama di Sulawesi Selatan sampai 39 tahun. Bisa dibayangkan saja jika mendaftar haji pada umur 30 tahun, berarti baru bisa berangkat pada usia 69 tahun.

Masa tunggu yang lama tersebut sebenarnya bisa menjadi waktu untuk mempersiapkan para jemaah calon haji.  Baik mempersiapkan diri dari segi spiritual, financial, fisik dan keilmuan. Jangan sampai masa tunggu yang begitu lama menjadi sia-sia.

Minimal, peningkatan ilmu keagamaan, baik dalam hal Ibadah ataupun pengetahuan.

 

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan