fbpx

KISAH DIBALIK MANUSIA SILVER DI PERSIMPANGAN

  • Bagikan
Kisah manusia silver, Giarto (27), seorang pengamen dengan gaya berbeda pada umumnya. Ia menggantungkan ekonominya dengan cara menghiasi tubuhnya memakai cat besi berwarna silver. Berjalan di persimpangan jalan sambil membawa kardus untuk wadah uang dari pengendara yang melintas.
Manusia Silver, Giarto.

Blora – Kisah manusia silver, Giarto (27), seorang pengamen dengan gaya berbeda pada umumnya. Ia menggantungkan ekonominya dengan cara menghiasi tubuhnya memakai cat besi berwarna silver. Berjalan di persimpangan jalan sambil membawa kardus untuk wadah uang dari pengendara yang melintas.

Giarto, pria asal Desa Kalangan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, bercerita menyoal keterpaksaannya menjadi manusia silver karena tuntutan ekonomi. Sebelum pandemi melanda, Ia sempat bekerja sebagai tukang bangunan. Sejak Covid-19 dirinya kehilangan pekerjaan sehingga memilih menjadi manusia silver.

“Semenjak pandemi tidak ada yang ngajak kerja bangunan lagi, ya enggak bisa kemana-mana. Musim pandemi, kalau enggak ada yang mengajak, ya sulit. Mau bagaimana lagi, untuk kebutuhan menafkahi anak dan istri,” ungkapnya di Pertigaan Kejaksaan Negeri Blora, Selasa (16/11).

Hampir dua tahun Giarto menjadi seperti itu, Selain di Blora Ia juga menjadi manusia silver di daerah Kudus dan Pati, terkadang ia bersama temannya. Hanya butuh cat silver dan waktu kurang lebih 3 jam untuk menghiasi tubuhnya. Atas lakonnya ia sempat mengalami iritasi pada sekitar mata sampai menimbulkan luka.

“Pendapatan tidak tentu, mas, kadang-kadang sehari dapat Rp 200.000, tapi kalau pas hujan dapat Rp 20.000. Belum lagi jika diuber-uber oleh Satpol PP,” ujarnya. (jam).

  • Bagikan