fbpx

KISAH PETANI PORANG DI BLORA YANG RAUB KEUNTUNGAN HINGGA RATUSAN JUTA RUPIAH

  • Bagikan
KISAH PETANI PORANG DI BLORA YANG RAUB KEUNTUNGAN HINGGA RATUSAN JUTA RUPIAH
Heriyanto, petani porang

Blora – Hampir setiap orang menginginkan keuntungan di setiap usaha yang dilakukan. Ini seperti hanya kisah seorang petani porang asal Desa Karanggeneng, Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora bernama Heriyanto yang sukses meraub keuntungan hingga ratusan juta rupiah dalam setahunnya.

Heriyanto memulai kariernya sebagai petani porang sekitar empat tahun yang lalu dengan modal Rp 7 juta untuk membeli bibit porang (katak). Kini, dengan berbagai jerih payah yang dilaluinya, Ia sudah bisa menuai hasilnya.

“Saya mulai itu sekitar 4 tahun yang lalu, dengan berbekal keraguan, keraguan itu 50 persen ragu, 50 persen saya bangun keyakinan, artinya ya ragu ya nanam, Kemudian pada 2016 saya mencari bibit dengan cara browsing di google dan menemukan penjual bibit di Madiun. Bibitnya berupa katak dengan harga per kilogram Rp 70.000,” kata Heriyanto saat ditemui di kebunnya, Sabtu (24/04/2021).

 

KISAH PETANI PORANG DI BLORA YANG RAUB KEUNTUNGAN HINGGA RATUSAN JUTA RUPIAH
Heriyanto, petani porang

Sebelumnya, Heriyanto adalah seorang pengusaha briket ekspor dan ia juga memiliki kebun yang ditanami tanaman keras seperti durian, klengkeng dan tebu. Waktu itu, dengan satu kuintal katak (bibit porang) yang dibelinya, harga jual umbinya sekitar Rp 3.500 sampai Rp 4.000 perkilogram.

“Dengan angka Rp 70.000 saya pikir mahal, tapi saya iseng tanam, begitu tanam di kebun, karena isunya itu tanaman liar, ya sudah saya tanam liar. Alih-alih tumbuh sempurna, malah rumputnya yang subur. Begitu rumputnya subur, alhasil mengundang petani yang ingin mencari rumput,” ujar dia.

Banyaknya rumput membuat porang yang ditanam dibabat pencari rumput dan mindset pencari rumput yang menganggap porang merupakan makanan ular, maka hampir 90 persen tanaman porangnya gagal dipanen.

“Banyak orang menganggap porang itu makanan ular, di tahun pertama 90 % gagal. Jadi, itu yang tersisa 10 persen. Karena penasaran tahun kedua mencari bibit lagi, namun harganya sudah naik menjadi 130 ribu per kg, dua kali lipat dan barangnya tidak ada,” terangnya.

Karena tidak mendapatkan bibit, dia mengaku semakin penasaran. Hingga akhirnya dia merawat tanaman yang masih ada. Di tahun ketiga, dia mulai menanam besar-besaran dan mempelajarinya hingga berhasil.

“Dengan berbekal tahun kedua, saya kembangkan, selain panen kataknya yang menempel di daun. Saya juga panen umbinya yang ada di dalam tanah,” ujarnya di sela-sela menunjukkan letak umbinya.

Dirinya memprediksi harga katak di tahun ketiga akan mencapai 250-350 ribu rupiah perkilogram. Sedang umbinya, perkilogram bisa mencapai Rp 10.000 bahkan lebih.

“Sekarang ini katak sekilo fresh Rp 190.000. Nanti kalau sudah dikarantina sebulan itu bisa mencapai Rp250.000. Pas musim tanam bisa tembus di angka Rp500.000 per kg. Belum lagi umbinya yang saat ini mencapai Rp15.000 per kg dengan asumsi satu pohon umbinya mencapai 1.5 -5 kg,” ungkapnya.

Selain itu, menurut Heriyanto porang ini merupakan komoditas ekspor yang mempunyai kandungan glukoma yang cukup tinggi yang berbeda dengan glukosa pada karbo. Di Indonesia sendiri belum banyak yang mengetahui dan belum ada pabrik pengolahannya.

“Porang di Jepang sudah menjadi makanan pokok, diolah menjadi bahan mie shirataki. Sedangkan porang sendiri sekarang sudah menjadi emas hitam karena selain kataknya yang bisa dijual juga umbinya pun bisa dijual,” katanya.

Dia mengatakan, untuk satu pohon porang rata-rata mengahasilkan katak 10 buah dan dalam satu kilo sekitar 5-6 katak.

“Bisnis porang ini sudah merambah ke internasional dengan mengekspor porang ke luar negeri seperti Jepang, Korea, China, bahkan Eropa. Karena di Negara-negara itu porang sudah menjadi konsumsi wajib karena kandungan glukomanannya,” jelasnya

Maka dari itu, Heri yakin bisnis porang di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan masih menjadi primadona dan sangat potensial karena tidak mengganggu tanaman utamanya. (Spt)

  • Bagikan