fbpx

LPPNU TERUS KEMBANGKAN PADI ORGANIK DI WILAYAH BLORA

  • Bagikan
LPPNU TERUS KEMBANGKAN PADI ORGANIK DI WILAYAH BLORA
Penen perdana padi organik.

Blora- Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kabupaten Blora terus mengembangkan penanaman padi secara organik.

Sebelumnya, pada bulan November tahun lalu penanaman padi organik telah dimulai di Desa Bajo Kecamatan Kedungtuban. Kali ini pengembangan kegiatan yang sama dilakukan di Desa  Mendenrejo Kecamatan Kradenan.

Bupati Blora, Arief Rohman hadir langsung dalam panen perdana tersebut. Turut mendampingi Ketua PCNU Kabupaten Blora, perwakilan LPPNU, Forkopimcam dan MWCNU Kradenan.

Tak tanggung-tanggung, Bupati turun langsung ke sawah untuk memotong padi dan menggiling secara bergantian dengan para petani, Sabtu (31/07).

“Kami sangat mengapresiasi dan mendukung penuh upapa pengembangan pertanian organik ini. Nanti akan kita kumpulkan seluruh penyuluh pertanian dari dinas untuk bisa ikut fokus melakukan pendampingan pertanian organik secara masif bersama LPPNU dan MWCNU, di 16 Kecamatan se Kabupaten Blora,” kata Bupati.

Dikatakan Arief, hasil pertanian organik ini bagus dan menyehatkan. Dari segi harga jual juga lebih tinggi daripada hasil pertanian konvensional yang memiliki ketergantungan pada pupuk kimia.

“Tanah sawah kita kembali sehat alami, hasilnya juga bagus. Selain bebas pupuk kimia dan menyehatkan. Hasilnya juga lebih banyak dengan rasa yang lebih enak, nanti akan kita coba. Dengan pertanian organik ini maka kita tidak akan tergantung pada pupuk kimia yang sering langka. Karena petani bisa membuat pupuk sendiri dengan bahan alami yang ada di sekitar,” bebernya.

Sementara itu, Ketua PCNU Kabupaten Blora, Muhammad Fatah, mengaku antusias dari para petani sangat baik. Dirinya juga siap untuk mengembangkan hingga di 16 desa di Kabupaten Blora.

“Kita siap untuk membantu pengembangan hingga di 16 Kecamatan. Saat ini yang sudah melakukan selain Kedungtuban dan Kradenan, ada Sambong, Cepu, dan Banjarejo. Kedepan akan kita coba di Blora bagian barat seperti Kunduran, Ngawen, Todanan dan sekitarnya,” ucap Fatah.

Adapun Tri Wahyudi, salah satu warga Kradenan yang juga mencoba pertanian organik mengaku ada peningkatan hasil panen dari pertanian konvensional ke pertanian organik.

“Pertanian konvensional dengan pupuk kimia biasanya per hektar menghasilkan gabah 6-7 ton. Sedangkan pertanian organik ini bisa mencapai kurang lebih 8 ton, bahkan lebih jika tanahnya benar-benar kembali subur bebas dari unsur kimia. Yang ditanam ada Inpari 32 dan Sertani. Berasnya juga enak, pulen, harga jual lebih menguntungkan,” pungkasnya. (Jyk)

  • Bagikan