fbpx

NASIB PENJUAL GORENGAN HADAPI MUSIM PACEKLIK MINYAK

Menindaklanjuti hasil Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Operasi Lilin Candi Tahun 2021 dan Optimalisasi Penanganan Pandemi Covid-19, tertanggal 23 Desember 2021, Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Dindagkopukm) Kabupaten Blora, mengedarkan surat pemberitahuan kepada Para Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima (PKL) Kabupaten Blora untuk tetap menjaga kondusifitas selama momen tahun baru 2022.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di Alun-Alun Blora

Blora – Keresahan dihadapi penjual gorengan lantaran harga minyak goreng melambung tinggi jauh dari angka Harga Eceran Tertinggi (HET) dari ketentuan pemerintah. Apalagi hal itu merupakan salah satu dari kebutuhan pokok.

Musim paceklik minyak goreng juga berdampak pada banyak kalangan. Apa saja yang berhubungan dengan goreng-menggoreng tentu membutuhkan minyak goreng untuk mematangkan masakan.

“Minyak goreng akhir-akhir ini susah carinya, di toko-toko tidak ada. Toh misal ada, belinya tidak boleh semaunya dan telah ditentukan. Kadang di supermarket cuma dua liter, itu saja jika kesiangan tidak dapat,” ucap Andre, penjual gorengan di Jalan Pemuda, Blora, Senin (21/02).

BACA JUGA :  WARGA SAMBONG RELA ANTRE BERJAM JAM DEMI 1 LITER MINYAK GORENG

Sembari menggoreng gorengan, ia mengaku berbisnis ini sudah 11 tahun. Namun kini ia harus memutar otak di tengah langkanya minyak agar tetap berjalan dan masih mendapat keuntungan meski tidak sebanyak hari-hari sebelumnya.

“Harga minyak goreng masih naik terus lah, per liter bisa Rp20 ribu. Biasanya minyak goreng premium dijual sekitar Rp13 ribu per liter. Seharusnya diturunkan, dibikin normal dan barangnya ada,” ungkap Andre.

BACA JUGA :  SUDAH JATUH TERTIMPA TANGGA! POLEMIK MINYAK BELUM TUNTAS, KINI RAKYAT DIBEBANI HARGA BBM

Mau tidak mau, setiap hari ia mesti mencari minyak goreng untuk stok esok hari. Liter demi liter ia kumpulkan demi menjalankan bisnis yang ia jalani di pinggir jalan tengah kota yang tak jauh dari kantor Bupati Blora.

Hal serupa juga dialami penjual gorengan asal Banjarejo, Edi mengatakan, selain minyak langka, harga bahan baku pembuatan tempe dan tahu juga naik, tersebut membuatnya terpaksa menaikkan harga gorengan agar dapat keuntungan.

BACA JUGA :  MINYAK LANGKA, KELUH PELAKU UMKM TAK BISA PRODUKSI KRIPIK TEMPE

“Terpaksa dinaikkan mas, biasanya tempe goreng saya jual satunya Rp500, kalau harga tempenya naik gini, saya jual seharga Rp200 dapat tiga. Harga tempe tahu di pasar juga naik, biasanya tahu perikat Rp 6.000, sekarang jadi Rp 8.000,” terangnya. (Ary).