PERANG MANGKUNEGARA DI HUTAN BLORA

Pangeran Mangkunegara menduduki Pati, warga Cina di pesisir utara menyampaikan tanda bakti, berupa uang dan kuda, pakaian juga gula. Pasukan memyeberang ke timur menuju Loji Juana, tak ditemui pasukan Kompeni. Balatentara menjarah sampai ke pesisir wilayah Rembang, Kompeni yang berada di Loji Rembang menembaki dengan senapan juga meriam. Ribuan pasukan Mataram dipimpin Patih Danureja dan Raden Mas Ronggo Prawirodirjo, Van der Pol, Kapten Breiman dari Kompeni, bupati Mancanegara, prajurit Kasultanan, juga pasukan Bugis Bali, mengejar, berusaha mengepungnya dari arah belakang. 

 

PERANG MANGKUNEGARA DI HUTAN BLORA

Pusaka Mangkunegaran.

 

Mangkunegara bergerak ke arah timur, tinggal sejenak di Rembang, lalu ke arah selatan, mendaki gunung dan segera menyelinap di dalam hutan Blora. 

Hutan itu bernama Wanasela alias Selokepyak, terletak di perbukitan Prawata (Kendeng Utara) yang terjal dan berbatu, perbatasan antara Rembang dan Blora (Japah?). Kondisi hutan yang terjal, berbatu, juga ditumbuhi semak berduri (krapyak), membuat seluruh pasukan gabungan kelimpungan, sedangkan balatentara Mangkunegara, yang memang sudah terbiasa keluar masuk hutan Blora, lebih piawai dalam penguasaan medan laga. Bagaimanpun, perang dengan jumlah pasukan yang tak berimbang itu dimenangkan pihak Mangkunegara, bahkan komandan Kompeni Van Der Pol terbunuh. Mangkunegara mendapat sebutan gelar perang sebagai Alap-alap Sambernyawa.

Dalam Babad Kemalon (Pakunegara) jilid II, peristiwa itu terjadi pada tahun 1681 AD, atau 1756 M, dengan Sengkala Rupa Brahmana Angoyak Wani. Pasukan yang kalah perang berkumpul dan kembali menuju kota Rembang untuk menyusun strategi. Sedangkan pasukan Mangkunegara yang bercerai-berai, membunyikan gamelan tayub dan bedaya, sehingga berhasil bersatu kembali di atas gunung Kendeng. Mangkunegara sendiri harus terus bergerak, berputar-putar hutan jati Blora selama 7 hari, untuk kemudian mendengar kabar dari Raden Guntur Wiratmeja (Pangeran Anom, Pangeran Suryadikusuma), bahwa pasukan Kompeni kembali menabuh perang di gunung Kendil, Sangkrah (Kalinanas). Mangkunegara, dengan pasukan yang tersisa, dan hasil rampasan perangnya bergegas menuju hutan Kendeng Selatan, wilayah Jipang. 

Barangkali itulah sekilas kisah tentang Pangeran Mangkunegara, seorang yang dahulu pasti sangat berpengaruh di Blora, terutama pasca perjanjian Giyanti (1755 M), dimana Blora harus menjadi bagian dari Kasunanan Surakarta. Pangeran Mangkunegara memang ahli perang gerilya di hutan. Sementara di Blora, selain di hutan Selokepyak (Japah?), Mangkunegara juga berjuang di wilayah Lusi, Ksatriyan, Ngumbul, Tinapan dan masih banyak lainnya. Perjalanan itu hampir sepenuhnya berada di perbukitan Kendeng (Utara dan Selatan), menarik ikut serta orang-orang yang bimbang sekaligus tak peduli, atas kejelasan posisinya di bawah Kerajaan, atau, juga di bawah Kompeni. Sehingga, tempat-tempat itu merupakan wilayah perbatasan, antara Jipang-Blora, atau antara wilayah Pribumi dan Kompeni, juga antara Kasunanan Surakarta dan Kasultan Jogjakarta.

 

Tentang penulis: Totok Supriyanto adalah pemerhati sejarah dan budaya.

 

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

 

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan