SERUNYA BELAJAR LITERASI DI PINGGIR KALI

Kradenan- Menggeluti dunia literasi, idealnya harus dimulai dari usia dini. Lokasi yang menjadi tempat literasi haruslah nyaman, dan tenang. Sehingga, kegiatan ini dapat mencapai hasil yang maksimal.

Semangat ini tertanam betul di jiwa para anggota Komunitas Omah Sinau Srengenge, sebuah komunitas literasi yang dirintis Angkatan Muda Muhammadiyah Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora.

Ketua PC Pemuda Muhammadiyah Kecamatan Kradenan, yang juga merupakan penggerak Omah Sinau Srengenge, Rediyanto mengajak anak-anak kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Sumber berliterasi di pinggir Kali Wulung di Desa Sumber Kecamatan Kradenan, Blora.

 

Komunitas Omah Sinau Srengenge mengajak anak-anak belajar literasi di tepi Kali Wulung Desa Sumber Kecamatan Kradenan Kabupaten Blora

Komunitas Omah Sinau Srengenge mengajak anak-anak belajar literasi di tepi Kali Wulung Desa Sumber Kecamatan Kradenan Kabupaten Blora

 

“Kami membagi anak-anak dan duduk berkelompok. Pada tiap kelompok, disediakan beberapa buku bacaan yang menarik, baik berupa buku pengetahuan maupun fiksi,” ucap Rediyanto, Rabu (09/01).

Setelah membaca dan mendalami isi buku beberapa menit, secara bergantian anak-anak berdiri dan menceritakan isi buku yang ia baca. Anak-anak yang lain ikut mendengarkan.

“Kami ingin membiasakan anak-anak untuk terus belajar dimanapun berada, mengajak mereka untuk peduli dengan buku. Sekarang ini, meskipun di desa, pengaruh gadget dan teknologi lainnya luar biasa, kami  ingin mengarahkan anak-anak ini ke arah yang lebih positif,” imbuhnya.

Kegiatan Omah Sinau Srengenge sendiri tidak hanya di lembaga-lembaga Muhammadiyah, tetapi juga di lembaga-lembaga non Muhammadiyah seperti sekolah negeri.

Berkonsep moving library, Omah Sinau Srengenge menyediakan buku-buku bacaan, film-film edukasi, permainan serta pendampingan belajar.

Rediyanto mengaku, salah satu kendala untuk meningkatkan kemampuan literasi di pedesaan adalah minimnya sumber pustaka. Pihaknya menyadari, perlu dukungan dari banyak dermawan dan donatur pustaka untuk mengoptimalkan upaya ini.

“Kami ingin, meskipun di desa, kegiatan literasi besa terus berkembang. Kelemahan kami saat ini adalah minimnya buku-buku fiksi anak atau buku-buku anak non mata pelajaran. Mungkin ada donatur yang mau membantu, kami sangat bersyukur,” harapnya.

Salah satu siswa MIM Sumber, Mayang Jelita, mengaku senang dengan konsep belajar literasi di pinggir kali. Suasana alam terbuka, dan cara belajar yang tidak biasa membuatnya nyaman.

“Senang sekali belajar di alam terbuka seperti ini, nggak terus-terusan di kelas. Kami belajar, tapi tidak seperti belajar. Kalau seperti ini terus, saya  belajar pun semakin semangat,” ucapnya polos. (jc)

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Comments are closed.