TERNYATA, BANYAK SUNGAI BAWAH TANAH DI BLORA

Blora selalu mempunyai daya tarik bagi para peneliti baik dari komunitas pecinta lingkungan, lembaga maupun perorangan. Kekayaan alam Blora yang terus dikaji, kadang menemukan temuan yang mencengangkan.

 

Pandu Nusantara

Pandu Nusantara

 

Pada akhir 2009, Tim Vertebrata Museum Geologi Bandung bersama  peneliti dari Universitas Wollongong Australia, Dr Gert Van Den Bergh melakukan penelitian dan penggalian fosil gajah purba di Dukuh Sunggun, Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Kemudian, pada 2013 Tim Okupasi Balai Arkeologi Yogyakarta juga melakukan penggalian dan penelitian terhadap kerangka manusia prasejarah yang ditemukan di Goa Kidang, Kecamatan Todanan, Blora.

Selanjutnya, pada bulan Mei 2015, para peneliti dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) menemukan pola aliran sungai bawah tanah di Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan. Dimana wilayah tersebut merupakan daerah geologi mayoritas karst.

Kelima peneliti dari Unnes tersebut menyimpulkan, karena kawasan ini merupakan daerah geologi karst, maka berpotensi adanya aliran sungai bawah tanah. Tahapan demi tahapan menguatkan kesimpulan tersebut.

Tahapan dimulai dengan mengidentifikasi potensi pola aliran sungai bawah tanah di Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan. Dengan metode Very Low Frequency (VLF) mereka berhasil mengukur indikasi kontras anomali yang diduga berupa batuan berongga terisi air yang membentuk pola aliran sungai bawah tanah.

Metode VLF juga merupakan metode geofisika yang bertujuan mengukur daya hantar listrik batuan, yakni dengan meneliti sifat-sifat gelombang elektromagnetik sekunder. Gelombang sekunder ini merupakan hasil induksi gelombang elektromagnetik primer yang berfrekuensi sangat rendah, yakni 10 sampai  30 KHz. Rentang frekuensi tersebut dikelompokkan ke dalam VLC.

Kecamatan Todanan dipilih oleh Tim dari Unnes untuk melakukan penelitian dikarenakan di daerah tersebut banyak karst bebatuan. Pada umumnya karst tersebut memiliki adanya potensi aliran sungai yang diyakini  dijadikan sumber mata air bersih.

Setelah melakukan pengambilan data, tim melakukan prosesing dan interpretasi data. Menurutnya, dari hasil interpretasi didapatkan pola aliran bawah tanah antara kelima lintasan yang telah dilakukan pengambilan data di kawasan karst Todanan Kabupaten Blora. Pola aliran bawah tanah diduga alirannya menuju ke arah Timur dari muara sungai bawah tanah (Goa Macan).

Kawasan Karst

Blora adalah salah satu sebaran kawasan karst yang ada di Indonesia yang seluruhnya mencakup luas sekitar 15,4 juta hektar. Perkiraan umur dimulai sejak 470 juta tahun lalu sampai yang terbaru sekitar 700.000 tahun. Keberadaan kawasan karst di Blora ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan Blora pernah menjadi dasar laut, namun kemudian terangkat dan mengalami pengerasan. Wilayah karst biasanya berbukit-bukit dengan banyak gua.

Daerah karst memiliki ciri-ciri tertentu diantaranya, daerah tersebut berupa cekungan-cekungan, terdapat bukit-bukit kecil, sungai-sungai yang nampak di permukaan hilang dan terputus ke dalam tanah.

Selanjutnya, adanya sungai-sungai di bawah permukaan tanah, adanya sedimen lempung berwarna merah hasil pelapukan batu gamping, permukaan yang terbuka nampak kasar berlubang-lubang dan runcing.

Di kawasan karst Blora banyak dijumpai gua dan sungai bawah tanah yang juga menjadi pemasok ketersediaan air tanah yang sangat dibutuhkan oleh kawasan yang berada di bawahnya. Termasuk di dalamnya ketersediaan air tawar (dan bersih) bagi kehidupan manusia, baik untuk keperluan harian maupun untuk pertanian dan perkebunan.

 

Tentang penulis: Pandu Nusantara merupakan pegiat komunitas Go Green 99

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan